HomeBeritaPenyintas: Kita Harus Memikirkan...

Penyintas: Kita Harus Memikirkan Masa Depan

Aliansi Indonesia Damai- “Ada hal yang lebih penting daripada kita bermarah-marahan. Kita harus memikirkan masa depan.”

Kalimat di atas diungkapkan oleh Ni Luh Erniati, seorang penyintas aksi teror bom yang terjadi di Bali pada 12 Oktober 2002 silam. Erni, sapaan akrabnya, menyampaikan pesan tersebut pada awal November 2023 lalu dalam kegiatan kampanye perdamaian AIDA di SMAN 3 Bogor, Jawa Barat. Kegiatan dikemas dalam bentuk Dialog Interaktif: “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh.” Tidak kurang 51 siswa dari berbagai kelas dan organisasi siswa di sekolah tersebut hadir sebagai peserta aktif.

Baca juga Siswa SMAN 2 Bogor: Jangan Puas dengan Satu Sudut Pandang

AIDA berikhtiar membekali para peserta dengan wawasan cinta damai di tengah maraknya kasus-kasus kekerasan, termasuk yang dilakukan oleh kelompok ekstrem. Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan kisah-kisah korban aksi terorisme dan mantan pelaku terorisme yang sudah bertobat. Erni mewakili dari pihak korban, sedangkan dari pihak mantan pelaku terorisme dihadirkan Iswanto, seorang mantan anggota kelompok terorisme asal Lamongan, Jawa Timur.

Erni, sapaan akrab Ni Luh Erniati, berkisah tentang kebangkitannya dari keterpurukan akibat tragedi teror bom yang menimpanya hingga menewaskan suami. Tak berhenti di situ, ia bahkan berbagi kiat bagaimana dirinya ikhlas memaafkan para teroris, terutama mereka yang telah insaf dari dunia kekerasan. Dalam kesempatan yang sama, Iswanto membeberkan pertobatannya dari jalan ekstremisme. Keduanya, Erni dan Iswanto, menjadi cerminan penyintas dan mantan pelaku terorisme yang kini bahu-membahu mengampanyekan perdamaian dan semangat ketangguhan kepada pelajar bersama AIDA.

Baca juga Kepsek SMAN 2 Bogor: Nilai Perdamaian Perlu Ditanamkan sejak Dini

Usai paparan, peserta diberikan kesempatan untuk berdialog dengan mereka. Seorang siswa bertanya kepada Erni terkait resep membuat hati lapang agar bisa memaafkan orang yang berbuat jahat. Siswi Kelas XI SMAN 3 Bogor tersebut mengaku salut kepada Erni lantaran sebagai korban mampu mengontrol mental untuk memaafkan bahkan bekerja sama dengan mantan pelaku terorisme. Ia menyebut ketangguhan yang ditunjukkan Erni adalah sesuatu yang mengagumkan.

Menanggapi siswi tersebut, Erni pun menceritakan awal mula bertemu dengan mantan pelaku. Ia menekankan bahwa rekonsiliasi yang terbina di antara dirinya dan mantan pelaku terorisme merupakan proses yang tidak instan. Terjadi proses saling mendengarkan kisah utuh masing-masing pihak sebelum akhirnya benar-benar menyatu menyuarakan perdamaian, atau disebut Tim Perdamaian AIDA.

Baca juga Makna Ketangguhan Menurut Pelajar SMAN 28 Jakarta

“Kemudian dia menyesal, benar-benar meminta maaf. Dari situ saya bisa menerima meskipun berproses beberapa kali kegiatan bersama AIDA,” ujar ibu dua anak ini.

Rupanya perkenalan tidak hanya berakhir di sana. Dalam satu kesempatan Erni berkunjung ke kediaman mantan pelaku. Erni pun menyiapkan diri untuk bisa kuat dan tegar bersilaturahmi dengan mantan pelaku beserta keluarganya. Kekhawatiran dan keraguan yang sempat muncul pun sirna saat kedatangannya disambut hangat oleh mantan pelaku dan keluarganya. Dari momen kunjungan tersebut muncul rasa persahabatan antara keluarga Erni dan keluarga mantan pelaku.

Baca juga Menepis Kekerasan di Madrasah

“Dari sana persahabatan saya dan keluarganya terjalin. Makanya saya bilang jangan balas kekerasan dengan kekerasan. Kekerasan itu kita balas dengan kasih. Dengan kita berbaik hati, otomatis orang akan berbaik hati pula,” kata Erni.

Pada akhir sesi. Erni menguatkan kembali pesannya kepada para siswa peserta Dialog Interaktif tentang pentingnya berlapang dada. Sikap luhur tersebut, kata dia, mampu melindungi diri untuk tidak larut dalam dendam dan keputusasaan, serta mendorong untuk membuat masa depan menjadi lebih baik. [MSH]

Baca juga Generasi Tangguh SMK Islamiyah Ciputat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal,...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...