HomeBeritaBerdamai dengan Masa Lalu

Berdamai dengan Masa Lalu

Aliansi Indonesia Damai- Pelupuk matanya tampak basah. Air menetes darinya. Masih ada trauma tersisa dalam diri Ni Made Kembang Arsini, korban Bom Bali 2005, saat mengenang malam kelam di bulan Oktober 14 tahun silam. Namun ia terus berupaya untuk berdamai dengan masa lalunya dan mengaku telah memaafkan para pelaku yang terlibat serangan itu.

Bersama dengan Sumarno, mantan pelaku ekstremisme kekerasan, Kembang, sapaan akrabnya, berbagi kisah di hadapan puluhan siswa SMAN 5 Tasikmalaya Jawa Barat beberapa waktu lalu. Kembang adalah seorang pelayan restoran. Malam itu ia sedang bertugas melayani para tamu yang memesan makanan maupun minuman. Tiba-tiba terdengar suara ledakan keras tak jauh dari tempatnya berdiri. Spontan ia berlari menjauh dari titik ledakan. Beberapa bagian tubuhnya terluka.

Baca juga Ada Kemudahan di Balik Kesulitan

Usai menjalani perawatan medis, kondisi fisik Kembang membaik. Namun musibah itu menyisakan trauma “Saya masih takut saat mendengar suara keras seperti kembang api. Saat ini masih mengikuti konseling,”  ujarnya dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang dihelat AIDA.

Kendati secara psikis belum pulih total, Kembang enggan memendam dendam kepada para pelaku pengeboman. Pada akhir paparannya, ia mengajak para siswa untuk menjadi pribadi pemaaf, “Maafkanlah yang telah menyakiti kita, dengan memaafkan kita bisa berdamai dengan apa yang telah terjadi di masa lalu. Jangan membalas kekerasan dengan kekerasan.”

Baca juga Pembelajaran dari Penyintas dan Mantan Ekstremis

Sementara Sumarno yang memiliki hubungan darah dengan sejumlah pelaku Bom Bali 2002, berkisah tentang keterlibatannya dalam kelompok ekstremisme dan pertobatannya. Keluarga dan lingkungan sosial menjadi faktor penting dalam proses itu. Ia ditangkap polisi dengan tuduhan penyimpanan senjata dan bahan peledak. Oleh pengadilan, ia divonis hukuman penjara 3,6 tahun.

Menjalani hukuman di penjara justru menjadi titik balik baginya untuk menjauhi kelompok ekstrem. Ia mulai menyadari doktrin yang selama ini diterimanya tidak benar. Polisi yang selalu dianggap jahat dan menjadi musuh utama kalangan ekstremis, malah berdasarkan pengalamannya justru sebaliknya.

Baca juga Perdamaian Kebutuhan Dasar

“Ketika menjalani hukuman, saya di situ banyak introspeksi, banyak merenung, banyak muhasabah apakah (kegiatan) selama ini sudah benar?“ ujarnya mengenang.

Sumarno kini telah sepenuhnya meninggalkan kelompok ekstrem. Ia malah aktif menyuarakan perdamaian di kalangan narapidana terorisme melalui Yayasan Lingkar Perdamaian (YLP), organisasi yang ia rintis bersama pamannya, Ali Fauzi. Ia berpesan untuk selalu menjaga perdamaian karena sejatinya Islam adalah agama damai.

Salah satu siswa mengapresiasi kegiatan ini karena di berkesempatan belajar tentang pemaafan. “Belajar tentang bagaimana cara memaafkan kesalahan orang lain dan menjadi tahu pentingnya tidak membalas dendam kepada orang lain meskipun kesalahannya sangat menyakitkan, dan tetap kuat dalam menghadapinya.” [WTR]

Baca juga Melawan Kekerasan dengan Kasih Sayang

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...