HomeBeritaWakil Ketua MUI Kukar:...

Wakil Ketua MUI Kukar: Tokoh Masyarakat Wajib Menjaga Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Tokoh agama dan tokoh masyarakat memegang peran penting dalam melestarikan kedamaian. Terlebih dalam konteks masyarakat yang bineka, kesadaran serta peran para tokoh dinilai harus semakin dikuatkan.

Pesan tersebut mengemuka saat Roji’in, alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama, berbicara dalam acara pengajian bertajuk “Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur, Sabtu (15/7/2023) lalu.

Baca juga Menggemakan Semangat Perdamaian di Pesantren

Dalam kegiatan hasil kerja sama AIDA dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Kutai Kartanegara tersebut, para hadirin menyimak penuturan kisah korban dan mantan pelaku terorisme. Kisah dua pihak tersebut mengandung ‘ibroh atau pembelajaran yang berharga, khususnya seputar pentingnya menjaga kedamaian. Para korban adalah bukti nyata dampak aksi kekerasan yang dilatari pemahaman keagamaan yang sangat ekstrem. Sementara itu, testimoni para mantan pelaku menjadi wawasan baru bagi masyarakat agar terlindung dari paham ekstrem yang mengarah pada terorisme.

Roji’in menekankan bahwa tokoh agama dan tokoh masyarakat mesti terdepan menggawangi warganya dari pengaruh propaganda kelompok ekstremis. Jika tidak, bukan tak mungkin anggotanya terpapar paham ekstrem hingga merusak suasana damai yang ada di masyarakat.

“Tidak ada tempat yang benar-benar aman dari perekrutan kelompok teroris ini, termasuk di wilayah kita di Kalimantan Timur,” ujarnya.

Baca juga Semangat Perdamaian dalam Lirik Selawat

Lebih lanjut, pemuda yang akrab disapa Kang Ji’in ini mewanti-wanti masyarakat wabil khusus generasi muda agar ekstra waspada dalam berselancar di media sosial (medsos). Tak ubahnya sebuah kendaraan, medsos bisa memberikan kemanfaatan atau malah mencelakakan pemiliknya pada keburukan. Manusia sebagai pengguna medsos, katanya, harus selalu bijak dalam menerima segala hal yang berpotensi muncul. Terhadap konten medsos yang mengarah pada kekerasan, misalnya, nalar kritis harus dikedepankan agar tidak hanyut terbawa arus.

Dia menjabarkan, belajar dari pengalaman mantan pelaku terorisme, masyarakat, khususnya umat Muslim, mesti pandai dalam memahami konteks yang terkandung dalam teks agama. Ia mencontohkan teks sebuah hadis Nabi yang menyebutkan bahwa ‘siapa yang mengelola tanah yang mati, maka baginya tanah tersebut.’ Bila seseorang terpaku pada teks dan mengabaikan konteks, maka kecenderungannya hadis tersebut akan menimbulkan kekacauan di masyarakat. “Maka dari itu ulama berpendapat, baginya tanah tersebut namun bi idznil imam, harus seizin imam atau pemimpin, dalam hal ini pemerintah,” kata Wakil Ketua MUI Kukar tersebut.

Baca juga Tiga Faktor Penghambat Perdamaian

Ijtihad ulama semacam itu, lanjutnya, merupakan tawaran solusi yang kontekstual di masa kini. Bila teks hadis di atas dimaknai secara serampangan niscaya memunculkan konflik agraria di banyak tempat, di mana setiap orang bisa mengklaim milik orang lain dengan alasan mengelola lahan tersebut. “Jadi, yang dikedepankan adalah maqasid atau tujuannya. Kita ikuti pendapat ulama, kita maknai nash (teks) sesuai dengan maksud daripada nash tersebut,” ucapnya.

Menurut Roji’in, cara pandang serupa juga sesuai diterapkan dalam konteks berbangsa dan bernegara. Ia menerangkan pengalaman seorang mantan teroris yang menyesal telah berupaya merobohkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Setelah melalui dinamika perjuangan dan pemikiran, eksteroris tersebut menemukan titik kesadaran bahwa negeri ini telah mengakomodasi semangat agama. Dari itu, ia kini getol menyuarakan perdamaian sebagai langkahnya untuk melestarikan negeri tercintanya, Indonesia. [MLM]

Baca juga Mendorong Santri Melestarikan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....