HomeBeritaMemahami Sejarah Membangun Kedamaian

Memahami Sejarah Membangun Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Umat muslim harus bisa memahami sejarah secara tepat agar tidak tersandera oleh semangat pertentangan dan permusuhan zaman lalu. Penafsiran sejarah yang kontekstual sangat penting  sebagai modal pembangunan perdamaian masa kini.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Guru Besar Sejarah Peradaban Islam UIN Sunan Ampel Surabaya, Syafiq Abdul Mughni, saat menjadi pembicara kunci dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama, yang digelar AIDA di Samarinda, Kalimantan Timur, akhir Mei 2023.

Baca juga Tak Lengah dalam Kedamaian

Tidak bisa dipungkiri bahwa sejarah perkembangan Islam pernah diliputi dengan peperangan. Pada zaman Nabi Muhammad SAW memang terjadi peperangan, namun itu dalam rangka pembelaan hak-hak kemanusiaan. Kemudian pada masa Al-Khulafaul Rasyidun yang dilanjutkan oleh Dinasti Ummayah, Abbasiyah, Usmaniyah, juga terjadi ekspansi militer.

”Tetapi itu terjadi dalam konteks dunia yang imperialistik. Sistem kekaisaran, imperialisme itu menjadi bentuk negara yang sangat umum. Sehingga tidak ada batas teritorial yang permanen. Setiap kekuasaan ingin memperluas kekuasaannya, ingin melakukan ekspansi. Kalau umat Islam tidak melakukan itu maka pasti akan digilas oleh kekuatan yang lain. Maka mau tidak mau melakukan hal yang sama untuk eksistensi daripada masyarakat Islam,” ujar Syafiq menerangkan.

Baca juga Membangun Budaya Berharap

Situasi sekarang telah berubah, setiap negara memiliki batas teritorial yang jelas, sehingga hukum internasional melarang ekspansi. Walhasil sejarah masa lalu tak bisa menjadi dalil bahwa kita harus memperluas kekuasaan. ”Kita harus kembali pada model khilafah sebagai bentuk (kekuasaan) yang ideal pada zaman sekarang, itu saya pikir pemahaman yang tidak betul,” ucapnya.

Lebih jauh, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu menjelaskan tentang Perang Salib yang terjadi lantaran kekuatan Islam dan Gereja memperebutkan Jerusalem dan sekitarnya. Fakta masa lampau tersebut tak bisa menjadi alat pembenaran untuk selalu bermusuhan dengan kelompok agama yang berbeda. Pasalnya situasi global telah jauh berubah.

Baca juga Risalah Islam dan Kehidupan yang Baik

Utusan Khusus Presiden RI untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-agama dan Peradaban itu mengaku telah bertemu dengan banyak tokoh lintas agama dan budaya dalam pertemuan-pertemuan internasional. ”Semua menyatakan bahwa mereka tidak ingin bermusuhan dengan umat Islam. Mereka menyatakan siap untuk memberikan dukungan terhadap eksistensi umat Islam di negara-negara mereka. Mereka sangat anti terhadap tindakan kekerasan yang dilakukan oleh orang lain terhadap umat Islam,” tuturnya menegaskan.

Kegiatan pelatihan ini diikuti puluhan tokoh agama dari pelbagai Ormas Islam dan pengurus dewan kemakmuran masjid di wilayah Kalimantan Timur. Selain Syafiq Abdul Mughni, AIDA menghadirkan sejumlah narasumber dari kalangan cendekiawan muslim, mantan pelaku terorisme, dan korban terorisme. [MSY-MLM]

Baca juga Tragedi Terorisme Luka Bangsa Indonesia

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...