HomeInspirasiAspirasi DamaiPeace Food sebagai Upaya...

Peace Food sebagai Upaya Perdamaian

Ada istilah cukup baru dalam topik ketahanan pangan, yaitu peace food. Istilah ini merujuk pada inisiatif merawat perdamaian melalui ikhtiar menjaga ketersediaan pangan. Tujuannya adalah dengan tujuan menyatukan perhatian internasional dan pemangku kepentingan global dalam mengontrol situasi terkini di pasar pangan global.

Dalam tradisi Indonesia, peace food atau makanan perdamaian sudah diterapkan dalam kearifan lokal kita. Bedanya bukan untuk memastikan ketersediaan pangan, namun untuk perdamaian itu sendiri.

“Saya sering mengatakan bahwa jika politik terpecah, maka meja itu menyatukan orang-orang.” Ucapan itu dilontarkan oleh desainer makanan dan pendiri the Club des Chefs des Chefs, Gilles Bragard. Perkataan Gilles tersebut melatari semangat tradisi peace food dalam kebudayaan kita. Urusan makan memang sudah popular sebagai bagian pemersatu dan merajut perdamaian di Nusantara.

Baca juga Medsos untuk Perdamaian

Masyarakat Bugis melestarikan tradisi massiara’ saat hari raya Idul Fitri dan Idul Adha yang mewajibkan tiap orang yang datang ke rumah untuk makan bersama dengan pemilik rumah. Tradisi ini mengandung makna filosofis yaitu meningkatkan rasa persaudaraan antartetangga. Bukan tidak mungkin selama bertetangga kita jarang bertegur sapa karena kesibukan sehari-hari, sehingga duduk dan makan bersama akan merekatkan hubungan yang merenggang.

Di masyarakat Jawa, ada tradisi Nyadran yang kini popular menjadi istilah Nyadran Perdamaian. Laku peace food ini dipraktikkan di mana masing-masing warga desa membawa makanan dari rumah. Setelah itu warga berdoa bersama dan mengonsusi makanan yang dibawa secara bersama-sama. Laku ini bertujuan merekatkan dan membentuk ruang interaksi antarwarga sehingga melahirkan sikap berdamai, bersaudara, dan bersahabat.

Baca juga Praktik-Praktik Jihad

Menurut Alice Julier, sosiolog dari Universitas Massachusetts, Amerika Serikat, aktivitas makan bersama bisa mengubah perspektif terhadap ketidakadilan dan saling menghormati satu sama lain dalam pergaulan sosialnya. Pendapat Alice didukung oleh beberapa riset psikologi, bahwa makan bersama membangun ikatan kedekatan (bonding) antarindividu. Kedekatan yang berjalan positif akan meminimalisasi potensi konflik.

Studi juga menunjukkan bahwa waktu makan bersama menjadi salah satu cara untuk mencapai kebahagiaan, karena saat makan dan berkumpul dalam satu meja akan menghubungkan serta meningkatkan perasaan satu sama lain. 

Mentradisikan peace food

Tradisi peace food sangat layak dilestarikan, tidak harus menunggu momen tertentu. Misalnya dengan cara potluck yang mengharuskan setiap pesertanya berkumpul serta membawa makanan sendiri untuk disantap bersama. Biasanya, acara ini kerap dilakukan di tempat kerja atau dibarengi dengan piknik.

Baca juga Tips Bangkit dari Keterpurukan

Selain untuk membangun hubungan harmonis antarpekerja dan meningkatkan produktivitas kerja, penelitian mengungkapkan bahwa semakin sering orang makan bersama, semakin besar kemungkinan mereka merasa bahagia dan puas dengan hidupnya. Temuan Robin Dunbar dalam risetnya berjudul Breaking Bread: the Functions of Social Eating menemukan bahwa makan merupakan bentuk penting dari interaksi sosial yang positif. Makan bersama orang yang kita kenal meningkatkan perasaan kebahagiaan dan kepuasan dalam kehidupan, lebih percaya pada orang lain, lebih terlibat dengan komunitas lokal, dan memiliki lebih banyak teman yang dapat mereka andalkan untuk mendapatkan dukungan dalam menghadapi setiap masalah hidup.

Akhiran, menjaga perdamaian bisa dilakukan dengan cara sederhana yaitu memulai gerakan peace food (makanan perdamaian) dengan makan bersama keluarga, sahabat bahkan rekan kerja kita.

Baca juga Menghindari Marah kala Puasa

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...