HomeOpiniMenghargai Toleransi

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia

Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026

Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan.

Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan pada hal-hal yang berbeda. Sebaliknya, kelompok radikal lebih sering memaksakan perbedaan pada sesuatu yang sesungguhnya secara substansial sama.

Dengan demikian, toleransi ialah suatu paham dan sikap yang menghargai pendapat, sikap, dan keberadaan orang atau kelompok lain tanpa membedakan besar kecilnya kelompok itu. Yang berbeda dibiarkan berbeda dan yang sama dibiarkan sama, tanpa harus menimbulkan ketegangan satu sama lain.

Dalam Islam, toleransi sering disamakan dengan konsep tasamuh. Toleransi dalam beragama sering dihubungkan dengan toleransi internal dan eksternal umat beragama, menghargai keberadaan, dan tidak memaksakan kehendak kepada orang atau kelompok lain, sekalipun kelompok itu kecil. Kelompok moderat selalu membayangkan akan adanya sebuah fikih kebinekaan yang menjunjung tinggi keberadaan orang atau kelompok lain, sungguh pun mereka non-Muslim.

Baca juga: Masyarakat Damai Harapan Semua Insan

Dalilnya dalam Islam amat banyak. Yang pasti Nabi Muhammad SAW tidak hanya menganjurkan toleransi terhadap penganut agama lain, tetapi mencontohkannya sekaligus. Banyak tokoh yang hanya bisa bicara tentang toleransi, tetapi dalam sikap dan tindakannya berbeda dengan apa yang sering dibicarakannya. Nabi dan para sahabatnya tidak pernah sedikit pun ragu untuk bekerja sama dan bertoleransi dengan orang-orang non-Islam karena dasarnya di dalam Al-Quran bergitu banyak dan begitu tegas. Di antara ayat-ayat itu ialah:

Allah tiada melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. (QS Al-Mumtahinah/60: 7-8). Dan jika seorang di antara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS Al-Taubah/9: 6).

Nabi pernah didatangi delegasi non-Muslim (Nasrani) dari Najran, negeri Yaman sekarang. Mereka bertanya kepada Nabi tentang Isa ibn Maryam. Lalu, Nabi menjawab, Dia adalah ruhullah wa kalimatuhu, dan dia hamba dan rasul-Nya. Kelompok pemuda itu berkata, ”Apakah engkau siap kami cemooh jika kamu keliru?” Nabi menanggapi, ”Apakah itu yang kalian kehendaki?” Mereka menjawab, iya.

Baca juga: R20: Fikih Toleransi dan Rekonsiliasi Konflik

Kemudian, pemimpin mereka datang menegur mereka dengan mengatakan, ”Jangan cemooh orang ini, karena jika kalian melakukannya kita akan dihancurkan.” Setelah itu ia meminta maaf kepada Nabi dan memintakan maaf juga kepada warganya yang lancang itu. Nabi mengatakan, ”Aku sudah memaafkan kalian.” Demikian sikap toleransi Nabi terhadap orang lain.

Safwan ibn Sulaiman meriwayatkan bahwa Nabi Muhammad pernah mengatakan, ”Barang siapa yang menzalimi orang-orang yang menjalin perjanjian damai (mu’ahhad) atau melecehkan mereka, atau membebaninya sesuatu di luar kesanggupannya, atau mengambil hartanya tanpa persetujuannya, maka saya akan menjadi lawannya nanti di hari kemudian” (HR Bukhari-Muslim).

Nabi juga banyak mencontohkan memberikan keprihatinan dan bantuan terhadap non-Muslim, terutama bagi mereka yang berasal dari golongan tidak mampu. Umar ibn Khathab pernah berjumpa seorang kakek tua buta non-Muslim sedang meinta-minta. Umar bertanya, ”Dari ahli kitab mana engkau?” Dijawab, ”Dari agama Yahudi.”

Umar lalu membawa kakek tua buta itu ke rumahnya dan membuatkan memo ke Baitul Mal yang isinya: ”Tolong perhatikan orang ini dan semacamnya. Demi Allah, kita tidak menyadari kalau kita telah memakan hartanya lalu kita mengabaikannya di masa tuanya. Sesungguhnya sedekah untuk para fakir-miskin. Kaum fakir miskin itu ada dari kaum muslim dan ini dari kaum Yahudi”.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal,...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...