HomeOpiniAgustusan, Ada Pilu dalam...

Agustusan, Ada Pilu dalam Gelak Tawa

Oleh: Fuad Ariyanto
Wakil Pemimpin Redaksi Jawa Pos 2007–2008

Sepotong pesan iseng masuk grup WhatsApp komunitas minggu-minggu belakangan. Bunyinya: Selamat memperingati hari gang buntu nasional.

Meski hanya candaan, hal itu memang sebuah kenyataan. Tiap tahun pada Agustus, para pengendara motor atau mobil harus pandai-pandai memprediksi situasi jalan yang akan dilalui. Utamanya, jalanan kampung atau perumahan harus ditutup karena beberapa kegiatan. Mulai memperbarui cat berem, mempercantik kampung dengan lampu hias, memasang umbul-umbul dan bendera, mengadakan berbagai macam lomba, sampai mempersiapkan tirakatan. Itu semua –semua orang sudah tahu–dilakukan demi peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia tercinta. Di tempat-tempat tertentu digelar upacara. Dari kantor kecamatan sampai Istana Presiden.

Baca juga Pendidikan dan Pencegahan Perundungan Digital

Untuk lebih memeriahkan perayaan, digelar beragam lomba, utamanya bagi anak-anak dan balita. Keluguan dan kelucuan mereka cukup menghibur dan mengundang gelak tawa. Tidak hanya untuk anak dan balita, bapak-bapak dan emak-emak – dengan segala kelucuannya– juga bersemangat tampil dalam lomba. Untuk para senior itu, biasanya panitia memilihkan jenis lomba yang sesuai dengan usia mereka. Untuk bapak-bapak, ada sepak bola dengan kostum wajib: sarung atau daster. Mereka boleh memakai daster istrinya atau daster pembantunya. Yang jelas, tak boleh menggunakan daster baru.

Sedangkan bagi emak-emak, selain ada berbagai lomba individual, ada lomba secara tim: sepak bola. Bedanya, di tengah permainan ada break musik. Semua pemain wajib berjoget ria. Semua itu sekadar untuk lucu-lucuan, tentu bukan untuk prestasi.

Berbagai lomba, semisal panjat pohon pinang, lari karung, makan kerupuk, dan mengambil uang koin yang ditancapkan dalam buah labu bertabur tepung atau bedak dengan mulut, itu konon dilakukan sejak zaman penjajahan Belanda.

Baca juga Tahun Baru 1445 Hijriah Umat Islam Harus Berubah Nasib

Hanya, perayaan seperti itu tidak ’’dalam rangka’’ Hari Kemerdekaan RI, melainkan bergantung pada hajat para pejabat Belanda. Mulai ulang tahun, pernikahan, kelulusan, dan lain-lain. Yang jelas, tidak ada hajat khitanan.

Perayaan tersebut juga diselenggarakan pada Agustus. Tapi, bukan tanggal 17, melainkan tanggal 31 untuk merayakan hari ulang tahun Ratu Wilhelmina, ratu Belanda yang memerintah negeri itu pada 1890 hingga 1948.

Menurut seseorang yang hidup di salah satu kota kecil di Indonesia pada masa itu, meski hanya perayaan berupa hiburan, banyak polisi yang berjaga di tempat acara dan sekitar rumah tuan Walondo (Belanda).

Baca juga Oleh-Oleh Haji: Perjuangan tanpa Kekerasan

Mereka (polisi) konon berjaga untuk mengantisipasi serangan para pejuang kemerdekaan Indonesia yang selalu mencari waktu untuk bergerak.

Perayaan seperti itu, lanjut dia, biasanya memang digelar di tanah lapang di depan rumah besar tuan Walondo, sementara penghuninya melihat tontonan itu dari teras rumah ditemani berbotol wiski, brendi, dan sejenisnya. Ada juga apem dan berbagai jenis roti serta penganan lain.

Jika ada anak-anak berlarian mendekati teras, tuan Belanda itu melempar mereka dengan apem atau sepotong roti yang tentu menjadi rebutan anak-anak yang umumnya bertelanjang dada tersebut.

Baca juga Pesan Sam Altman bagi Pendidikan Indonesia

Anak-anak itu kemudian melakukan tabik (hormat dengan meletakkan telapak tangan di sisi kening, seperti militer) dengan mengucap, ’’Tabik, Tuan.’’ Biasanya tuan Belanda lantas melemparkan lagi apem, roti, atau sebiji permen (gula-gula).

Tuan Belanda mungkin bermaksud baik dengan perayaan-perayaan seperti itu. Selain hiburan untuk rakyat kecil, jajahannya, hal tersebut memupuk rasa kerja sama (gotong royong), kekompakan, dan kekuatan seperti dalam lomba panjat pohon pinang. Demikian juga jenis lomba-lomba yang lain, mengandung nilai filosofi positif.

Namun, beberapa kalangan menilai, lomba-lomba seperti itu dilakukan hanya untuk mengalihkan perhatian rakyat yang sedang berjuang demi kemerdekaan. Tentu jiwa pejuang tak membiarkan rakyat terlena. Apalagi jika bangsanya hanya diperlakukan sebagai bahan lelucon. Bangsa yang lucu.

Baca juga Haji dan Jihad Ekologis

Karena itu, sangat dianjurkan kepada panitia untuk –secara bertahap– menyelipkan –kalau tidak bisa menggantikan– jenis lomba lucu-lucuan tersebut dengan lomba yang lebih memicu kreativitas dan kecerdasan.

Tanpa lomba-lomba ’’tradisional’’ itu, suasana mungkin saja kurang seru. Tidak ada keseruan ketika melihat peserta panjat pinang melorot ke bawah. Atau kelucuan anak-anak dengan mulut menganga mencoba menggigit kerupuk yang digantung dengan seutas tali. Seru, lucu. Tapi, terselip rasa pilu.

Hanya untuk mendapatkan selembar kaus murah di pucuk pohon, harus diraih dengan susah payah. Rela tubuh berlepotan oli atau pelumas lain yang dioleskan ke batang pinang.

Baca juga Haji Mabrur, Haji Transformatif

Bahkan, ancaman patah tulang atau cedera bisa saja terjadi jika peserta paling bawah yang menjadi tumpuan pemanjat lain tak kuat menahan beban. Otomatis peserta lain di atasnya akan berjatuhan. Perjuangannya tak sebanding dengan nilai hadiah yang ingin diraih.

Panitia yang kreatif pasti bisa membuat lomba yang lucu, aman, dan cerdas. Seru, lucu, tanpa rasa pilu. Tanpa khawatir generasi mendatang menjadi bangsa yang lucu.

Lebih pilu lagi, sudah 78 tahun merdeka, tapi masih ada kelaparan di Papua Tengah sana. Bahkan, ada yang sampai meninggal dunia.Sementara di Jakarta dan di kota-kota lain ada banyak pesta gelak tawa. Uang negara jadi bancakan seperti duwite mbahe dewe. Sungguh tidak lucu. (*)

*Artikel ini terbit di jawapos.com, edisi Senin, 7 Agustus 2023

Baca juga Haji, Momentum Penguatan Moderasi Beragama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...