HomePilihan RedaksiPasang Surut Kehidupan Penyintas

Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Aliansi Indonesia Damai- Para korban yang terkena dampak serangan terorisme banyak yang mengalami kesakitan dan penderitaan berkepanjangan. Tidak hanya secara fisik tetapi juga mental dan bahkan ekonomi. Menjalani hidup dengan keterbatasan-keterbatasan tentu bukanlah perkara yang mudah. Mereka melewati pasang surut pemulihan diri. Meski demikian, mereka punya harapan untuk hidup bahagia dan menatap masa depan yang lebih indah.

Iswanto Kasman, korban bom terorisme di depan kantor Kedutaan Besar Australia delapan belas tahun silam, menuturkan bahwa dirinya terluka di bagian mata kanan yang mengakibatkan buta permanen. Gendang telinga di sebelah kiri bolong sehingga tidak bisa mendengar suara-suara tinggi. Di bagian tubuh yang lain, terdapat tiga puluh enam luka besar dan kecil.

Baca juga Ikhlas Menerima Suratan Takdir

Seiring waktu, masalah-masalah yang dirasakan makin meluas. Ia diliputi rasa cemas, gelisah, takut dan perubahan suasana hati. Masalah-masalah itu bermula pada 9 September 2004. Bom mobil meledak yang menewaskan belasan orang dan lebih dari 150 lainnya luka-luka. Di antara korban meninggal adalah para petugas keamanan Kedubes dan warga yang berada di sekitar lokasi ledakan. Semua warga Negara Indonesia.

Saat itu, Iswanto sedang bertugas sebagai sekuriti yang mengatur lalu lintas di depan kantor Kedubes Negeri Kanguru di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Sekitar pukul 10.30 WIB, sebuah mobil box berjalan “terseok-seok” dari arah utara dan berhenti dekat gerbang Kedubes. Iswanto berupaya mengarahkan mobil itu agar menjauhi gerbang. Benar saja, berjarak sekitar 15 meter dari pintu gerbang, mobil itu meledak. Suasana jadi kacau balau.

Baca juga Menepis Dendam Mengikis Trauma (Bag. 1)

Iswanto mendapatkan pertolongan pertama, meski tidak dengan mudah karena jumlah korban yang banyak. Ia dilarikan dari satu rumah sakit ke rumah sakit lain. Rumah sakit pertama tak mampu mengatasi luka yang dideritanya, lantaran pendarahan yang hebat di bagian matanya. Ia pun sempat kritis dan menjalani perawatan intensif selama lebih dari sebulan. Bahkan, ia harus dirawat di Rumah Sakit Mount Elizabeth Singapura.

Setelah bertahun-tahun, Iswanto mulai memulihkan mentalnya. Ia melakukan konseling ke Yayasan Pulih selama enam bulan. Perlahan ia belajar menjalani hidup menyesuaikan dengan satu mata. Ia berusaha bangkit di tengah keterbatasan karena harus tetap bekerja untuk menafkahi keluarganya. Dukungan dan support system keluarga menjadi penyemangatnya setiap kali ia merasa patah arang. Selain itu dukungan dari lingkungan sekitar, termasuk rekan-rekannya, turut membuatnya bangkit.

Baca juga Menepis Dendam Mengikis Trauma (Bag. 2-terakhir)

Dalam kegiatan-kegiatan AIDA, Iswanto selalu berpesan agar masyarakat luas, terutama generasi muda, mampu membentengi diri dari ideologi kekerasan. Sebab dampaknya sangat menyakitkan, terutama bagi korban yang luka-luka bahkan harus rela ditinggal oleh orang-orang tercintanya. “Terorisme merupakan tindakan kekejian dan kejahatan luar biasa terhadap kemanusiaan, baik untuk para korban bom dan keluarga pelaku sendiri,” kata Iswanto.

Ia pun mengajak publik luas untuk menjaga perdamaian, minimal di lingkungannya masing-masing. Dimulai dari sesuatu yang kecil, maka perdamain yang lebih luas akan terwujud juga. “Marilah menjaga perdamaian dengan menjadi duta damai,” ucap pria asli Wonogiri, Jawa Tengah itu.

Baca juga Pesan Pamungkas Korban Bom Kuningan (Bag. 1)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kebahagiaan Merayakan Idul Fitri

Aliansi Indonesia Damai- Syukur alhamdulillah, setelah dua kali merayakan Hari Raya...

Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Setiap tanggal 27 Rajab...

Ibroh dari Dialog Korban dan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagian orang mungkin memandang perjumpaan antara pelaku terorisme...

Refleksi Akhir Tahun Korban, Pelaku Terorisme, dan Nurani Kita

Oleh Ahmad HifniMahasiswa Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Menjelang akhir tahun ini,...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...