HomeBeritaMenguatkan Semangat Basudara dengan...

Menguatkan Semangat Basudara dengan Ketangguhan Korban

Sebuah Monumen berbentuk gong di jantung kota Ambon menjadi saksi kekaraban Tim Perdamaian, yang terdiri atas penyintas dan mantan pelaku aksi terorisme, sore itu. Mahanani, Albert dan ISwanto menyempatkan diri mengunjungi tempat bersejarah itu di sela kegiatan safari kampanye perdamaian Aliansi Indonesia Damai (AIDA) akhir Agustus lalu. Sesuai namanya, Gong Perdamaian Dunia, monumen itu meneguhkan semangat Tim Perdamaian untuk membangun Indonesia lebih damai.
Di ibu kota Provinsi Maluku, Aliansi Indonesia Damai (AIDA) melakukan safari kampanye perdamaian di lima sekolah di kota Ambon, yaitu MAN 1, MAN 2, MA Al-Fatah, SMAN 3, dan SMAN 13 Ambon. AIDA mengajak 250 siswa dari lima sekolah tersebut untuk menumbuhkan semangat perdamaian melalui kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”.
Di setiap sekolah, kegiatan Dialog Interaktif menyuguhkan materi yang mendorong para peserta memiliki semangat ketangguhan, tak mudah menyerah menghadapi masalah serta menutupi kesalahan masa lalu dengan kebaikan. Salah satunya adalah materi yang disampaikan oleh Tim Perdamaian.
Anggota Tim Perdamaian, Albert Christiono, dalam kesempatan Dialog Interaktif di SMAN 3 Ambon berbagi pengalaman dengan para peserta tentang kisah hidupnya sebagai penyintas teror Bom Kuningan 2004. Ia mengisahkan, saat mobil boks berisi bom meledak di Jalan HR. Rasuna Said, Kuningan, Jakarta pada tahun 2004, ia sedang dalam perjalanan membantu pekerjaan orang tuanya di bidang ekspedisi. Dari ledakan itu logam pipih sepanjang 5 cm menancap di kepalanya.
“Selama beberapa bulan saya sempat trauma kalau melihat mobil boks, saya khawatir jangan-jangan ada ledakan lagi. Kepala saya harus dioperasi dan bekasnya sekarang terasa agak benjol,” ujar Albert.
Masa-masa sulit akibat ledakan bom dia lalui dengan tabah. Ia mengaku tak mendendam para pelaku aksi teror dan tak ingin membalas keburukan yang ditimpakan kepada dirinya. Sebab, ia menjunjung tinggi ajaran saling mengasihi yang sangat dianjurkan dalam agamanya. Dia mengajak generasi muda untuk hidup berkasih sayang serta menjauhi kekerasan kepada sesama.
Senada dengan Albert, anggota Tim Perdamaian, Mahanani Prihrahayu, berbagi kisah di hadapan para pelajar peserta Dialog Interaktif di MAN 1, MAN 2, dan MA Al-Fatah Ambon. Suaminya, alm. Slamet Heriyanto, adalah korban Bom JW Marriott 2003. Sepeninggal suami, Mahanani merawat dan membesarkan dua putranya seorang diri.
“Anak saya yang kecil sekarang bersekolah seusia dengan adik-adik semua. Saya ingin berpesan, adik-adik harus menghormati orang tua, jangan sia-siakan pengorbanan dan usaha mereka dalam mendidik kalian,” kata dia.
Sementara itu, anggota Tim Perdamaian dari unsur mantan pelaku kekerasan, Iswanto, menyampaikan imbauan kepada peserta Dialog Interaktif agar tidak terhasut ajakan orang untuk melakukan kekerasan. Dari pengalamannya tergabung dengan jaringan teroris, Iswanto menyadari kekeliruan kelompoknya di masa lalu. Ia didoktrin untuk melakukan kekerasan dengan dalih ajaran agama. Selain itu, ia dipaksa membatasi hubungan dan interaksi dengan keluarga. Bahkan, saat anggota keluarganya meninggal dunia, ia tidak dikabari apalagi diperkenankan pulang.
Iswanto membaca kembali kitab-kitab rujukan tentang jihad hingga menyadari begitu jauh kelompok itu menyalahgunakan ajaran agama untuk berbuat kekerasan. Ia semakin mantap untuk meninggalkan kelompok itu setelah gurunya menganjurkan untuk menjauhi aksi kekerasan.
Ia juga mengimbau para siswa peserta Dialog Interaktif melestarikan semangat basudara (bersaudara) yang sudah menjadi tradisi masyarakat Ambon untuk menjaga kedamaian. “Saya dipertemukan dengan para korban, ada yang luka bakar, ada yang sampai cacat sumur hidup. Saya sering tidak kuat mendengarkan kisah mereka menjadi korban bom. Saya sudah minta maaf kepada para korban dan alhamdulillah saya dimaafkan. Sekarang kami menjadi sahabat, bersama-sama mengampanyekan perdamaian kepada adik-adik semua,” kata dia dalam Dialog Interaktif di MAN 2 Ambon.
Dalam penyelenggaraan Dialog Interaktif di MA Al-Fatah Ambon, seorang peserta menyampaikan kesan dan pesannya selama mengikuti kegiatan tersebut. Ia mengatakan sering menjumpai berbagai bentuk ajakan kekerasan dengan dalih keagamaan yang banyak disebarkan di dunia maya. Siswa itu juga mengaku sempat menyetujui ide kelompok teror asal Timur Tengah melakukan kekerasan di berbagai belahan dunia.
“Tapi, setelah mendengarkan cerita dari Ibu Mahanani dan Bapak Iswanto saya jadi tahu kekerasan tidak boleh terjadi. Agama kita sendiri tidak mengajarkan kekerasan,” ungkapnya.
Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, pada akhir kegiatan menyampaikan pesan kepada para pelajar peserta Dialog Interaktif tentang kiat menjadi generasi yang tangguh. Generasi tangguh, kata dia, adalah yang mampu memadukan pembelajaran dari korban dan mantan pelaku. Dari korban terorisme peserta mendapatkan hikmah agar tidak membalas kekerasan dengan kekerasan lainnya. Dari mantan pelaku, lanjutnya, para siswa dapat mengambil pelajaran bahwa ketidakadilan mesti tidak dibalas dengan ketidakadilan lainnya.
“Generasi tangguh adalah yang berjiwa besar memberi maaf kesalahan orang lain. Generasi tangguh adalah yang mau mengakui kesalahan masa lalu dan mampu memperbaiki kesalahan itu,” Hasibullah menandaskan. (MLM) [SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi X Oktober 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...