HomeOpiniGejolak Agustus dan Ujian...

Gejolak Agustus dan Ujian Kerukunan Bangsa

Table of contents [hide]

Oleh Adib Abdushomad, Kepala Pusat Kerukunan Umat Beragama Kementerian Agama RI

Artikel ini pernah dimuat di Kompas.id pada 06 September 2025

Gelombang demonstrasi besar yang melanda Indonesia pada pekan terakhir Agustus 2025 tidak muncul dari ruang hampa. Aksi massa yang menelan korban jiwa dan menyebabkan kerusakan di berbagai kota itu merupakan puncak dari akumulasi keresahan sosial, ekonomi, dan politik yang telah lama terpendam. Kekecewaan masyarakat terhadap tingginya biaya hidup, gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK), serta kebijakan pemerintah yang dinilai tidak berpihak kepada rakyat menciptakan situasi yang rapuh dan mudah tersulut.

Dalam kondisi yang sudah panas itu, satu peristiwa tragis menjadi pemicu besar. Seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan, meninggal setelah dilindas kendaraan taktis Brimob. Insiden ini segera mengubah arah dan dinamika protes. Semula, massa memusatkan perhatian pada kebijakan DPR dan pemerintah. Namun, setelah tragedi tersebut, kemarahan publik meluas menjadi tuntutan keadilan terhadap aparat keamanan. Gelombang protes pun membesar, bergeser dari depan Gedung DPR ke markas Brimob dan kantor kepolisian di berbagai daerah.

Selain faktor insidental tersebut, cepatnya eskalasi demonstrasi juga tidak lepas dari beberapa persoalan struktural. Pertama, kepongahan sejumlah anggota DPR dalam merespons protes rakyat telah menambah bara di tengah api. Pernyataan yang dianggap meremehkan penderitaan masyarakat memperlebar jarak psikologis antara rakyat dan wakilnya di parlemen. Padahal, di level institusi setinggi DPR, seharusnya komunikasi publik dijalankan dengan empati dan kepekaan moral, bukan dengan sikap yang menyinggung.

Baca juga Menjaga Kerukunan Bersama

Kedua, kondisi ekonomi rakyat yang tengah sulit semestinya tidak dibarengi dengan kebijakan yang membebani. Kenaikan pajak yang diberlakukan bersamaan dengan rencana kenaikan tunjangan DPR menciptakan kesan ketidakadilan yang mendalam. Di satu sisi rakyat diminta menanggung beban ekonomi, di sisi lain para elite politik justru memperjuangkan fasilitas tambahan. Kontras ini menjelma sebagai simbol jurang ketidakpedulian elite terhadap penderitaan publik.

Ketiga, adanya kesenjangan ekonomi yang begitu besar antara rakyat kecil dan para pejabat negara semakin memperkuat rasa frustrasi. Data perbandingan menunjukkan penghasilan rata-rata masyarakat yang setara upah minimum regional (UMR) berpuluh kali lipat lebih kecil daripada gaji, tunjangan, dan fasilitas pejabat, baik anggota DPR maupun direksi BUMN. Kesenjangan yang mencolok ini bukan sekadar menjadi persoalan angka, melainkan juga masalah keadilan sosial yang dirasakan langsung oleh rakyat.

Situasi kian memburuk karena demonstrasi yang awalnya damai berubah menjadi kerusuhan. Gedung DPRD di Makassar dan Gedung Negara Grahadi di Surabaya dibakar, fasilitas publik dirusak, dan bentrokan dengan aparat berlangsung berhari-hari. Selain korban jiwa, kerusuhan ini juga menimbulkan guncangan ekonomi. Nilai tukar rupiah melemah terhadap dollar AS, indeks saham jatuh, sementara harga emas melonjak akibat meningkatnya kepanikan investor. Gambaran ini menunjukkan bahwa gejolak politik tidak hanya berdampak pada stabilitas keamanan, tetapi juga langsung menghantam sendi-sendi ekonomi masyarakat.

Baca juga Wakil Ketua MUI Kukar: Tokoh Masyarakat Wajib Menjaga Perdamaian

Latar belakang yang kompleks ini diperumit dengan munculnya dugaan keterlibatan faksi-faksi elite politik yang menunggangi aksi. Beberapa analisis menilai bahwa kekerasan yang terarah, terutama pada institusi kepolisian, bukan semata-mata luapan spontan massa, melainkan bisa jadi bagian dari dinamika perebutan pengaruh di kalangan elite. Dengan demikian, demonstrasi Agustus 2025 tidak hanya berbicara tentang keluhan rakyat, tetapi juga membuka tabir tentang rapuhnya konsensus politik nasional.

Gejolak ini dengan jelas menguji kerukunan sosial bangsa. Aksi solidaritas yang semula digerakkan oleh mahasiswa, buruh, dan pengemudi ojek online berpotensi berubah menjadi konflik horizontal jika tidak dikelola dengan bijak. Di titik inilah pentingnya menempatkan kerukunan umat dan nilai kemanusiaan sebagai fondasi utama agar perbedaan pandangan dan ekspresi politik tidak terjerumus pada pertikaian sosial yang lebih luas.

