HomeBeritaKeluarga Harmonis Kunci Terciptanya...

Keluarga Harmonis Kunci Terciptanya Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Kasih sayang di dalam keluarga dinilai menjadi faktor paling dominan yang mampu menjaga para anggotanya dari pengaruh paham kekerasan. Problem domestik bila tak kunjung dipecahkan bisa merusak kondisi perdamaian dalam skala luas.

Demikian Muhammad Miftahul Huda, Imam Besar Masjid Syaichona Cholil Pertiwi Samarinda, saat berbicara dalam Pengajian bertema “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang diselenggarakan AIDA beberapa masa silam. Ustaz Huda, sapaan akrabnya, mengangkat isu keluarga dalam kegiatan tersebut berkaca dari pengalaman sebagian mantan pelaku terorisme.

Baca juga Membentengi Generasi Muda dari Paham Kekerasan

“Persoalan kecil bila tidak di-manage secara baik maka akan membesar, bahkan bisa menyebabkan anak menjadi tidak betah di rumah sehingga mencari kenyamanan baru di tempat lain, dan ujungnya didoktrin oleh kelompok teroris,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Huda bukanlah pengandaian semata. Fakta pengalaman sejumlah orang yang pernah terlibat tindak pidana terorisme mengungkapkan bahwa perasaan kurang disayangi oleh keluarga mendorong mereka mencari sumber kasih sayang di luar. Tragisnya, mereka menemukan kasih sayang layaknya saudara dari kelompok yang berpemahaman ekstrem.

Baca juga Dinamika Hubungan Korban dan Mantan Teroris

Huda mencontohkan pengalaman hidup seorang mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, yaitu Ali Fauzi, yang ditemuinya secara langsung dalam kegiatan AIDA sebelumnya. Pria asal Lamongan, Jawa Timur tersebut, kata dia, mengakui bahwa awal dirinya terpengaruh propaganda terorisme lantaran faktor keluarga. Di usia yang masih belia Ali Fauzi dicekoki informasi oleh saudaranya tentang perjuangan membela agama hingga bergabung dengan kelompok pro-kekerasan.

Dari kasus yang dialami Ali Fauzi, Huda pun tidak bosan mengajak para jamaah Masjid Syaichona Cholil Pertiwi untuk mendidik generasi penerus dengan semangat perdamaian, baik di sekolah maupun di kampus. Sebab di zaman sekarang ini anak-anak sangat mudah terpengaruh paham kekerasan, katanya. Ia pun menengarai di antara para peserta Pengajian atau anak-anaknya bisa jadi telah terpapar paham kekerasan atau terorisme. Kalau tidak di forum kajian agama secara tatap muka, bisa jadi melalui forum daring.

Baca juga Dialog Santri dengan Tokoh Agama di Samarinda

“Paparan pahamnya mungkin bukan yang secara gamblang mengajak membuat bom atau merencanakan aksi teror, tapi berbentuk narasi biasa saja namun mengandung ajakan untuk meragukan keabsahan nilai atau norma yang berlaku di masyarakat,” kata dia.

Ustaz Huda kemudian mewanti-wanti betul para jamaah Pengajian agar senantiasa membina keluarga yang damai dan harmonis. Menurut dia, bila seseorang telah terpapar ekstremisme apalagi terorisme, tinggal menunggu waktu pada puncaknya akan melakukan kekerasan kepada orang lain atau membuat kerusakan terhadap tempat umum. Dia mengajak peserta Pengajian untuk menimba pelajaran berharga dari kisah korban aksi teror bom yang telah ditayangkan dalam acara tersebut.

Baca juga Wakil Ketua MUI Kukar: Tokoh Masyarakat Wajib Menjaga Perdamaian

“Jika sudah terjadi demikian, maka orang-orang yang menjadi korban mengalami penderitaan, keluarga korban yang ditinggalkan juga akan marah,” ungkapnya.

Pengajian di Masjid Syaichona Cholil Pertiwi digelar sebagai tindak lanjut dari Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Samarinda. Ustaz Huda sebagai alumni dari Pelatihan tersebut berbagi wawasan tentang pentingnya merawat perdamaian kepada para jamaah dan santri. [MLM]

Baca juga Menggemakan Semangat Perdamaian di Pesantren

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...