HomePilihan Redaksi“Bertemu Sesama Korban Menambah...

“Bertemu Sesama Korban Menambah Semangat Hidup”

Aliansi Indonesia Damai- Tujuh warsa berlalu sudah sejak tragedi teror bom meledak di Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Namun, dampak yang diderita korban masih terasa hingga hari ini.

Salah seorang penyintas dari serangan teror tersebut menceritakan pengalamannya dalam sebuah kampanye perdamaian AIDA di Purwokerto, Jawa Tengah akhir Maret lalu.

Namanya Jihan Talib. Perempuan berdarah Arab itu diundang AIDA untuk berbagi kisah sebagai bentuk penyadaran kepada masyarakat tentang pentingnya melestarikan perdamaian dan menghindari paham kekerasan. Selain dirinya, diundang pula sejumlah orang yang senasib dengannya menjadi korban dari aksi terorisme.

Baca juga Naluri Menolong Sesama Insan

Jihan mengutarakan secara khusus perasaannya bila berkumpul bersama sesama penyintas. Baginya, sekadar bertemu dengan sesama korban untuk menjalin silaturahmi saja sudah memunculkan kelegaan dalam hati. Apalagi, menurutnya, bila berkesempatan untuk saling berinteraksi sesama penyintas.

“Kalau ketemu korban di kegiatan kayak gini tuh menambah semangat hidup,” ujarnya.

Baginya, bertemu sesama korban dan berbagi kisah menjadi metode healing atau penyembuhan mental tersendiri. Ada semacam rasa semangat yang muncul dalam dirinya. Jihan mengaku, mendengarkan kisah dan melihat kondisi korban lainnya membuatnya merasa bersyukur atas nikmat yang dia rasakan dalam hidupnya. Bila direnungkan, lanjutnya, ternyata banyak korban bom yang mengalami penderitaan lebih parah darinya, bahkan sampai kehilangan nyawa.

Baca juga Kedamaian di Dalam Diri

Tentang pengalamannya sendiri terkena ledakan bom, Jihan merangkai kisahnya seperti ini.

Pada tahun 2017 saat itu ia berkuliah di sebuah universitas swasta di daerah Kampung Melayu, Jakarta Timur. Dia mengambil kelas karyawan, di mana perkuliahannya dilangsungkan malam hari. Waktu itu memang dirinya memiliki kesibukan bekerja, dan sambil bekerja itu dia berkuliah untuk melanjutkan studi.

Pada malam nahas itu, 24 Mei 2017, sepulang kuliah ia menemani seorang teman melakukan pembayaran tiket kereta api di sebuah minimarket di sekitar Terminal Kampung Melayu. Suasana di sana malam itu tampak sejumlah anggota kepolisian yang menjalankan tugas pengamanan. Kegiatan pengamanan di wilayah Kampung Melayu tersebut diadakan lantaran akan dilalui iring-iringan pawai obor menyambut masuknya bulan Ramadan.

Baca juga Mensyukuri “Hidup Kedua”

Saat Jihan dan temannya meninggalkan minimarket lalu berjalan menuju halte, tiba-tiba terjadi ledakan di dekatnya.

“Kami jalan kaki menuju terminal. Setelah kita lewatin polisi yang sedang jaga-jaga itu, enggak lama ada ledakan. Semuanya gelap. Saya enggak bisa melihat apa-apa karena semuanya putih,” katanya.

Jihan terjatuh seketika. Ia bangkit lalu mencoba untuk lari namun terjatuh kembali. Kemudian, seorang polisi yang ada di lokasi membantunya berdiri dan memintanya untuk berlari. Jihan pun berlari dengan kondisi luka-luka di tubuhnya dan bajunya compang-camping efek ledakan bom.

Baca juga Mengikis Kebencian Menuai Perkawanan

Dalam situasi horor semacam itu, sebuah angkutan umum berhenti untuk menolongnya. Di dalam angkutan umum dia merasa kebingungan akibat syok terhempas ledakan bom. Dia meminta pengemudi angkot tersebut untuk mengantarnya menuju ke rumah. Ia berpikir untuk mengabari ibundanya terlebih dahulu, lantas pergi ke rumah sakit untuk menangani luka-lukanya.

“Ibu saya enggak ada di rumah. Saya ketemu sama tetangga, akhirnya dibawalah ke Rumah Sakit Premier Jatinegara,” ujarnya.

Sampai di sana ia tersadar rupanya banyak korban Bom Kampung Melayu mendapatkan penanganan darurat, termasuk dirinya. Jihan melihat sejumlah korban baik sipil maupun anggota polisi yang terdampak ledakan bom dengan berbagai macam luka. Jihan sendiri mengalami luka di tangan kanan dan kiri, punggung, kaki, bahkan gendang telinga sebelah kanannya pecah.

Baca juga Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 1)

Luka-luka di badan tersebut belum termasuk dampak psikis, yaitu trauma, yang juga dialami oleh Jihan. Trauma yang dideritanya adalah ketakutan melintas di tempat kejadian. Sampai berbulan-bulan dia mengaku memori kengerian tragedi bom menggelayuti pikirannya bila melewati kawasan Terminal Kampung Melayu.

Beberapa tahun berselang, Jihan mengaku luka-luka di tubuhnya berangsur sembuh. Dia pun perlahan berusaha bangkit, membangun semangat dan keberanian hidupnya setelah terpuruk akibat bom.

Namun, rupanya dia dihadapkan pada penyakit yang baru dia rasakan setelah terkena ledakan bom, yakni sakit kepala yang terkadang muncul dan cukup mengganggunya. Seorang dokter sempat menyebutkan bahwa sakit kepala yang dialaminya akibat dari benturan keras, namun hingga kini belum diketahui penyebab pastinya.

Baca juga Merajut Hubungan Menggenggam Harapan (Bag. 2-Terakhir)

“Saya sering merasakan sakit kepala yang luar biasa sakitnya. Terus intens, tiap hari nggak ada berhentinya di kepala bagian atas. Seperti tegang gitu.” Demikian ujarnya menggambarkan sakit yang dialaminya sebagai dampak jangka panjang Bom Kampung Melayu 2017.

Penderitaan lanjutan itu sampai memaksanya berhenti dari pekerjaan pada 2022 lantaran sakit kepala sungguh mengganggu kehidupannya. Tatkala sakit tersebut datang, semua pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya menjadi berantakan. Ia tidak lagi bisa produktif di tempat kerja.

Saat ini Jihan fokus menjalankan perannya sebagai ibu rumah tangga, mendidik putranya yang masih balita.

Baca juga Meresapi Hikmah di Balik Musibah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...