HomeOpiniMengurai Rantai Kekerasan di...

Mengurai Rantai Kekerasan di Pesantren

Oleh Ayub Wahyudin,
Mahasiswa Program Doktoral UIN Walisongo Semarang & Ketua Prodi Akhlak dan Tasawuf Institut Studi Islam Fahmina, Cirebon

Kesalahan tata kelola dan kuatnya senioritas membuat praktik perundungan dan kekerasan di dunia pesantren masih kerap terjadi. Bagaimana mencegah terulangnya kekerasan di pesantren?

Setelah pertemuan bertema “Pendidikan Kesetaraan pada Pondok Pesantren Salafiyah (PKPPS)” yang digagas Kementerian Agama di Makassar, Sulawesi Selatan, Oktober tahun lalu, muncul optimisme mengenai tata kelola pesantren di Tanah Air. Dalam pertemuan itu, para pengelola pondok pesantren mendapat perspektif baru untuk membangun kesadaran mengenai pengelolaan pesantren yang sesuai dengan perkembangan zaman: berparadigma anti-perundungan dan kekerasan seksual, anti-ekstremisme, sekaligus mendorong pesantren sebagai pusat peradaban yang maju.

Baca juga Puasa, Kedewasaan, dan Korupsi

Namun, belum juga nilai-nilai itu terintegrasi secara luas, sebuah tragedi kekerasan di pesantren yang memakan korban jiwa kembali terjadi. Awal Maret lalu, masyarakat dikejutkan dengan tragedi tewasnya Bintang Maulana, santri yang diduga dianiaya sejumlah seniornya di Pondok Pesantren Tartilul Qur’an Al-Hanifiyyah, Kediri, Jawa Timur. Peristiwa ini mengingatkan kita pada tragedi serupa pada September 2022 yang menewaskan seorang santri Pondok Pesantren Gontor, Ponorogo, Jawa Timur.

Rentetan kasus ini memunculkan stigma buruk terhadap pesantren dalam dunia pendidikan Islam di Indonesia. Bahkan, di media sosial, banyak warganet yang seolah-olah menggambarkan pesantren sebagai tempat mencekam bagi para calon pencari ilmu (santri ataupun santriwati).

Rantai Perundungan di Pesantren

Berbagai peristiwa kekerasan tersebut jelas sangat bertolak belakang dengan upaya pesantren mencetak generasi berbudi pekerti luhur dan berakhlak mulia. Lalu apa penyebab masih terulangnya kasus perundungan dan kekerasan di lingkup pesantren.

Berdasarkan fakta dan penelusuran penulis, aneka kasus itu terjadi salah satunya akibat alih fungsi kepengurusan pesantren yang dibebankan kepada santri senior. Padahal bisa jadi mereka belum mumpuni secara mental dan emosional untuk dijadikan pengurus asrama atau berperan sebagai perpanjangan tangan kiai (pemimpin pondok pesantren). Santri yang dijadikan pengurus berisiko melakukan perundungan karena merasa punya status lebih tinggi dibanding para junironya. Kondisi ini dapat memicu perbuatan semena-mena.

Baca juga Putus Sekolah dan Pembangunan Berkelanjutan

Faktor kedua ialah rantai perilaku santri senior terhadap juniornya. Tradisi yang bersifat perundungan akan terus melekat dan menjadi tradisi turun-temurun. Tradisi buruk itu, seperti perilaku agresif dan merendahkan santri junior, justru dilanggengkan para santri senior yang menjadi pengurus pondok pesantren. Ketiga, aksi-aksi perundungan juga bisa dilihat sebagai cara menegakkan hierarki sosial di pesantren, terutama oleh para santri senior yang diberi mandat memberikan penghargaan (reward) atau hukuman (punishment) kepada santri baru atau junior.

Lingkungan pesantren yang kurang terawasi, ditambah aturan yang tidak berpijak pada pentingnya integrasi nilai-nilai anti-perundungan, menciptakan ruang bagi perilaku perundungan berkembang. Ketika tidak ada konsekuensi yang jelas bagi pelaku perundungan, mereka merasa bebas dan tidak terawasi.