Gejolak demonstrasi Agustus 2025 memperlihatkan betapa cepat emosi publik dapat meledak ketika ketidakadilan ekonomi dan kepongahan politik bertemu dengan insiden tragis. Dalam teori sosiologi agama, Émile Durkheim menegaskan bahwa agama berfungsi menjaga kohesi sosial melalui nilai, ritual, dan solidaritas kolektif. Pandangan ini relevan dengan konteks Indonesia: ketika ruang politik penuh ketidakpastian dan ekonomi menekan rakyat, agama dapat menjadi kanal peredam emosi sekaligus pengikat masyarakat agar tidak tercerai-berai oleh konflik.

Baca juga Menumbuhkembangkan Budaya Damai

Namun, fungsi sosial agama tidak otomatis bekerja. Ia memerlukan ruang dan dukungan negara untuk tampil sebagai instrumen pencegah konflik. Sayangnya, pola yang sering terlihat justru reaktif: tokoh agama baru diminta bicara ketika kerusuhan sudah terjadi. Padahal, langkah yang lebih penting adalah dukungan negara terhadap aktivitas tokoh dan lembaga keagamaan jauh sebelum krisis pecah. Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), program Desa Sadar Kerukunan, dan dialog lintas iman yang selama ini ada seharusnya diperkuat secara berkesinambungan.

Akan tetapi, budgeting kerukunan ini tidak bernasib baik sebagaimana Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi justru mengalami dampak efisiensi sebagaimana terlihat dari pemotongan bantuan operasional FKUB hampir 40 persen secara nasional, sehingga ruang perjumpaan tokoh dan umat beragama mengalami penyumbatan signifikan.

Data menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menaruh kepercayaan tinggi kepada tokoh agama. Survei Litbang Kompas (2023) menempatkan tokoh agama sebagai salah satu figur publik paling dipercaya, jauh di atas politisi dan partai. Kepercayaan ini adalah modal sosial besar yang seharusnya digunakan negara untuk meredam keresahan rakyat. Jika tokoh agama diberi ruang sejak awal untuk menyalurkan aspirasi dan menguatkan solidaritas, kemungkinan ledakan emosi publik dapat ditekan.

Prioritas pembangunan

Demonstrasi Agustus juga memberi pelajaran bahwa kerukunan tidak boleh diperlakukan sekadar sebagai ”penjaga damai” ketika krisis, tetapi harus menjadi strategi pembangunan nasional. Negara-negara maju menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi hanya kokoh jika ditopang modal sosial berupa rasa saling percaya dan solidaritas. Sebaliknya, ketika kerukunan rapuh, gejolak sosial sekecil apa pun bisa menghancurkan stabilitas ekonomi, sebagaimana terlihat pada pelemahan rupiah dan IHSG akibat demo Agustus.

Dalam konteks ini, agama dapat berfungsi sebagai benteng moral yang mencegah polarisasi politik berubah menjadi konflik horizontal. Namun, peran itu hanya akan berjalan bila negara menempatkan kerukunan antarumat sebagai prioritas pembangunan jangka panjang, bukan sekadar respons darurat. Dukungan anggaran, regulasi, dan kebijakan yang konsisten terhadap kegiatan lintas agama adalah investasi sosial yang sama pentingnya dengan pembangunan infrastruktur.

Dengan demikian, demonstrasi Agustus 2025 seharusnya menjadi titik balik. Negara harus belajar bahwa menjaga kerukunan bukan hanya urusan moral, melainkan juga strategi politik dan ekonomi. Jika fondasi kerukunan kokoh, Indonesia tidak hanya mampu mencegah krisis, tetapi juga melangkah lebih mantap menuju cita-cita besar: menjadi negara maju pada 2045.

Baca juga Memenangkan Solusi Dua Negara

Demonstrasi Agustus 2025 menjadi pengingat pahit bahwa suara rakyat tidak boleh diabaikan. Tragedi yang menimpa Affan Kurniawan, disertai sikap pongah sebagian elite politik dalam merespons penderitaan rakyat, menunjukkan betapa rapuhnya hubungan antara penguasa dan masyarakat. Krisis ini tidak semata-mata lahir dari tuntutan ekonomi, tetapi juga dari rasa keadilan yang tercabik oleh kebijakan yang tidak sensitif dan kesenjangan sosial yang semakin lebar.

Indonesia telah membayar mahal dengan korban jiwa, kerugian ekonomi, dan luka sosial. Namun, dari peristiwa ini seharusnya lahir kesadaran kolektif bahwa menjaga kerukunan adalah fondasi utama pembangunan bangsa. Kerukunan bukan slogan, melainkan kebutuhan mendesak yang menentukan apakah Indonesia mampu melangkah menuju negara maju atau terus terjebak dalam lingkaran konflik yang melelahkan.

Elite politik harus belajar rendah hati dalam berkomunikasi, memahami penderitaan rakyat, dan menjauh dari kebijakan yang hanya menguntungkan segelintir kalangan. Negara harus lebih serius mendukung peran tokoh agama dan forum lintas iman, bukan hanya ketika kerusuhan meledak, tetapi jauh sebelum itu. Tokoh agama, dengan pengaruh moralnya yang masih dipercaya rakyat, dapat menjadi benteng pencegah polarisasi dan perekat solidaritas sosial.

