HomeOpiniMenanam Budaya Perdamaian di...

Menanam Budaya Perdamaian di Kampus

Kasus kekerasan di dunia pendidikan kembali mencoreng catatan sejarah bangsa Indonesia. Seolah tereproduksi, penganiayaan berujung kematian yang dilakukan oleh senior kepada junior di lembaga pendidikan menyedot perhatian masyarakat. Awal 2017, setelah seorang taruna Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP) Jakarta Utara meninggal dunia menjadi korban tindak kekerasan para seniornya, beberapa hari selepasnya tiga mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta meregang nyawa karena perlakuan di luar batas kakak kelas saat mengikuti pendidikan dasar mahasiswa pecinta alam di lereng Gunung Lawu, Jawa Tengah.

Perundungan seakan-akan telah menjadi tradisi turun-temurun di kampus. Sungguh disayangkan, lingkungan pendidikan yang semestinya menjadi tempat yang kondusif untuk menggembleng anak bangsa menjadi terdidik dan beradab, justru di dalamnya terbangun budaya kekerasan.

Kejadian yang menimpa almarhum Amirullah Adityas Putra, pelajar taruna tingkat satu STIP Marunda, Cilincing, Jakarta Utara pada Januari lalu bukan kali pertama di kampus tersebut. Berdasarkan informasi dari pemberitaan media massa, kurang dari sepuluh tahun terakhir telah terjadi 6 kasus tindak kekerasan hingga menelan korban jiwa di perguruan tinggi kedinasan itu. Seperti dilansir tribunnews.com, pada 12 Mei 2008, taruna tingkat pertama STIP, Agung B Gultom, tewas di tangan 10 taruna senior. Masih pada 2008, tepatnya bulan November, kekerasan di STIP kembali terulang. Jegos (19), taruna tingkat pertama, dianiaya oleh taruna senior hingga gegar otak. Dua kekerasan lagi terjadi pada tahun 2012 dan 2013. Kekerasan di STIP kembali terjadi pada tahun 2014. Kali ini nyawa taruna pertama, Dimas Dikita Handoko, melayang sia-sia di tangan para senior.

Sanksi dan hukuman kepada para pelaku kekerasan telah dilakukan. Tersangka tindak kekerasan dalam kasus-kasus sebelumnya tidak hanya dipecat dari ikatan kedinasan STIP tetapi juga dikenai hukuman pidana. Keheranan di masyarakat pun muncul, mengapa kasus yang sama terjadi lagi.

Di banyak kasus, tradisi perundungan yang terjadi di lingkungan pendidikan sering terjadi dilatari oleh faktor egoisme senior yang menginginkan untuk selalu dominan. Terdorong faktor tersebut, mereka sering melampaui batas dan dengan semena-mena melakukan berbagai cara agar meraih kewibawaan dan harga diri yang superior di mata pelajar yang datang belakangan ketimbang mereka. Dalam situasi itulah indikasi perundungan sering terjadi. Senior tak ragu untuk melakukan berbagai perbuatan yang bertujuan membuat malu, merendahkan harga diri, bahkan melakukan kekerasan baik fisik, verbal maupun psikis, kepada adik kelas demi mendapatkan pengakuan dan rasa hormat dari mereka.

Entah bermula dari senior angkatan berapa, seolah-olah tradisi perundungan tersebut menjadi sistem yang “terwariskan” secara turun-temurun dari satu angkatan ke angkatan berikutnya. Tradisi kekerasan di luar batas sungguh menjadi keprihatinan mendalam masyarakat. Senior yang seharusnya memberikan contoh yang baik bagi juniornya tentang bagaimana berbudi pekerti sebagai kaum terdidik dan bagaimana menjadi pelajar berprestasi, malah mewariskan tradisi tidak beradab kepada juniornya.

Pada kenyataannya perilaku kekerasan, baik di dunia pendidikan maupun sektor lainnya, tidak menghasilkan manfaat bagi siapapun. Sebaliknya, kekerasan hanya akan menimbulkan kerusakan dan kerugian ekstra besar. Kerugian pun tidak hanya dirasakan oleh korban namun juga pelaku kekerasan itu sendiri. Dalam kasus di lembaga pendidikan, pelaku kekerasan selain terancam drop out atau dikeluarkan dari kampus juga harus berurusan dengan yang berwajib serta terancam sanksi pidana.

Perploncoan berujung kematian di STIP dan UII seolah-olah menunjukkan budaya kekerasan di lembaga pendidikan masih menjadi pekerjaan rumah bersama bagi para pemangku kebijakan. Segala lini masih memerlukan penyempurnaan agar tradisi kekerasan tak terulang lagi. Pemerintah, dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan serta Kementerian Riset dan Teknologi dan Pendidikan Tinggi mesti membenahi sistem pendidikan nasional agar kekerasan di dunia pendidikan benar-benar terhapuskan. Program pendidikan karakter untuk membentuk akhlak serta merevolusi mental pelajar dan mahasiswa Indonesia agar berpikir maju tampaknya masih harus lebih digiatkan. Polisi dan aparat penegak hukum wajib untuk semakin proaktif menindak kasus kekerasan di dunia pendidikan seadil-adilnya.

Tak kalah penting, masyarakat juga sangat diharapkan perannya dalam menyemai budaya cinta damai kepada generasi muda bangsa. Hal ini penting untuk mencegah aksi kekerasan membudaya di lingkungan pendidikan, atau menjangkiti pola pikir kaum pelajar. Menurut hemat penulis, perlu digiatkan kampanye tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, dan tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan kepada generasi muda. Aksi kekerasan bila dibalas dengan kekerasan hanya akan menghasilkan situasi yang disebut spiral kekerasan. Sama halnya jika ketidakadilan di suatu tempat dibalas dengan ketidakadilan lainnya, maka ketidakadilan berikutnya akan muncul dan yang ada hanyalah siklus ketidakadilan.

Menanamkan budaya perdamaian dalam diri para pelajar tidak terbatas di lingkungan kampus saja. Pola pikir dan akhlak mereka juga sedikit banyak dipengaruhi oleh situasi dan perkembangan di masyarakat. Untuk itu, masyarakat dituntut untuk “mengajarkan” perdamaian pula kepada kaum pelajar. Sebagai contoh, masyarakat perlu menggiatkan tradisi gotong royong atau kerja bakti, ronda, menghidupkan karangtaruna, atau kearifan lokal lainnya yang dapat menyentuh kaum pelajar. Masyarakat juga dapat menunjukkan wujud nyata perdamaian sebagai pembelajaran kepada insan pendidikan dengan cara menjaga keharmonisan hidup di antara warganya.

Pemerintah serta setiap anggota masyarakat mesti memiliki kesadaran yang sama tentang urgensi penanaman budaya cinta perdamaian kepada generasi muda. Dengan penanaman budaya perdamaian tersebut diharapkan bangsa ini menuai hasilnya di masa depan, yakni lahirnya para pelajar dan mahasiswa yang penuh prestasi, berkemajuan, cinta damai dan menjauhi kekerasan. Kepedulian dari semua pihak inilah yang dapat memutus mata rantai budaya kekerasan di lingkungan pendidikan. [SWD]

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...