HomeInspirasiAspirasi DamaiBelajar Bersyukur dari Kisah...

Belajar Bersyukur dari Kisah Korban Bom

Bersyukur bukanlah tentang mengabaikan penderitaan atau kehilangan yang dialami, tetapi lebih kepada menghargai setiap hal kecil yang masih ada. Seutas senyum dari kehangatan pelukan keluarga atau berupaya bersikap enjoy menjalani hidup meskipun dalam kondisi sulit dan banyak tekanan. Semuanya dapat menjadi alasan untuk bersyukur. Itu adalah salah satu kesimpulan yang saya ambil dari kisah para korban bom terorisme.

Ingat rasanya saat pertama kali saya berjumpa dengan para korban bom. Saya mencoba untuk mengakrabkan diri dengan bersenda gurau. Saya melihat para korban sangat asyik menikmati candaan, seolah tidak ada beban dalam pikirannya, seakan tidak pernah ada kejadian berat yang pernah menimpa mereka. Padahal musibah itu telah merenggut sebagian anggota tubuhnya, kariernya, atau bahkan orang yang mereka cintai.

Baca juga Aspirasi Damai Maulid Nabi

Pada lain kesempatan, saya mendengar langsung penuturan mereka yang berjuang keras untuk menjalani kehidupan secara normal setelah kejadian bom. Kisah yang membuat saya terdiam, sambil berbicara dalam hati, manusia macam apa mereka yang kuat sekali dengan ujian hidup yang begitu berat? Saya merasa tertampar karena kerap mengeluh dan merutuki nasib atas segala hal yang saya jalani dalam kehidupan.

Mereka bercerita bagaimana beratnya ditinggal suami akibat peristiwa kemanusiaan yang tragis sehingga harus menjadi orang tua tunggal bagi anak-anaknya yang masih kecil. Bagaimana hidup hanya dengan satu mata, bagaimana dengan tangan mereka yang tak bisa digunakan untuk mengangkat benda-benda agak berat, bagaimana mereka harus mengonsumsi obat-obatan secara rutin tanpa tahu kapan harus berhenti menjalani terapi medis seperti itu.

Baca juga Memahami Perundungan

Kisah para korban benar-benar sangat membuat saya tersadar bahwa kita dapat menemukan kekuatan dalam kelemahan, keindahan dalam kehancuran, dan harapan dalam kegelapan. Para korban bom teroris memberikan contoh nyata bagi saya bagaimana sikap bersyukur mampu menjadi pemantik untuk bangkit, sembuh dan pulih.

Marilah kita belajar dari kisah nyata para korban bom teroris. Bersyukur bukanlah pilihan yang mudah, tetapi merupakan keputusan untuk bisa bangkit dan terus maju. Dengan bersyukur kita tidak hanya memberikan penghormatan kepada mereka yang kehilangan, tetapi memberikan penghormatan bagi diri kita sendiri yang masih bisa bertahan hingga detik ini.

Baca juga Peace Food sebagai Upaya Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memahami Perundungan

Fenomena perundungan dengan kekerasan sangat marak terjadi, tak terkecuali di lingkungan...

Medsos untuk Perdamaian

Menjadi agen perdamaian di zaman ini sangat mudah dan murah tetapi...

Praktik-Praktik Jihad

Jihad sering diidentikkan dengan aksi kekerasan dan tindakan ekstrem. Namun sebenarnya...

Tips Bangkit dari Keterpurukan

Halo generasi tangguh. Sebelum bicara lebih jauh, kita harus tahu dulu...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...