HomeBeritaTragedi Terorisme Luka Bangsa...

Tragedi Terorisme Luka Bangsa Indonesia

Aliansi Indonesia Damai- Rentetan aksi kekerasan terorisme yang pernah terjadi di Indonesia menjadi sejarah kelam perjalanan bangsa Indonesia. Tak hanya mencederai para korban yang tak bersalah, tindakan terorisme juga mencerminkan dangkalnya pemahaman pelaku terhadap ajaran Islam yang sesungguhnya.

Demikian pernyataan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hisa, Pekanbaru, Riau, Abu Yazid, saat menjadi narasumber utama dalam Pengajian dan Diskusi Film “Tangguh”, Minggu (04/09/2022). Acara yang digelar AIDA di kompleks Pesantren Al-Hisa itu dihadiri puluhan santri, tokoh masyarakat, dan wali santri.

Baca juga Moderasi Beragama Tangkal Ekstremisme

Dalam paparannya, Yazid membagikan ibroh (pembelajaran) dari kisah film yang menceritakan kehidupan mantan pelaku terorisme dan korbannya. Menurut Yazid, pihak yang paling terdampak dari aksi-aksi terorisme justru mereka yang tak punya urusan dengan pelakunya. “Banyak orang tak bersalah terdampak, terkena ledakan. Banyak orang tidak tahu menahu, mereka terkena bom. Sungguh goresan mendalam terhadap bangsa Indonesia,” ucapnya.

Alumni kegiatan Halaqah Alim Ulama yang digelar AIDA di Pekanbaru beberapa waktu lalu itu menjelaskan, para pelaku terorisme terdiri dari berbagai latar belakang, termasuk orang yang berpendidikan. Meski demikian, doktrin teror tidak mengenal latar belakang. Orang yang berpendidikan tinggi pun bisa terpapar ideologi ekstrem lantaran tidak disertai pemahaman keagamaan yang kokoh dan benar.

Baca juga Menebar Perdamaian di kalangan Ulama Riau

“Para pelaku bukan orang bodoh. Ada yang cerdas, pintar, tapi bisa didoktrin oleh kelompok ekstrem. Setelah terpapar paham ekstrem, dia membakar ijazahnya dari SD sampai kuliah. Semua tidak ada artinya. Kita ini dianggap thagut, kafir, berhak diberantas, berhak dibunuh,” katanya.

Selain itu, Yazid juga berbagi pengalamannya pernah bertemu dengan sejumlah mantan pelaku terorisme yang dihadirkan AIDA. Banyak di antara mereka terpapar karena faktor guru dan keluarga, salah satunya para pelaku bom Bali yang masih memiliki ikatan keluarga. Mereka mampu mendoktrin anggota keluarganya untuk berjihad menegakkan negara berbasis agama. “Mereka ingin negara ini berganti negara Islam,” ujarnya.

Baca juga Islam Menghormati Hak Dasar Manusia

Mengambil ibroh dari kejadian-kejadian terorisme, Abu Yazid mengajak masyarakat untuk mendidik dan menyekolahkan putra-putrinya di lembaga pendidikan agama yang jelas seperti pesantren. Menurut dia, pemuda dan anak-anak menjadi salah satu target kelompok ekstrem untuk didoktrin paham terorisme. Pesantren dapat menjadi benteng pertahanan dari paham ekstrem, karena terbukti melahirkan generasi muda Islam Indonesia yang mampu menjaga perdamaian di tengah-tengah keberagaman Indonesia.

“Kalau anak-anak kita tidak dibawa ke lembaga pendidikan pesantren yang benar dan tidak diperkenalkan dengan cinta tanah air, maka akan berbahaya seperti mereka. Menganggap negara adalah kafir,” ujarnya menambahkan.

Baca juga Penyintas Terorisme Berkisah di Depan Ulama Riau

Di akhir paparannya, lulusan Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Pekanbaru itu mengajak masyarakat agar menjaga perdamaian di lingkungan sekitar. Bila ada konflik dan gesekan-gesekan, ia meminta tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. “Karena Rasulullah Saw dilempar batu, tapi tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” katanya memungkasi. [AH]

Baca juga Mantan Napiter Bertutur di Hadapan Ulama Riau

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....