HomeOpiniIntegritas Santri dan Mandat...

Integritas Santri dan Mandat Keadaban Publik

Oleh: Ahmad Tholabi Kharlie
Guru Besar dan Wakil Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta; Pengurus LPTNU PBNU

Resolusi jihad yang diserukan Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari pada 78 tahun silam relevan untuk terus dikontekstualisasikan dalam menghadapi tantangan bangsa saat ini. Kompleksitas masalah publik yang masih menjadi pekerjaan rumah, seperti ekonomi, politik, hukum, dan sosial, merupakan tantangan besar yang harus diselesaikan bersama-sama, termasuk di dalamnya para santri dan kelompok masyarakat lainnya.

Santri sebagai entitas bangsa yang lahir dari rahim pondok pesantren telah mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang cukup pesat. Pondok pesantren juga turut melakukan inovasi menghadapi pelbagai kebutuhan dan tantangan zaman yang kian dinamis. Data Kementerian Agama, pada 2022/2023 tercatat sebanyak 39.043 pondok pesantren di Indonesia dengan 4,08 juta santri. Data ini menunjukkan bahwa pondok pesantren dan para santrinya menjadi modal sosial yang sangat strategis untuk menopang pembangunan bangsa ini.

Baca juga Perundungan, Otak, dan Karakter Pelajar

Dalam perjalanannya, santri terus mengepakkan sayap dan membentuk jejaring intelektual yang tersebar di pelbagai institusi pendidikan tinggi, baik dalam maupun luar negeri. Selepas dari jalur pendidikan tinggi, santri kemudian menyebar di pelbagai jejaring profesi yang beragam, baik di institusi pemerintahan maupun partikelir. Tanpa disadari, jejaring intelektual santri terbentuk secara alamiah dan organik yang berangkat dari titik yang sama, yakni pondok pesantren.

Sejatinya, pondok pesantren telah meletakkan fondasi intelektual, moral, dan cara pandang bagi para santri. Pelajaran tersebut menjadi modal penting bagi santri dalam menapaki fase kehidupan berikutnya, terkhusus di ruang publik. Kapasitas dan peran yang dimiliki santri menjadi modal penting dalam melahirkan keadaban publik. Pada poin ini, santri menjadi bagian solusi atas ragam kompleksitas persoalan kebangsaan yang sangat dinamis dan kian kompleks.

Jejaring moral santri

Santri yang berasal dari ekosistem jalur ilmu dan pendidikan tradisional sejak awal fokus mengkaji kekayaan khazanah keilmuan Islam klasik karya para intelektual muslim dan ulama yang sangat otoritatif dari masa ke masa (turats). Pelbagai kajian keilmuan tersebut membentuk cara pandang dan perilaku santri. Sikap toleran dan kesahajaan menjadi ciri utama kehidupan santri yang membekas dan membentuk sikap dan cara pandang santri.

Tidak hanya aspek keilmuan, para santri juga dibekali nilai-nilai luhur yang diajarkan melalui kurikulum dan aktivitas pembelajaran di lingkungan pondok pesantren yang diharapkan menjadi modal penting dan distingtif bagi santri ketika berkiprah di tengah-tengah masyarakat. Pesantren mengenalkan dan mengajarkan tentang pentingnya menebar kasih sayang antarsesama (rahmah), cinta Tanah Air (hubbul wathan), keseimbangan (tawazun), moderasi (tawasuth), dan sebagainya.

Baca juga Membumikan Kebudayaan Inklusif

Dari sisi metode pembelajaran dan model kelembagaan, pesantren juga mengalami perkembangan yang sangat dinamis. Santri tidak sekadar mengkaji khazanah keislaman tradisional yang dikenal dengan model pesantren salaf, tetapi tak sedikit pesantren mengombinasikan model pembelajaran tradisional dengan pembelajaran materi pendidikan formal, mulai tingkat dasar, menengah, hingga pendidikan tinggi, seperti keberadaan Ma’had ‘Ali, model perguruan tinggi yang didirikan di lingkungan pondok pesantren. Adaptasi pondok pesantren dengan model pendidikan formal ini sama sekali tidak mengurangi identitas, distingsi, dan otentisitas pesantren.

