HomeInspirasiAspirasi DamaiPertobatan Mantan Ekstremis untuk...

Pertobatan Mantan Ekstremis untuk Indonesia Damai

Indonesia, dengan segala kekayaan sumber daya alam, warisan budaya, keragaman suku dan pemeluk agama, kerap dihadapkan pada tantangan ekstremisme. Watak ekstremis yang menghalalkan segala cara, termasuk aksi-aksi kekerasan yang menumpahkan darah umat manusia, untuk mewujudkan niatnya tentu saja rawan mengancam kedamaian bumi pertiwi.

Namun ada fenomena positif yang terus berkembang yaitu pertobatan para mantan ekstremis. Ada dari mereka yang sekadar memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan jaringan ekstremisme dan kembali pada kehidupan normal. Sebagian lainnya melangkah lebih jauh untuk terlibat dalam kampanye-kampanye perdamaian dalam bingkai kebinekaan.

Baca juga Belajar Bersyukur dari Kisah Korban Bom

Salah satu yang penulis jumpai adalah Iswanto, mantan anggota Jamaah Islamiyah (JI) Wakalah Jawa Timur dan bergabung sebagai kombatan dalam konfik komunal di Ambon dan Poso. Bertahun-tahun ia berpeluh di medan kekerasan atas nama jihad. Tetapi melalui proses yang panjang dan berliku, ia mantap untuk meninggalkan kelompok ekstrem. Kini Iswanto menekuni profesi sebagai guru dan pedagang kelontong, selain aktif dalam kampanye-kampanye perdamaian bersama AIDA. “Sekarang saya memahami, mencintai negara juga bagian dari iman. Tidak perlu berperang, karena itu menyakiti sesama,” ujarnya dalam salah satu kegiatan AIDA.

Keinsafan Iswanto atas kekeliruan pemahaman dan aksinya di masa lalu mendorongnya untuk menempuh jalan tobat. Proses ini menunjukkan adanya dorongan perubahan dan kesediaan yang kuat untuk meninggalkan jalan kekerasan demi mewujudkan visi Indonesia yang damai.

Baca juga Aspirasi Damai Maulid Nabi

Langkah pertama dalam proses ini adalah kesadaran akan dampak destruktif ekstremisme terhadap masyarakat. Mantan ekstrimis yang mengalami pertobatan umumnya menyadari bahwa intoleransi dan kekerasan tidaklah membawa kebaikan, melainkan merugikan bangsa dan negara.

Dalam perjalanan pertobatan, pendekatan rehabilitasi memegang peranan penting. Program pendidikan dan pembinaan membantu mantan ekstremis memahami nilai-nilai toleransi, keadilan, dan kerja sama. Proses ini tidak hanya membantu mereka mengatasi trauma masa lalu, tetapi juga membentuk pemahaman yang lebih mendalam tentang keberagaman dan pentingnya dialog antartokoh masyarakat.

Baca juga Memahami Perundungan

Peran masyarakat dalam mendukung pertobatan tidak dapat diabaikan. Dengan menyambut mantan ekstremis kembali ke dalam lingkungan sosial, masyarakat telah membuka peluang bagi perubahan positif. Ini menciptakan lingkungan yang suportif atas reintegrasi dan memupuk semangat perdamaian.

Pertobatan mantan ekstremis juga membuktikan bahwa kesalahan masa lalu tidak harus menjadi kutukan abadi. Indonesia dapat menjadi saksi bagaimana individu-individu yang terdahulu terlibat dalam kegiatan ekstrem dapat berkontribusi positif dalam membangun harmoni sosial.

Baca juga Peace Food sebagai Upaya Perdamaian

Sejatinya Indonesia memiliki landasan filosofis dan budaya yang kuat untuk mendukung pertobatan mantan ekstremis. Dukungan ini adalah investasi jangka peanjang untuk kedamaian dan stabilitas serta memastikan bahwa setiap warga negara dapat hidup dalam kerukunan tanpa adanya ancaman kekerasan, terutama berbasis ideologi.

Pertobatan mantan ekstremis juga merupakan cerminan harapan bagi Indonesia yang damai. Dengan memahami dan mendukung proses ini kita dapat bersama-sama melangkah menuju masa depan yang penuh toleransi dan rasa saling menghargai, sekaligus menjadikan Indonesia sebagai contoh bagi negara-negara lain yang menghadapi tantangan serupa. [CN]

Baca juga Medsos untuk Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...