HomePilihan RedaksiKeikhlasan Meredakan Derita (Bag....

Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. Terakhir)

Budijono berhasil berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan pelaku. Tidak cukup sampai di situ, Budijono melakukan hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan. Dia memberikan beasiswa kepada anak mantan narapidana teroris. Tentu ini merupakan suatu hal yang cukup mengherankan. Bagaimana bisa seseorang yang telah menderita karena aksi teroris, justru mengayomi anak dari pelaku terorisme, meski berbeda peristiwa.

Budijono punya alasan tersendiri soal ini. Menurutnya, memberikan kesempatan kepada seseorang untuk menjadi manusia yang lebih baik sangatlah penting, tak peduli sekelam apa masa lalunya.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 1)

“Jadi, saya punya pemikiran begini, ya, kalau misalnya orang tersebut tidak kita kasih ruang untuk menjadi baik, jangan pernah berharap orang itu akan menjadi baik. Pemikiran saya sebenarnya cuma seperti itu saja, karena perbuatan jahat yang mereka lakukan itu belum tentu punya niat yang jahat,” ujarnya.

Budijono meyakini, bisa saja para pelaku itu tidak menyadari bahwa aksi yang dilakukannya salah. Mereka terhasut oleh ideologi ekstrem yang mendorongnya berbuat kekerasan dengan menggunakan agama sebagai alasan pembenar. Dalam pandangannya, bila para pelaku telah menjalani hukuman kemudian bertobat, masyarakat harus menerima kehadiran mereka.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 2)

“Kalau kita tetap menjauhi mereka, yang ada akan timbul sakit hati, dendam, dan akhirnya mereka akan benar-benar memusuhi kita dan akan membalas dendam, dan tidak akan pernah berhenti. Jadi, kalau kita tidak menciptakan rekonsiliasi, tidak mungkin akan selesai (masalahnya-red). Di agama saya ada ajaran kasih, yang mengajarkan untuk saling memaafkan,” kata Budijono.

Pria berkacamata itu mengaku tidak takut jika harus merangkul mantan teroris dan keluarganya, meskipun orang-orang di sekitarnya telah mengingatkan ‘jangan memelihara anak macan’. Namun, Budijono tetap teguh dengan keputusannya. Merangkul mantan penjahat bukan pertama kalinya dilakukan oleh Budijono. Sebelumnya, dia pernah mempekerjakan mantan narapidana perampokan yang sudah bertobat, tapi belum diterima oleh masyarakat. Budijono melihat mantan napi tersebut punya semangat, tapi tidak ada yang mau menerima keberadaannya.

Baca juga Pasang Surut Kehidupan Penyintas

“Saya tawarkan, kamu mau tidak kerja dengan saya? Kita dirikan perusahaan. Tapi kamu janji sama saya, bahwa kamu menyesal, berjanji menjadi orang baik, dan tidak menjadi kriminal lagi. Setiap kali dia emosi, saya selalu ingatkan soal janji tersebut. Akhirnya dia menjadi orang baik,” kenangnya.

Ditanya apakah Budijono takut dilukai kembali oleh mantan pelaku yang ia rangkul, Budijono hanya menjawab bahwa musibah adalah bagian dari takdir Tuhan. “Kalau sudah jadwalnya saya dibacok, saya takut atau tidak takut pun tetap akan dibacok. Kalau memang itu terjadi, berarti itu sudah menjadi bagian dari nasib saya. Tidak ada yang perlu disesalkan. Yang jelas, niat saya baik untuk dia, bukan mau memanfaatkan,” tuturnya.

Baca juga Ikhlas Menerima Suratan Takdir

Kisah Budijono menjadi teladan tentang bagaimana seorang manusia harus bersikap kepada sesama. Kita mungkin pernah disakiti dan dilukai oleh seseorang, tapi bukan berarti luka itu harus kita bawa sampai mati. Bersikap ikhlas dan berusaha memberikan kesempatan kedua bagi mereka adalah puncak tertinggi karakter agung manusia.

Baca juga Menepis Dendam Mengikis Trauma (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...