HomeBeritaPerjumpaan Pela Gandong dengan...

Perjumpaan Pela Gandong dengan Semangat Perdamaian Korban

Matanya terlihat berkaca-kaca menceritakan tragedi kekerasan saat konflik komunal menggelora di Ambon, Maluku, belasan tahun silam. Dia tak habis pikir mengapa saat itu manusia begitu kejam melakukan kekerasan dan berbuat kerusakan di mana-mana.
Pemuda itu menceritakan kisahnya saat berdialog dengan Tim Perdamaian yang terdiri atas korban dan mantan pelaku aksi terorisme dalam acara Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Ambon, akhir Agustus lalu. Dalam kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA), guru SMAN 13 Ambon itu mengaku kagum akan ketangguhan korban dan mantan pelaku menghadapi musibah.
“Konflik sudah berakhir tapi saya masih sering terbayang dengan peristiwa itu. Saya mau belajar dari Bapak dan Ibu dari Tim Perdamaian AIDA ini, bagaimana bisa ikhlas dan teguh hatinya padahal pernah mengalami kejadiaan nahas,” ujarnya.
Sebelumnya, dalam pelatihan itu dua orang penyintas terorisme, Mahanani Prihrahayu (korban Bom JW Marriott 2003) dan Albert Christiono (korban Bom Kuningan 2004) berbagi kisah. Mahanani kehilangan suaminya, alm. Slamet Heriyanto, yang saat kejadian sedang bekerja di Hotel JW Marriott Jakarta. Sejak tragedi itu, ia menjadi orang tua tunggal bagi dua buah hatinya. Sementara itu, Albert mengalami cedera di bagian kepala akibat ledakan bom di kawasan Kuningan, Jakarta pada 9 September 2004. Meski kedua penyintas tersebut mengalami cobaan berat tapi mereka ikhlas dan tabah. Mereka tidak mendendam mantan pelaku aksi kekerasan tapi justru memaafkan.
“Kejadian ini sudah takdir Allah SWT. Saya bertemu mantan pelaku pertama kali di Bukittinggi bulan April lalu. Kami akhirnya berekonsiliasi, mantan pelaku sudah meminta maaf dan saya memaafkannya,” tutur Mahanani. Hal senada disampaikan Albert. “Saya juga sudah memaafkan mantan pelaku dan sekarang kami bersama-sama menyampaikan pesan perdamaian,” kata Albert.
Menguatkan pemaparan korban, mantan anggota jaringan terorisme, Ali Fauzi, mengimbau para guru peserta pelatihan agar menjadi pelopor pelestari perdamaian di Ambon. Ia mengingatkan, konflik komunal di kota multikultur itu jangan sampai terulang kembali. Pasalnya, kerusuhan di suatu daerah sangat rentan dijadikan pemantik bagi kelompok prokekerasan untuk melegalkan aksi teror di daerah lain. “Karena itu mari kita jaga keamanan dan kedamaian negeri ini, khususnya di kota kita ini, kota Ambon Manise,” ungkapnya.
Selain dari Tim Perdamaian, peserta juga mendapatkan pembelajaran tentang kiat menjadi guru damai dengan narasumber Direktur Ambon Reconciliation-Mediation Center, Abidin Wakano. Pegiat perdamaian itu berbagi pengalaman saat membangun gerakan yang menyadarkan warga tentang pentingnya semangat bersaudara di Ambon. Saat konflik berkecamuk di Ambon pada 1999, dia menggalang persatuan warga di kampungnya untuk mencegah kerusuhan menjadi lebih besar. Ia juga menginisiasi berbagai kegiatan dialog sebagai sarana mediasi dan komunikasi antarpemeluk agama.
Dari perjuangannya memediasi konflik di Ambon, Abidin pernah mendapatkan julukan provokator damai dari sebuah stasiun televisi swasta nasional. Dalam pelatihan siang itu, ia mengungkapkan para guru mengemban peran penting untuk melestarikan perdamaian di bumi Maluku.
“Yang perlu dilakukan bersama adalah mengembangkan teologi orang basudara (orang bersaudara), yaitu belajar saling memahami, saling mempercayai, saling menyayangi. Potong di kuku, rasa di daging. Ale rasa beta rasa (kamu rasa aku rasa-red), sagu salempeng dibagi dua (sagu satu makan dibagi dua),” ujarnya.
Disaksikan para guru peserta pelatihan, Mahanani, Albert dan Ali Fauzi menyatukan genggaman tangan sebagai simbol rekonsiliasi dan persatuan. Kisah rekonsiliasi Tim Perdamaian tersebut menginspirasi para peserta untuk terus menjaga perdamaian di Ambon. Mereka bertekad akan terus memegang erat budaya pela gandong, sistem hubungan sosial di Maluku yang bermakna ikatan persatuan antarpenduduk dengan saling menganggap saudara walaupun berbeda latar belakang tradisi.
“Kegiatan ini telah memperkuat kami sebagai guru bahwa perbedaan di Ambon itu sebuah keniscayaan. Tapi, dari perbedaan ini kita harus bisa hidup dengan damai. Mari kita memperkuat agar Ambon menjadi laboratorium perdamaian dunia,” kata salah satu peserta dari MAN 1 Ambon.
Selama pelatihan berlangsung nuansa kebersamaan dan kekeluargaan di antara peserta begitu terasa. Dengan segala perbedaan yang ada, mereka saling menghormati dan bekerja sama. “Persahabatan dan kebersamaan kita para guru selama pelatihan ini menunjukkan bahwa katong (kita) basudara, orang Maluku bersaudara. Setelah pelatihan ini kami akan kembali ke sekolah menjadi duta perdamaian, menanamkan pentingnya perdamaian kepada anak didik dan masyarakat,” ujar salah satu guru MAN 2 Ambon.
Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” diikuti 21 guru SMA dan MA di Ambon yang terdiri dari guru pendidikan agama, guru pembina OSIS, dan guru pembina Rohis. Mereka berasal dari lima sekolah yaitu MAN 1 Ambon, MAN 2 Ambon, MA Al Fatah Ambon, SMAN 3 Ambon, dan SMAN 13 Ambon. (AS) [SWD]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi X Oktober 2016.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...