Galibnya santri menempuh pendidikan di pondok pesantren hingga jenjang SLTA atau madrasah aliyah. Kemudian melanjutkan studinya di perguruan tinggi keagamaan (Islam) atau perguruan tinggi umum, bahkan tidak sedikit yang memilih melanjutkan studi ke luar negeri. Aktivitas intelektual santri di perguruan tinggi, dengan demikian, secara alamiah telah melahirkan jejaring santri di lingkaran elite intelektual. Dari perguruan tinggi inilah santri kemudian memasuki ranah publik dan memainkan peran-peran strategisnya, baik pada institusi pemerintahan maupun lembaga swasta.

Baca juga Memastikan Dukungan Terbaik di Ruang Pendidikan

Jejaring santri di pelbagai sektor publik tersebut idealnya membentuk mata rantai yang menguatkan bangunan keislaman dan kebangsaan secara simultan. Nilai-nilai keislaman yang sarat moral dan integritas tersebut menjadi koridor moral bagi santri di ruang publik, baik di lembaga pemerintahan maupun di lembaga swasta. Pada titik yang ideal, jejaring santri ini membentuk jaringan moral yang melahirkan keadaban di ruang publik. Nilai-nilai yang ditempa selama di pesantren membentuk sistem moral yang kuat sekaligus menjadi agen diseminasi kebaikan ke ruang publik.

Jangkar keadaban

Santri dengan tempaan moralitas dan integritas yang berbasis pendidikan keagamaan yang kuat di pesantren menjadi modal sosial untuk melahirkan keadaban di ruang publik. Seperti dalam pandangan Vladimir Ivanovich Vernadsky (1863-1945) melalui gagasan era noosphere menyebutkan, kecerdasan sosial berupa pikiran dibentuk melalui sistem pendidikan yang mampu mengendalikan perkembangan sosial. Evolusi sosial dan alam, kata Vernadsky, dikendalikan berdasarkan kecerdasan sosial dan pendidikan (Alexander Egorychev, Lev V Mardakhaev, dan Anna Ahtyan, 2017).

Sistem pendidikan yang diterapkan di pondok pesantren yang menitikberatkan pada pendidikan moral, sikap, dan lelaku sejatinya dapat menjadi jangkar tumbuh dan berkembangnya keadaban di ruang publik. Membentuk ruang publik yang beradab dibutuhkan dalam menghadapi kompleksitas masalah yang muncul di tengah publik.

Baca juga Generasi Digital Harus Melakukan Detoksifikasi Teknologi

Persoalan publik yang hingga kini masih mendera dan karena itu menjadi pekerjaan rumah kita bersama, seperti: masalah ekonomi, sosial, politik, budaya, hukum, dan masalah lainnya, membutuhkan komitmen moral dari pelbagai pihak. Posisi dan peran santri yang tersebar di ruang publik idealnya mampu memosisikan diri sebagai pendulum bagi lahirnya keadaban di ruang publik.

Pesan penting resolusi jihad dari Hadratussyeikh KH Hasyim Asy’ari adalah perihal komitmen kebangsaan berbasis spirit keagamaan untuk menjaga dan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Perlawanan santri terhadap kolonial Belanda saat itu didasari pada spirit kecintaan terhadap negeri dengan mempertaruhkan jiwa dan raga. Tekad dan semangat itu semata-mata didasari pada nilai-nilai keadaban yang dimiliki para santri melalui doktrin ”cinta Tanah Air sebagai bagian dari manifestasi keimanan” (hubbul wathan minal iman).

Baca juga Melampaui Bayang-bayang Pendidikan

Untuk menjaga kedaulatan negara, dengan demikian, keadaban publik menjadi keniscayaan yang harus selalu diarusutamakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kompleksitas masalah kebangsaan dan kenegaraan yang muncul belakangan tak lain karena telah terjadi defisit keadaban di ruang publik. Selamat hari santri, jayalah negeri dengan moralitas santri!

*Artikel ini terbit di Kompas.id, edisi Minggu, 22 Oktober 2023

Baca juga Mewaspadai Konten Kotor Content Creator

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...