HomeOpiniPerspektif Korban untuk Dialog...

Perspektif Korban untuk Dialog Damai Israel-Palestina

Oleh: Faruq Arjuna Hendroy
Sarjana Hubungan Internasional UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Konflik Israel-Palestina telah menyita perhatian masyarakat dunia. Perang yang dimulai sejak tanggal 7 Oktober 2023 ini telah mengakibatkan kerusakan yang sangat fatal terutama di kubu Palestina. Perang ini akan terus berlanjut karena belum ada keinginan dari kedua belah pihak untuk melakukan gencatan senjata permanen. Itu artinya jumlah korban yang berjatuhan rawan terus bertambah.

Konflik antara Israel dan Palestina ini telah terjadi hampir satu abad. Keduanya belum menemukan titik temu penyelesaian konflik. Upaya perdamaian sebenarnya terus digalakkan oleh komunitas internasional, utamanya oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan sejumlah aktor global power lainnya, namun selalu berujung nihil. Eskalasi konflik terus terjadi tanpa memerhatikan nasib warga sipil yang paling terdampak dari perang.

Baca juga Menjadi Guru yang Humanis

Di sisi Palestina, yang dalam hal ini adalah Hamas, ingin merebut kembali tanah mereka yang terus menyempit akibat aneksasi Israel. Terlebih lagi, Hamas menganut ideologi one state solution, di mana kelompok ini hanya ingin wilayah dari sungai Jordan hingga Laut Mediterania semuanya kembali menjadi milik Palestina seperti dahulu. Atas dasar itu, Hamas mengambil sikap yang lebih ‘radikal’ dalam melawan Israel ketimbang kolega mereka, Fatah, di Tepi Barat.

Sementara dari sisi Israel, mereka juga punya keinginan untuk menjadi satu-satunya pemilik Yerusalem dan wilayah sekitarnya itu. Sejak memenangkan pertempuran melawan bangsa Arab di tahun 1948, 1967, dan 1973, Israel seolah berada di atas angin. Israel merasa seperti pemenang, dan oleh karena itu terus berupaya memerluas pemukiman ke wilayah-wilayah yang masih dikuasai Palestina. Kecaman datang dari berbagai pihak, namun Israel cuek. Aktivitas perluasan pemukiman ini juga yang terkadang memicu gesekan antara petugas keamanan Israel dengan warga sipil Palestina, yang kemudian bereskalasi menjadi perang besar.

Baca juga Mitos Literasi dan Kemalasan

Dialog antara Arab dan Israel sudah beberapa kali diupayakan di tengah-tengah konflik yang terjadi. Yang paling terkenal contohnya Perjanjian Camp David tahun 1978. Lebih kurangnya, perjanjian ini berisi normalisasi hubungan Israel dengan Mesir, pasca-jatuhnya Semenanjung Sinai ke Israel pada perang 1973. Perjanjian Camp David ini juga menjadi pembuka terjalinnya hubungan diplomatik resmi antara Mesir dan Israel, dan menjadi perjanjian damai pertama Israel dengan tetangga Arabnya. Namun perjanjian ini tidak bisa membawa kedamaian penuh di Timur Tengah, karena hanya didasarkan atas kepentingan negara terkait, yang dalam hal ini Mesir dan Israel itu sendiri.

Lalu dialog damai terulang kembali dalam wujud Perjanjian Oslo I pada tahun 1993 dan Perjanjian Oslo II pada tahun 1995. Sebenarnya titik terang perdamaian di Timur Tengah mulai tampak lewat dua perjanjian ini. Kurang lebih perjanjian ini memberikan hak hidup bagi dua entitas, yaitu Israel dan Palestina untuk hidup berdampingan sebagai dua negara berdaulat. Baik Israel maupun Palestina harus mulai mengakui eksistensi masing-masing. Israel saat itu mau menarik pasukannya dari Gaza dan menahan diri memprovokasi Palestina.

Baca juga Tentang Literasi

Sebagian warga Israel maupun Palestina sempat merasakan kebahagiaan sesaat, di mana mereka bisa merasa aman dari gempuran rudal dan roket yang bisa mengancam nyawa mereka kapan saja. Dialog damai itu juga memberikan secercah harapan akan adanya masa depan yang lebih damai antara kedua kubu. Namun lagi-lagi, ada saja pihak yang mengacaukan upaya perdamaian, terutama setelah Yitzak Rabin, Perdana Menteri Israel yang menginisiasi perdamaian itu dibunuh oleh ekstremis Zionis.

Konflik ini terus berlanjut karena pihak-pihak yang terlibat terus mengejar kepentingan sendiri-sendiri. Padahal konflik bisa saja diselesaikan dengan baik, jika pihak-pihak yang bertikai mau menggunakan perspektif korban. Perspektif korban sangat penting dalam membuka mata siapa pun bahwa perdamaian itu sangat penting.

Baca juga Menggunakan Teknologi AI bagi Kemanusiaan

Perspektif korban akan mendorong kita untuk menghargai tiap-tiap nyawa manusia, terlepas dari apa pun suku, ras, dan agamanya. Perang, sebaliknya, hanya akan mengakibatkan hancurnya kemanusiaan, hanya untuk melampiaskan ego sesaat.

Perspektif korban memang selalu dikesampingkan dalam isu Palestina-Israel ini, meskipun korban inilah sebenarnya yang paling merasakan dampaknya. Mayoritas para korban di sini adalah warga sipil. Bahkan dalam konteks Gaza saja, setengah dari para korban itu adalah anak-anak yang sebenarnya masih punya masa depan. Terlebih lagi, cukup sedih rasanya ketika melihat orang-orang menangis histeris karena kehilangan orang terkasih akibat perang yang berlarut-larut.

Baca juga Integritas Santri dan Mandat Keadaban Publik

Kehilangan ini seharusnya tidak terjadi, jika para pengambil kebijakan dari kedua kubu (Israel dan Palestina/Hamas) lebih memprioritaskan nasib warga mereka yang akan menjadi korban, kalau perang dilakukan. Perspektif korban akan mendorong para pengambil kebijakan di kedua kubu untuk mengedepankan nasib warga sipil mereka masing-masing, sehingga mereka bisa mencari alternatif lain dalam penyelesaian masalah. 

Penulis jadi teringat sebuah pepatah; “Orang tidak akan mengerti bagaimana perasaan kita sebelum mereka juga merasakan hal yang sama.” Dalam kasus konflik Israel-Palestina, korban atau pun keluarga di kedua sisi sebenarnya sudah sama-sama merasakan penderitaan selama bertahun-tahun. Teriakan untuk dapat hidup bertetangga secara damai menggema dari para pencari perdamaian di kedua kubu.

Masalahnya, perspektif korban selalu kalah oleh kepentingan dan ego. Penulis yakin, jika perspektif korban ini diutamakan, dialog atau perjanjian antara keduanya akan menghasilkan perdamaian abadi, tidak seperti yang sudah-sudah. Semoga

Baca juga Perundungan, Otak, dan Karakter Pelajar

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru)...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...