Baca juga Aksi Perundungan Siswa Semakin Mencemaskan

Sementara itu, dari sisi korban atau para santri junior, ada rasa cemas dan ketakutan untuk melaporkan aksi perundungan itu. Sering kali pula ada kasus para santri yang menolak aksi perundungan justru mendapat ancaman dari kelompoknya. Akibatnya, mereka khawatir menjadi sasaran jika menentang atau menolak ikut serta dalam aksi perundungan.

Masalah lain adalah pendidikan karakter santri yang belum menjadi perhatian utama pengasuh pondok pesantren dan para kiai dalam mendidik santri. Mereka cerdas dalam mengatasi problem keagamaan, tapi belum tentu cerdas dalam menyelesaikan persoalan sosial, serta kurang memiliki empati dan rasa kemanusiaan.

Dari Senioritas Menuju Solidaritas

Mengatasi perilaku senioritas yang melegalkan tindakan kekerasan di pesantren merupakan tantangan yang membutuhkan pendekatan holistik dari berbagai aspek. Jika hal ini tidak dilakukan, petaka bagi dunia pesantren akan datang: masyarakat akan meninggalkan pesantren. Padahal kita tahu, sejak ratusan tahun lalu, pesantren terbukti menghasilkan generasi yang kompeten dan mampu menempati posisi strategis di berbagai lembaga negara ataupun lingkungan sosial masyarakat. Banyak lulusan pesantren yang aktif berpartisipasi dalam mendorong kemajuan peradaban Islam di dunia.

Capaian tersebut tentu tak bisa dianggap remeh. Karena itu, upaya membangun kesadaran di kalangan kiai, santri, dan berbagai elemen dalam sektor ini harus terus ditingkatkan. Upaya itu dapat dilakukan dengan mengukuhkan solidaritas yang memperkuat persatuan dan meningkatkan kekuatan kolektif antarsantri. Ketika santri merasa terhubung dan mendukung satu sama lain, mereka mampu mengatasi tantangan dan menghadapi perubahan dengan lebih efektif.

Baca juga Etika Penggunaan AI dalam Jurnalisme

Solidaritas antarsantri akan menghasilkan rasa saling peduli dan dukungan dalam situasi sulit. Ketika seseorang atau sekelompok orang mengalami kesulitan atau krisis, solidaritas memicu respons empati serta upaya bantuan dari santri dan pengurus yang lain. Hal ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan di mana para santri merasa didukung dan dilindungi, bukan sebaliknya.

Nilai-nilai solidaritas antarsantri juga akan mengurangi kesenjangan, yang dilakukan dengan mendorong pembagian sumber daya yang lebih adil dan inklusif. Ketika santri merasa terlibat serta bertanggung jawab terhadap kebaikan bersama, mereka cenderung bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang aman, inklusif, dan ramah bagi semua santri. Mereka juga harus mampu melihat kesamaan dan nilai-nilai bersama di antara perbedaan mereka. Dengan demikian, upaya mengatasi konflik dan membangun hubungan yang lebih harmonis dapat lebih mudah dilakukan.

Baca juga Zaman Ruwaibidhah

Mengubah persepsi dan sikap kalangan pesantren terhadap tradisi senioritas dan perundungan dapat dilakukan dengan membangun pendidikan keagamaan yang kental akan nilai solidaritas, yang meliputi empati, toleransi, dan pengendalian diri. Upaya mengubah pola pikir yang mendukung kekerasan penting dilakukan dengan pembinaan karakter yang memperkuat koneksi sosial dan meningkatkan resiliensi para santri terhadap konflik.

Partisipasi aktif para nyai di pesantren yang mewakili perempuan dan anak-anak dalam pengambilan keputusan serta pengembangan pesantren pun dapat membantu mengurangi tingkat kekerasan berbasis gender. Selain itu, pendidikan di pesantren perlu diarahkan pada keterampilan penyelesaian konflik yang damai, seperti komunikasi nonviolent dan mediasi. Program-program pelatihan dan pendampingan dalam penyelesaian konflik dapat membantu memperkuat kemampuan ini.

Tak adanya suasana “solider” (rasa senasib dan setia kawan) antarsantri menjadi salah satu faktor utama penyebab berbagai peristiwa-peristiwa kekerasan di pesantren. Kasus-kasus yang membuat masyarakat berang itu tak boleh terulang lagi.

*Artikel ini terbit di tempo.co, Selasa 26 Maret 2024

Baca juga Mengejar “Ketertinggalan” Pendidikan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...