15/11/2023

Keluarga Harmonis Kunci Terciptanya Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Kasih sayang di dalam keluarga dinilai menjadi faktor paling dominan yang mampu menjaga para anggotanya dari pengaruh paham kekerasan. Problem domestik bila tak kunjung dipecahkan bisa merusak kondisi perdamaian dalam skala luas.

Demikian Muhammad Miftahul Huda, Imam Besar Masjid Syaichona Cholil Pertiwi Samarinda, saat berbicara dalam Pengajian bertema “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” yang diselenggarakan AIDA beberapa masa silam. Ustaz Huda, sapaan akrabnya, mengangkat isu keluarga dalam kegiatan tersebut berkaca dari pengalaman sebagian mantan pelaku terorisme.

Baca juga Membentengi Generasi Muda dari Paham Kekerasan

“Persoalan kecil bila tidak di-manage secara baik maka akan membesar, bahkan bisa menyebabkan anak menjadi tidak betah di rumah sehingga mencari kenyamanan baru di tempat lain, dan ujungnya didoktrin oleh kelompok teroris,” ujarnya.

Apa yang disampaikan Huda bukanlah pengandaian semata. Fakta pengalaman sejumlah orang yang pernah terlibat tindak pidana terorisme mengungkapkan bahwa perasaan kurang disayangi oleh keluarga mendorong mereka mencari sumber kasih sayang di luar. Tragisnya, mereka menemukan kasih sayang layaknya saudara dari kelompok yang berpemahaman ekstrem.

Baca juga Dinamika Hubungan Korban dan Mantan Teroris

Huda mencontohkan pengalaman hidup seorang mantan pelaku terorisme yang telah bertobat, yaitu Ali Fauzi, yang ditemuinya secara langsung dalam kegiatan AIDA sebelumnya. Pria asal Lamongan, Jawa Timur tersebut, kata dia, mengakui bahwa awal dirinya terpengaruh propaganda terorisme lantaran faktor keluarga. Di usia yang masih belia Ali Fauzi dicekoki informasi oleh saudaranya tentang perjuangan membela agama hingga bergabung dengan kelompok pro-kekerasan.

Dari kasus yang dialami Ali Fauzi, Huda pun tidak bosan mengajak para jamaah Masjid Syaichona Cholil Pertiwi untuk mendidik generasi penerus dengan semangat perdamaian, baik di sekolah maupun di kampus. Sebab di zaman sekarang ini anak-anak sangat mudah terpengaruh paham kekerasan, katanya. Ia pun menengarai di antara para peserta Pengajian atau anak-anaknya bisa jadi telah terpapar paham kekerasan atau terorisme. Kalau tidak di forum kajian agama secara tatap muka, bisa jadi melalui forum daring.

Baca juga Dialog Santri dengan Tokoh Agama di Samarinda

“Paparan pahamnya mungkin bukan yang secara gamblang mengajak membuat bom atau merencanakan aksi teror, tapi berbentuk narasi biasa saja namun mengandung ajakan untuk meragukan keabsahan nilai atau norma yang berlaku di masyarakat,” kata dia.

Ustaz Huda kemudian mewanti-wanti betul para jamaah Pengajian agar senantiasa membina keluarga yang damai dan harmonis. Menurut dia, bila seseorang telah terpapar ekstremisme apalagi terorisme, tinggal menunggu waktu pada puncaknya akan melakukan kekerasan kepada orang lain atau membuat kerusakan terhadap tempat umum. Dia mengajak peserta Pengajian untuk menimba pelajaran berharga dari kisah korban aksi teror bom yang telah ditayangkan dalam acara tersebut.

Baca juga Wakil Ketua MUI Kukar: Tokoh Masyarakat Wajib Menjaga Perdamaian

“Jika sudah terjadi demikian, maka orang-orang yang menjadi korban mengalami penderitaan, keluarga korban yang ditinggalkan juga akan marah,” ungkapnya.

Pengajian di Masjid Syaichona Cholil Pertiwi digelar sebagai tindak lanjut dari Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Samarinda. Ustaz Huda sebagai alumni dari Pelatihan tersebut berbagi wawasan tentang pentingnya merawat perdamaian kepada para jamaah dan santri. [MLM]

Baca juga Menggemakan Semangat Perdamaian di Pesantren

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *