HomeOpiniMenakar Kurikulum Cinta

Menakar Kurikulum Cinta

Oleh Masdar Hilmy, Guru Besar, Direktur Pascasarjana UIN Sunan Ampel; Tim Penulis buku Kurikulum Cinta Kementerian Agama RI

Artikel ini dimuat di Kompas.id pada 27 November 2025 

Pascapeledakan bom di SMAN 72 Jakarta, Detasemen Khusus 88 Antiteror Polri (Densus 88) bersama Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) merilis data yang cukup mencengangkan: terdapat 110 anak usia 10-18 tahun yang teridentifikasi telah terpapar jaringan terorisme!

Yang lebih mengkhawatirkan, data ini tersebar di 23 provinsi. Jika dibuat rerata, terdapat 4,8 teroris muda di setiap provinsi tersebut. Data tersebut menyampaikan pesan bahwa regenerasi ideologi terorisme tidak pernah mati, terlepas dari berbagai ikhtiar deradikalisasi dan pencegahan terorisme selama ini.

Data di atas seakan mengonfirmasi kecenderungan meningkatnya intoleransi di kalangan remaja dan siswa sekolah dasar pada satu dasawarsa terakhir. Menurut BNPT, terdapat kenaikan intoleransi pasif di kalangan remaja dari 2,4 persen pada 2016 menjadi 5 persen pada 2023. SETARA Institute (2023) juga mengungkapkan kecenderungan yang sama: 70 persen remaja memang toleran, tetapi 22,4 persen lainnya intoleran pasif dan 5 persen intoleran aktif. Peristiwa ledakan bom di SMAN 72 Jakarta dikhawatirkan memiliki benang merah yang cukup kuat dengan kecenderungan meningkatnya gejala intoleransi di sekolah.

Baca juga Melampaui Program Moderasi Beragama

Salah satu tawaran prospektif datang dari Kementerian Agama RI melalui kebijakan pendidikan kurikulum berbasis cinta (KBC) di seluruh satuan pendidikan di bawah kementerian ini. Program yang telah diluncurkan oleh Menteri Agama RI pada pertengahan tahun 2025 melengkapi kebijakan penguatan moderasi beragama melalui Keputusan Menteri Agama Nomor 93 Tahun 2022 tentang Pedoman Penyelenggaraan Penguatan Moderasi Beragama yang telah dimasukkan ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024 sebagai program prioritas.

Lima indikator cinta

Kebijakan KBC telah diterjemahkan melalui Surat Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 tentang Panduan Kurikulum Berbasis Cinta. Dalam SK tersebut, KBC didefinisikan sebagai ”sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, serta perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan”. Kurikulum ini bertujuan untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagai prinsip dasar dalam kehidupan.

KBC bukanlah sejenis kurikulum baru yang menggantikan kurikulum yang ada (Kurikulum Merdeka), melainkan mengisi dan mengarahkan implementasinya di madrasah dan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) dalam kerangka Islam rahmatan lil-‘alamin dan moderasi beragama (Perpres No 58/2023). Sekalipun bukan kurikulum baru, pengintegrasiannya ke dalam pembelajaran yang ada membutuhkan proses panjang, berjenjang, dan akuntabel: mulai perumusan kebijakan, penyusunan instrumen pembelajaran dan bahan ajar, hingga menyiapkan monitoring dan evaluasi menyeluruh.

Baca juga Moderasi Beragama Tangkal Ekstremisme

Dalam KBC terdapat lima pilar cinta atau pancacinta. Pertama, cinta kepada Tuhan Yang Maha Esa (sebagai perwujudan hablum minallah). Pilar ini bertujuan menguatkan relasi spiritual yang sehat antara hamba dan Tuhannya: tauhid, syukur, doa, ibadah yang penuh kesadaran, bukan ketakutan. Output dari pilar ini adalah peserta didik yang lembut hatinya, taat terhadap seluruh perintah Tuhan, tetapi tidak ekstrem, tidak membenci sesama manusia (the other) dan memandang Tuhan sebagai sumber kasih sayang (rahmat), bukan sekadar hukuman.

Kedua, cinta kepada diri dan sesama manusia (hablum minannas). Pilar ini mencakup kecintaan terhadap diri sendiri yang sehat dan proporsional (dalam arti menjaga kesehatan fisik-mental) dan memiliki empati yang tinggi terhadap sesama manusia tanpa diskriminasi agama, suku, dan status sosial. Kita semua terhubung sebagai umat manusia dan mencintai orang lain berarti mencintai diri sendiri karena kita saling terkait. Cinta semacam ini diterjemahkan dalam budaya antiperundungan, antikekerasan, serta pembiasaan kolaborasi, koeksistensi, dan proeksistensi lintas identitas.

