HomeBeritaBerjuang untuk Pengungsi Marawi

Berjuang untuk Pengungsi Marawi

Ketika krisis Marawi terjadi, sebagian besar warga berbondong-bondong menjauh dari kota itu dan mengungsi ke tempat aman. Sejak saat itu pula, pasangan suami-istri Alikman Ibn Nata (37) dan Fatima Aliah Nata (33) terpanggil untuk membantu para pengungsi meski harus meninggalkan anak dan perkerjaan.

Alikman dan Fatima adalah dua dari sejumlah pegiat kemanusiaan yang tergerak untuk menyalurkan bantuan kepada pengungsi dan warga yang terkena dampak krisis Marawi. Mereka berdua menggalang bantuan dari para donator dan organisasi nonpemerintah.

“Kami hanya mau mendistribusikan bantuan dalam bentuk barang. Jika ada yang mau memberikan bantuan berupa uang, kami akan menolaknya. Silakan  uang ituu dibelanjakan barang dulu baru serahkan kepada kami. Nanti kami bawa kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Alikman, awal Juli lalu.

Krisis di Marawi, ibu kota Provinsi Lanao del Sur, Filipina selatan, terjadi saat kelompok milisi Maute yang berafiliasi dengan Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) menyerang kota itu pada 23 Mei silam. Sejak saat itu pemerintah Filipina mendeklarasikan status darurat militer.

Krisis di Merawi hingga kini masih berlangsung. Mengutip Reuters, jumlah korban tewas hampir mencapai 800 jiwa dan lebih dari 500.000 orang masih mengungsi. Pada Senin (4/9) atau memasuki hari ke 105 pertempuran di Marawi, tentara Filipina terus mengintensifkan serangan dari udara dengan memuntahkan tembakan dan bom ke daerah pertahanan Kelompok Maute.

Sejak status darurat militer dideklarasikan pada 23 Mei silam, pertempuran di Marawi terus menelan korban jiwa.

Alikman dan Fatima adalah warga Muslim yang tinggal di kota Illigan, berjarak 38 kilometer dari Marawi. Mereka berdua aktif sebagai pegiat kemanusiaan. Alikman tergabung dengan Youth Muslim of Maranao, sedangkan Fatima aktif  di organisasi Mother of Peace.

Alikman memiliki sebuah bengkel otomotif. Sementara Fatima adalah guru sekolah menengah atas di Marawi. Begitu konflik Marawi meletus, Alikman dan Fatima menitipkan tujuh anak mereka kepada orangtua dan kakak di Palawan, kota yang berbeda pulau dengan Iligan. “Banyak orang yang membutuhkan kami dalam situasi seperti ini,” ucap Fatima.

Alikman juga terpaksa menutup sementara bengkelnya. Pasangan suami-istri ini tak kenal lelah untuk menghubungi kolega dan teman-teman di organisasi kemanusiaan untuk menyalurkan bantuan. Sebagian orang yang sudah kenal dengan sepak terjang mereka bahkan menghubungi mereka lebih dulu.

Tanpa Pamrih

Alikman dan Fatima membawa bantuan dengan mobil jenis truk kabin ganda milik mereka. “Jika ada donatur yang memberikan uang untuk membelikan bahan bakar kendaraan, akan kami terima. Namun, jika tidak ada, kami tetap akan menyalurkan bantuan itu. Kami beli bahan bakar dengan uang kami sendiri,” ucap Alikman.

Siang itu, mereka hendak menembus masuk ke kota Marawi untuk memberi bantuan kepada warga yang masih bertahan. Namun, upaya mereka kandas karena dilarang tentara penjaga di pos pemeriksaan.

Mereka juga bertolak ke Barangay Tongkopan di wilayah Pantao Ragat yang berbatasan dengan Marawi. Mereka menghampiri lebih dari 100 pengungsi asal Marawi yang menumpang di rumah kerabat. Para pengungsi itu belum terjamah bantuan sama sekali.

Mereka membawakan obat-obatan, sandal, dan keperluan bayi untuk para pengungsi. “Selama kami mengunsi baru kali ini ada yang membawakan kami bantuan,” kata Solaiman (50), seorang pengungsi.

Hal ini mempertegas pengamatan Alikman bahwa banyak tempat pengungsian yang tidak terdata dan tidak terjangkau bantuan pemerintah dan organisasi kemanusiaan.

Alikman dan Fatima juga menyerahkan boneka biru Teddy Bear kepada seorang anak perempuan berusia empat tahun, Princess Juhaina. Boneka yang diberikan oleh seorang anak perempuan bernama Chrisna di kota Davao, Mindanao, ini dititipkan kepada Fatima untuk diserahkan kepada anak pengungsi yang membutuhkan.

“Boneka itu diberikan oleh seorang anak Katolik di Davao dan boneka itu adalah kesayangannya. Dia ingin anak pengungsi yang kebanyakan Muslim mendapatkan boneka itu karena dianggap lebih membutuhkan. Ini yang membuktikan bahwa solidartas kemanusiaan tidak mengenal perbedaan agama dan suku,” tutur Fatima.

Para pengungsi di Tongkopan, wilayah Pantao Ragat, meninggalkan rumah mereka di Marawi pada awal konflik meletus. Saat rentetan tembakan terdengar, mereka masih bertahan di rumah. Namun ketika bom-bom dari pesawat tempur mulai dijatuhkan mereka bergegas mengungsi. Ada yang menaiki mobil ramai-ramai dan ada juga yang berjalan kaki hingga ke Pantao Ragat.

“Mereka salah satu warga yang pertama kali meninggalkan Marawi,” kata Alikman.

Keesokan harinya, Alikman dan Fatima kembali menggalang bantuan dari sejumlah donator dan organisasi kemanusiaan yang berbasis di Iligan. Mereka membawa berkarung-karung kebutuhan pokok dan kebutuhan bayi untuk dibagikan kepada warga di wilayah Ditsaan-Ramain yang terisolasi akibat konflik Marawi.

Kemanusiaan

Setelah pulang dari Ramain, Fatima mengungkapkan kesedihannya. “Warga di sana kelaparan karena tidak memperoleh makanan. Jika pemerintah abai dengan kondisi ini, mereka berencana gabung dengan kelompok Maute yang bisa member mereka uang,” ucap Fatima.

Alikman dan Fatima mengecam keras serangan kelompok Maute yang berafiliasi dengan NIIS.

Yang mendorong mereka untuk menolong para pengungsi dan warga Marawi adalah rasa kemanusiaan. Mereka merasa sedih dengan kondisi warga yang terlunta-lunta dan kelaparan akibat krisis yang menerpa Marawi. Bagi mereka, krisis yang terjadi juga akibat manifestasi dari politik kekuasaan dan uang selain karena pengaruh terorisme.

Krisis terjadi bukan dipicu persoalan agama. Hal ini ditegaskan dengan banyaknya bantuan yang mereka salurkan ternyata berasal dari donatur yang memiliki keyakinan berbeda dengan pengungsi Marawi.

 

Oleh

Harry Susilo/B Josie

Susilo Hardianto

 

*Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 6 September 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...