HomeBeritaMemaafkan untuk Perdamaian

Memaafkan untuk Perdamaian

Para peserta mengikuti sesi ice breaking di sela-sela kegiatan Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Semarang (21/10/2017).
Dok. AIDA – Para peserta mengikuti sesi ice breaking di sela-sela kegiatan Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Semarang (21/10/2017).

 

“Saling memaafkan antara korban dan mantan pelaku merupakan hal yang luar biasa dan jarang terjadi. Korban memiliki jiwa yang lapang untuk bisa memaafkan, mantan pelaku juga bersusah payah untuk keluar dari jaringannya dan meminta maaf kepada korban”.

Demikian kata salah satu peserta dalam Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” di Semarang, Jawa Tengah, akhir Oktober lalu. Belasan tenaga pengajar dari SMAN 1 Kendal, SMAN 1 Weleri, SMAN 3 Semarang, dan MA Uswatun Hasanah Semarang mengikuti kegiatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) itu secara aktif.

Dalam pelatihan dihadirkan Tim Perdamaian AIDA, yaitu korban dan mantan pelaku terorisme yang telah berekonsiliasi. Dari pihak mantan pelaku, hadir Kurnia Widodo yang dahulu sempat menjalani vonis hukuman penjara karena bergabung dengan kelompok teroris, dan dari pihak korban diwakili oleh Nanda Olivia Daniel, penyintas aksi teror bom di depan Kedutaan Besar Australia di Jl. HR Rasuna Said Kuningan, Jakarta Selatan, 9 September 2004.

Korban dan mantan pelaku berbagi pengalaman masing-masing kepada para peserta dalam kegiatan yang berlangsung dua hari itu. Nanda menceritakan perjuangannya untuk bangkit setelah terdampak ledakan Bom Kuningan. Dia yang sedang menjalani masa akhir kuliahnya waktu itu mengalami luka-luka lantaran bus kota yang ditumpanginya melintas tepat di seberang mobil pembawa bom. Gendang telinga dan jaringan tulang jari-jari tangannya rusak akibat ledakan.

Sementara itu, Kurnia membagi pengalamannya saat meninggalkan kelompok teroris yang dahulu diikutinya. Dia mengaku mulai mengevaluasi gerakan dan cara pandang kelompoknya sewaktu menjalani masa hukuman di dalam penjara. Dia kecewa beberapa temannya sesama tahanan kasus terorisme sangat enteng menganggap umat muslim yang tidak sejalan dengan pemikirannya sebagai kafir. “Menurut saya itu sangat jauh dari ajaran Islam, sehingga membuat saya berubah sampai sekarang,” ujarnya.

Tahun 2014 Kurnia bebas kemudian memulai hidup baru dengan tidak lagi mengenal kata kekerasan. Keyakinannya untuk tidak lagi berada di jalan kekerasan menguat setelah dipertemukan dengan korban. “Saya mendengarkan secara langsung bagaimana penderitaan mereka yang ditimbulkan dari aksi terorisme. Saya sampai berkaca-kaca mendengar kisah mereka. Saya langsung meminta maaf kepada para korban yang saya temui meskipun saya sendiri tidak terlibat dalam aksi teror yang mengenai mereka,” kata dia.

Sebagai korban, Nanda mengaku sempat marah dan kecewa terhadap para pelaku aksi teror. Secara berangsur setelah difasilitasi AIDA untuk bertemu mantan pelaku yang telah berbalik menjadi aktivis perdamaian, dia mampu mengalahkan rasa dendam untuk memaafkan mantan pelaku. Dalam Pelatihan Guru di Semarang Nanda dan Kurnia bersalaman sebagai simbol saling memaafkan. “Rasa marah dan dendam dalam hati hanya akan menambah beban hidup,” kata wanita berkaca mata itu.

Dari penuturan kisah penyintas dan mantan pelaku diharapkan para guru mendapatkan motivasi dan inspirasi untuk melestarikan nilai-nilai perdamaian di lingkungannya, khususnya di sekolah. Pasalnya, di era keterbukaan sekarang ini banyak propaganda kebencian, kekerasan, serta berbagai hal yang bertentangan dengan nilai perdamaian tersebar di dunia nyata dan maya yang menyasar generasi muda dan pelajar.

Sebagian peserta menyampaikan kesan dan apresiasi dalam kegiatan tersebut. Seorang guru dari SMAN 3 Semarang mengatakan, “Mendengar kisah dari Mbak Nanda, saya jadi merasakan bagaimana kalau hal itu terjadi pada diri saya atau keluarga saya. Artinya, Mbak Nanda itu luar biasa (mampu memaafkan-red) hari ini bisa berdampingan dengan pelaku.”

Guru delegasi dari SMAN 1 Kendal juga senada. Ia mengatakan bahwa kegiatan yang menghadirkan korban dan mantan pelaku sangat jarang. Menurutnya, penuturan kisah korban dan mantan pelaku bisa menggugah kesadaran para siswa dan guru akan bahaya penyebaran paham-paham ekstrem.

Peserta dari MA Uswatun Hasanah Semarang mengatakan, “Hal yang paling berkesan dari acara ini adalah ketika korban dan mantan pelaku bertemu dan duduk berdampingan, dan yang lebih luar biasa adalah ketika Mbak Nanda mau memaafkan Pak Kurnia, karena menghilangkan trauma, rasa marah dan lain-lain itu kan membutuhkan jiwa yang sangat besar,” kata dia.

Selain testimoni dari Tim Perdamaian, para peserta juga mendapatkan materi pengayaan yang disampaikan oleh para ahli di bidangnya. Di antaranya adalah Solahudin, pakar kajian terorisme dari Universitas Indonesia, dan Asep Sukmayadi, Kepala Seksi Pengembangan Bakat dan Prestasi Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi, menyampaikan harapan agar para guru mengambil pelajaran dari pelatihan ini sehingga dapat membimbing peserta didiknya dalam menjaga iklim perdamaian di sekolah. “Dari korban kita bisa belajar untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, sedangkan dari mantan pelaku kita bisa belajar bahwa ketidakadilan tidak semestinya dibalas dengan ketidakadilan di tempat lain”. [F]

 

 

 

*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XV Januari 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...