HomeOpiniRekayasa Media Sosial yang...

Rekayasa Media Sosial yang Meresahkan

Oleh: Heryadi Silvianto
Dosen Universitas Multimedia Nusantara

Kebebasan berpendapat dan berekspresi yang diberikan media sosial telah menjadi salah satu kelebihannya. Namun, di sisi lain, kebebasan tersebut juga rentan dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang ingin menyebarkan informasi palsu atau rekayasa.

Dalam era di mana informasi dapat dengan mudah disebarkan melalui media sosial, kita sering kali disajikan dengan berita atau cerita yang kemudian terbukti hoaks. Fenomena ini menjadi semakin meresahkan karena tidak hanya mengganggu ketertiban masyarakat, tetapi juga merugikan individu yang menjadi korban fitnah.

Baca juga Perspektif Korban untuk Dialog Damai Israel-Palestina

Tiga kasus menarik perhatian baru-baru ini, yaitu hoaks kekerasan seksual di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY); kebohongan Alika, seorang ibu di Cianjur yang mengaku kehilangan bayinya; dan kasus hilangnya Dokter Qory di Bogor, menggambarkan bagaimana rekayasa di media sosial menimbulkan informasi palsu, polarisasi opini, dan kerusakan reputasi pihak tertentu. Epik buruk seperti ini terus muncul di ruang publik media sosial kita, diekspos, dan dikonsumsi oleh banyak orang.

Ironisnya, seluruh kejadian tersebut tidak melibatkan sistem yang rumit dan ketat seperti Skandal Cambridge Analytica yang melibatkan propaganda komputasional, kampanye disinformasi yang didukung negara, dan teknologi canggih yang dapat memanipulasi audio dan video secara dramatis.

Baca juga Menjadi Guru yang Humanis

Hal ini membuktikan bahwa sistem kekebalan publik terhadap rekayasa media sosial sangat mudah ditembus dan mudah teperdaya, terutama jika berkaitan dengan kasus yang memancing emosi, tidak bermoral, dan memicu hubungan yang tidak setara.

Kasus hilangnya Dokter Qory di Bogor juga menunjukkan bahwa fenomena rekayasa bukan hanya terjadi secara tidak sengaja, melainkan juga sering kali merupakan tindakan yang dilakukan secara sadar. Pun demikian motif di balik pembuatan rekayasa bervariasi, mulai dari dendam pribadi hingga keinginan untuk mendapatkan perhatian dari publik.

Reaksi publik

Peristiwa-peristiwa rekayasa menunjukkan bahwa rekayasa di media sosial bukanlah hal yang langka. Bahkan, fenomena ini semakin marak terjadi. Lantas, mengapa saat ini orang secara sadar sering membuat rekayasa di media sosial?

Ada beberapa faktor yang dapat menyebabkan terjadinya rekayasa di media sosial. Faktor pertama, motif ekonomi. Banyak orang yang memanfaatkan media sosial untuk mencari keuntungan, salah satunya dengan menyebarluaskan informasi palsu atau rekayasa. Informasi palsu atau rekayasa tersebut dapat digunakan untuk menarik perhatian publik sehingga dapat mendongkrak popularitas atau keuntungan finansial.

Baca juga Mitos Literasi dan Kemalasan

Faktor kedua adalah motif psikologis. Beberapa orang membuat rekayasa di media sosial untuk memenuhi kebutuhan psikologis mereka, seperti kebutuhan akan perhatian, pengakuan, atau bahkan keserakahan. Mereka merasa bahwa dengan membuat rekayasa, mereka akan mendapatkan perhatian dari orang lain atau bahkan mendapatkan keuntungan materi.

Faktor ketiga adalah motif politik. Rekayasa di media sosial juga dapat digunakan untuk kepentingan politik. Informasi palsu atau rekayasa tersebut dapat digunakan untuk menyerang lawan politik atau untuk menyebarkan propaganda.

Penguatan fondasi literasi

Fenomena rekayasa di media sosial ini tentu memiliki dampak negatif. Informasi palsu atau rekayasa dapat menimbulkan keresahan di masyarakat, bahkan dapat menyebabkan terjadinya konflik. Selain itu, rekayasa di media sosial juga dapat merusak kepercayaan publik terhadap media sosial sebagai sumber informasi.

Dahulu, kita melihat media sosial sebagai alternatif dari pengaruh dominan media massa tradisional yang dapat mengatur agenda (agenda setting) dan pembingkaian informasi (framing). Namun, seiring berjalannya waktu, kita melihat bahwa situasi serupa juga dapat terjadi di media sosial.

Baca juga Tentang Literasi

Bahkan, dalam beberapa kasus, situasinya dapat menjadi lebih buruk dan memprihatinkan. Hal ini disebabkan tidak ada proses verifikasi dan kurasi informasi yang berjenjang di media sosial. Lebih lanjut, algoritma yang digunakan sering kali mengarah kepada penyebaran informasi yang sama dan terkadang terdapat penggunaan akun artifisial yang seolah-olah merepresentasikan suara masyarakat di media sosial.

Seperti dalam kehidupan nyata, kita menghadapi informasi yang salah dan diskriminasi di dunia digital. Perbedaannya adalah bahwa jenis konten ini dapat menyebar jutaan kali lebih cepat, dan apa yang mungkin terlihat seperti tindakan yang tidak berbahaya ternyata dapat menyebabkan kerusakan massal.

Baca juga Menggunakan Teknologi AI bagi Kemanusiaan

Sikap kritis dan kemampuan untuk menguji informasi menjadi sangat penting dalam konteks ini. Kita tidak boleh terjebak dalam euforia tanpa mempertimbangkan secara hati-hati informasi yang kita terima. Hal ini penting untuk menjaga ketepatan dan keandalan informasi yang kita peroleh dari berbagai platform, termasuk media sosial.

Dalam menghadapi perubahan dalam paradigma informasi, sikap kritis dan literasi media menjadi fondasi penting untuk membentuk masyarakat yang cerdas dan berdaya. Sebagai masyarakat, kita perlu mengembangkan keahlian dalam memilah informasi, mengidentifikasi sumber yang dapat dipercaya, dan melakukan verifikasi sebelum menyebarkan atau mengambil tindakan berdasarkan informasi tersebut. Dengan demikian, kita dapat lebih terhindar dari risiko terjebak dalam ruang informasi yang sempit dan memahami dengan lebih baik dinamika di sekitar kita.

Baca juga Integritas Santri dan Mandat Keadaban Publik

Kita perlu meningkatkan kesadaran kita akan bahaya rekayasa di media sosial. Kita harus lebih selektif dalam menerima informasi yang beredar di media sosial. Kita juga perlu berhati-hati dalam menyebarkan informasi, terutama informasi yang bersifat sensitif.

*Artikel ini terbit di Harian Kompas, edisi Jumat, 1 Desember 2023

Baca juga Perundungan, Otak, dan Karakter Pelajar

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...