Bangsa ini memiliki modal besar berupa keberagaman, tradisi toleransi, dan nilai kemanusiaan yang diwariskan para pendiri negara. Jika modal ini terus dirawat, kerukunan akan menjadi jalan menuju kesejahteraan bersama. Perbedaan pandangan politik boleh saja, demonstrasi pun adalah hak demokratis. Namun, kerukunan tidak boleh dikorbankan. Sebab, hanya dengan kerukunan, Indonesia dapat bertahan menghadapi badai, bangkit dari krisis, dan melangkah pasti menuju Indonesia Emas 2045.

Lebih baik merawat daripada mengobati, lebih baik merawat kerukunan daripada baru sadar akan pentingnya kerukunan setelah konflik memakan korban dan kerusakan.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Previous article
Next article

More from Author

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun...

Membalas Kekerasan dengan Kasih

Aliansi Indonesia Damai- Meski kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga, namun Ni Luh Erniati, penyintas bom Bali 2002, tidak ingin membalas dendam kepada pelaku/mantan pelaku terorisme. Ia pun tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia dalam...

Dukungan Sesama Korban Membantu Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai- Tasdik Saputra, penyintas Bom Kampung Melayu 2017, mengaku dukungan dari sesama korban terorisme sangat besar pengaruhnya bagi proses kebangkitan dirinya. Menurut dia dukungan sesama korban telah menguatkan dirinya untuk tidak terus larut dalam trauma, mampu bangkit dari keterpurukan, bahkan bisa memaafkan mantan pelaku terorisme. “Awalnya...

Pendidikan Kekalahan

Oleh Ridho Pratama Satria, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Mulawarman Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Juni 2026 Dalam perkembangan dunia pendidikan sekarang, pelajar yang berprestasi bukan hanya pelajar yang tinggi nilai akademiknya. Pelajar yang punya catatan juara juga layak disebut pelajar berprestasi. Catatan juara ini...

Mencari Damai di Era Perang

Dunia sedang tidak baik-baik saja. Perang di Ukraina sudah empat tahun berkecamuk, mengorbankan 60.000 warga sipil berdasarkan data kantor komisaris tinggi PBB untuk urusan hak asasi manusia. Gaza telah lama rata dengan tanah, membinasakan sedikitnya 72.000 jiwa dan melukai 170 ribu lainnya, menurut data otoritas kesehatan di...

Memaafkan Itu Menyembuhkan dan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom terorisme Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib mengaku tidak menyimpan dendam dan tak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan kepada pelaku/mantan pelaku terorisme meski ia kehilangan penglihatan mata kirinya dan beberapa bagian tubuhnya terluka parah terkena ledakan bom terorisme, 09 September 2004 silam....

Melawan Trauma untuk Masa Depan Lebih Baik

Aliansi Indonesia Damai- Trauma yang dialami korban bom terorisme begitu berat dan berlangsung lama. Bahkan, hingga sekarang traumanya masih dirasakan meski peristiwanya sudah dua dekade berlalu. Begitulah yang dirasakan salah satu korban bom terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, Sudirman Talib. Sudirman mengaku traumanya susah hilang akibat...

Memilih Memaafkan daripada Membalas Dendam

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku memilih sikap untuk memaafkan pelaku/mantan pelaku terorisme daripada membalas dendam kepada mereka. Meski beberapa bagian tubuhnya terluka terkena ledakan bom di sebuah kedai kopi di Jalan Thamrin Jakarta Pusat, yang dilakukan jaringan terorisme pada 14...

Misi Perdamaian PBB Berhasil jika Dunia Berinvestasi di Dalamnya

Oleh Jean-Pierre Lacroix, Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Operasi Perdamaian Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 Juni 2026 Di masa ketika konflik semakin sering meluas melintasi batas negara, Am-Dafock—sebuah kota perbatasan terpencil yang dibangun di atas tanah rawa, berjarak dua jam dari Birao...

Keluarga Jadi Pendorong Utama Pertobatan

Aliansi Indonesia Damai- Bagi Choirul Ihwan, mantan pelaku terorisme, kasih sayang keluarga khususnya ibu menjadi titik awal kesadarannya untuk melepaskan diri dari jerat terorisme dan menanggalkan kekerasan serta bertobat kembali ke jalan perdamaian. Berdasarkan pengalaman pribadinya, ia bisa sembuh dari ekstremisme berkat perhatian dan kasih sayang keluarganya. “Kalau...

Membumikan Kembali Pancasila dalam Undang-Undang

Oleh Jimmy Zeravianus Usfunan, Dosen Hukum Tata Negara serta Ketua Pusat Studi Pancasila dan Kenegaraan, FH Universitas Udayana Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 Juni 2026 Sudah 81 tahun Pancasila diperkenalkan Sukarno dalam pidato 1 Juni 1945 sebagai respons atas pertanyaan, ”Apa dasar negara Indonesia jika...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...