Ketiga, cinta ilmu pengetahuan. Pilar ini bertujuan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu melalui kegemaran membaca, sikap ilmiah, sekaligus etika penggunaan ilmu untuk kejujuran, kemaslahatan, dan kemanusiaan (integritas akademik dan antiplagiarisme). Di level Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI), hal ini dikaitkan dengan integrasi keilmuan antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu ”umum” (ilmu sosial, sains, dan teknologi) serta pengembangan riset integratif yang bermoral.

Baca juga Inovasi Beragama

Keempat, cinta pada lingkungan (hablun bi al-bi’ah). Hal ini diwujudkan ke dalam sikap kepedulian ekologis sebagai bagian dari iman: hemat air, kebersihan, pengelolaan sampah, penghijauan, dan gaya hidup ramah lingkungan. Manifestasi cinta lingkungan sering dipadukan dengan tema ecotheology dan kurikulum hijau dalam kegiatan proyek dan pembelajaran tematik.

Kelima, cinta kepada bangsa dan negara (hubbul wathan). Pilar cinta ini dilakukan untuk memperkuat komitmen kebangsaan, Pancasila, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai konsekuensi keimanan. Cinta ini dioperasionalkan melalui pendidikan kewargaan yang moderat, literasi Pancasila, dan sikap antiradikalisme, serta antidisintegrasi. Dalam banyak sosialisasi, Kemenag memadatkan orientasi nilai KBC menjadi empat aspek utama saja: 1). Cinta kepada Tuhan; 2). Cinta kepada sesama manusia; 3). Cinta kepada lingkungan, dan; 4). Cinta kepada bangsa dan Tanah Air (nasionalisme).

Sejumlah tantangan

Sebagai sebuah kebijakan, gagasan apa pun yang dilandasi semangat memperbaiki kondisi bangsa pastilah mulia. Begitu pula dengan KBC yang dilatarbelakangi menguatnya intoleransi, radikalisme, dan terorisme di kalangan remaja patut diapresiasi. Namun, bukan berarti kebijakan dimaksud tanpa tantangan. Tantangan untuk membumikan KBC sangat kompleks, baik secara filosofis-konseptual, kultural, maupun struktural kelembagaan.

Secara filsosofis, banyak pendidik masih belum menangkap secara utuh makna cinta dalam KBC. Sebagian menganggapnya terlalu abstrak, sentimental, atau bahkan tidak ilmiah. Di sejumlah ruang diskusi internal, ”cinta” dipersepsi sebagai ajaran moralitas yang lembut, bukan sebagai strategi pendidikan transformatif.

Bahkan, sebagian lagi menyamakan ”cinta” sebagai ”mahabbah” (love dalam konteks biologis), bukan ”rahmah” (compassion dalam konteks kejiwaan/spiritualitas). Padahal, KBC mengandaikan perubahan paradigma: dari pendidikan yang kering spiritualitas menuju pendidikan yang merawat, menumbuhkan, dan mengultivasi kejiwaan manusia (growth paradigm).

Tantangan di ranah budaya bahkan jauh lebih kompleks. Pendidikan yang baik di banyak lembaga dianggap pendidikan yang mendisiplinkan siswa secara kaku, memberikan hukuman fisik (corporal punishment) yang keras, penerapan hieraki ketat, dan komunikasi satu arah akibat penerapan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning).

Dalam situasi seperti ini, konsep cinta berhadapan langsung dengan kultur lama yang telah berakar puluhan tahun. KBC membutuhkan relasi yang lebih egaliter tetapi saling memartabatkan antara pendidik dan peserta didik, yang bagi sebagian lingkungan madrasah dan pesantren, bukanlah perkara sederhana.

Dimensi struktural-kelembagaan juga menghadirkan tantangan tersendiri. Meski gagasan besar sudah diputuskan di level kementerian, pedoman operasional turunan masih terus disusun dan disempurnakan. Banyak guru belum menerima pelatihan yang memadai, bahan ajar yang belum matang, dan indikator capaian yang belum sepenuhnya jelas. Belum lagi persoalan sinkronisasi antara muatan KBC dengan moderasi beragama agar keduanya tidak tumpang tindih (overlapping). Selain itu, perlu sinkronisasi muatan KBC di tingkat pendidikan dasar dan menengah dan PT.

Kita semua berharap KBC akan menjadi ”obat mujarab” (panacea) bagi menguatnya gejala intoleransi, radikalisme, dan terorisme di kalangan anak muda kita. Semoga.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...