HomeOpiniJadilah Guru yang Menyenangkan

Jadilah Guru yang Menyenangkan

Oleh: Endah Kumalasari,
guru MI Muhammadiyah Program Khusus, Kartasura, Sukoharjo

Sering kita mendengar pepatah tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. Bagaimana kita bisa menyayangi apabila tidak kenal terlebih dahulu? Bagaimana kita bisa mencintai apabila tidak menyayangi terlebih dahulu?

Pertanyaan-pertanyaan ini erat kaitannya dengan hubungan yang harus dibangun antara guru dan siswa. Terkadang siswa merasa berat menerima materi yang diajarkan guru karena mereka tidak menyukai guru tersebut.

Salah satu cara yang efektif agar bisa menyukai suatu pelajaran adalah dengan cara terlebih dulu mencintai guru yang mengajar mata pelajaran itu. Biasanya apabila siswa telah menyukai guru yang mengajar, secara tidak langsung pelajaran yang diajarkan juga akan disukai.

Baca juga Madinah Sumbu Peradaban

Materi yang diajarkan pun akan mudah diterima dan dimengerti, tetapi pada kenyataannya belum semua siswa mampu memahami dan menerapkan arti pepatah seperti yang disebutkan di atas.

Masih banyak yang menganggap guru adalah sosok yang tidak menyenangkan, bahkan menakutkan, sehingg sulit bagi mereka untuk menumbuhkan rasa suka dan cinta kepada gurunya itu.

Sebenarnya figur guru yang menyenangkan adalah harapan semua guru dan siswa karena guru yang menyenangkan pasti disukai dan dicintai siswa.

Baca juga Bahaya Laten Bullying di Sekolah

Tidak bisa dimungkiri bahwa untuk bermetamorfosis menjadi guru yang baik, menyenangkan, dihormati, dihargai, dan dicintai siswa itu bukanlah suatu yang mudah.

Seorang yang menjadi guru haruslah mempunyai kepribadian penyayang, sabar, hangat, tegas, luwes dalam bersikap, suka bekerja keras, serta mempunyai komitmen pada tugas mereka sebagai guru.

Guru yang baik bukanlah guru yang berfokus pada buku teks dan kurikulum, melainkan fokus pada kemampuan siswa. Guru harus mampu menyadari beragam cara belajar anak dan perbedaan kemampuan anak.

Baca juga Kebangkitan Digital Nasional

Dengan demikian guru mampu menjalankan berbagai metode yang beragam pula yang dapat mendorong siswa untuk belajar. Guru dapat dianggap sebagai seorang yang menyenangkan ketika bisa menguasai berbagai keterampilan.

Guru harus menguasai keterampilan sosial, emosional, maupun intelektual. Keterampilan sosial berarti kemampuan seorang guru melakukan interaksi dengan anak didik dan cara guru membentuk pola komunikasi dengan siswa.

Guru harus mampu menciptakan ikatan emosional dengan siswa agar siswa lebih menikmati proses pembelajaran dan pembelajaran menjadi bermakna.

Baca juga Kuliah Mahal di Kampus Negeri

Dalam hal emosional, guru harus mampu mengendalikan emosi. Jangan menjadi guru yang pemarah dan bersikap keras. Guru yang mudah marah dan mudah tersinggung dengan perilaku siswa akan membuat suasana di kelas menjadi tidak nyaman dan siswa menjadi tegang.

Hal ini berpengaruh pada daya nalar siswa dalam menerima materi pelajaran yang diberikan guru. Menjadi guru itu harus ramah, ceria, dan lemah lembut, terutama dalam mengajar.

Dengan bersikap lemah lembut tentu pembelajaran lebih menyenangkan dan menghasilkan pemikiran pada diri siswa bahwa guru tersebut menyengkan dan bersahabat.

Baca juga Menjaga Api Harapan di Pesantren

Di kalangan siswa tidak ada rasa takut atau khwatir katika ingin bertanya, berpendapat, atau mengutarakan berbagi hal yang bersifat pribadi kepada guru.

Hal berikutnya yang membuat guru akn dicintai siswa adalah guru harus memiliki kecerdasan intelektual. Guru yang cerdas pasti mampu menjawab dan menyelesaikan segala ketidaktahuan dan kebutuhan edukasi siswa.

Guru yang cerdas akan berimbas pada timbulnya rasa percaya, hormat, dan cinta dari diri setiap siswa kepada guru. Menjadi guru yang menyenangkan pasti membuat siswa senang belajar apa saja.

*Artikel ini terbit di solopos.com, Sabtu 18 Mei 2024

Baca juga Mengabaikan Surga

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...