HomeBeritaDamai yang Mekar bak...

Damai yang Mekar bak Dendrobium

Rany Khoirunnissa (17) sungguh gembira. Cerita pendek karyanya terpilih menjadi 23 cerpen bertema perdamaian, cinta, dan toleransi yang akan diterbitkan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama. Melalui program Satu Juta Pelajar Menulis, IPNU ingin menumbuhkan semangat itu dalam diri pelajar.
Bersama teman satu sekolahnya, Pinka Ellena (17), Rany mengirimkan karyanya yang berjudul “He is a Ghost” untuk mengikuti program yang digelar Pimpinan Wilayah IPNU DKI Jakarta, Maret-April 2017. Karya Rany bisa dinikmati dalam buku kumpulan cerpen berjudul Dendrobium yang diluncurkan di Jakarta, pertengahan Agustus lalu. Hanya saja, karya Pinka belum lolos seleksi bersama lebih dari 500 cerpen lain yang diterima panitia.
“Ceritaku, imajinasiku, ekspresiku nanti bisa dibaca orang lain dan diapresiasi, pasti seneng banget. Enggak nyangka aja cerpenku bisa dibukukan,” ungkap Rany antusias.
Tema “Peace, Love, and Tolerance” sengaja dipilih panitia untuk menggelorakan kesadaran pelajar akan perlunya memelihara suasana damai dan toleransi. Setelah perhelatan Pilkada DKI Jakarta yang diwarnai isu intoleransi serta pertentangan suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA), panitia menangkap kegelisahan anak muda dan pelajar di Jakarta mengenai kehidupan bermasyarakat dan lingkungan sekitar mereka.
Beberapa cerpen dalam buku Dendrobium bisa menggambarkan manisnya toleransi. Misalnya, cerpen berjudul “Empat Warna”, “Keberagaman di Negeriku Tercinta”, dan “Toleransi yang Berarti”.
“Empat Warna” karya Kumar Dwi Effendy menceritakan kegelisahan Lay Sinaga yang bersuku Batak kehilangan tiga kawannya, Abdur Rojak (Betawi), Ujang Iskandar (Sunda), dan Slamet Prihatin (Jawa). Lay Sinaga khawatir teman-temannya tidak akan mau bersahabat lagi dengannya karena dirinya beragama Kristen. Sinaga pun meminta pendapat dari Ustaz Tatang, guru mengaji tiga kawannya, mengenai hal itu. Di teras langgar (surau), Sinaga mendapat penjelasan dari Ustaz Tatang bahwa tidak ada larangan bagi orang Islam berteman dengan orang yang berbeda agama. Sinaga pun tak perlu khawatir akan kehilangan tiga sahabat karibnya itu.
Tema sederhana yang kerap ditemui pelajar dalam kehidupan sehari-hari juga dituangkan ke dalam cerpen “He is a Ghost”. Mengambil tema perundungan (bullying) yang kerap dialami pelajar di sekolahnya, simpati Rany jatuh pada tokoh rekaannya bernama Nadira Lilyana Damayanti.
Nadira gandrung dengan K-Pop. Ia gemar bernyanyi keras-keras di kelas sampai-sampai “kegilaannya” pada K-Pop itu menjadi alasan Nadira dijauhi teman-temannya. Ia pun mulai diganggu teman-temannya. Sampai pada suatu ketika, Nadira bertemu dengan hantu laki-laki yang kemudian menjadi teman dekatnya.
“Berbeda dengan teman-temannya, hantu itu bersikap baik dan selalu menolong ketika Nadira dalam kesulitan. Hantu itu bersikap lebih baik daripada teman-teman Nadira yang manusia dan suka merundung,” kata Rany.
Tema perundungan juga dipilih Farah Ridzky Ananda (16), siswa SMAN 5 Jakarta, dalam cerpen “Dendrobium” yang juga dijadikan judul buku kumpulan cerpen tersebut. Judul itu dipilih karena dendrobium melambangkan jenis anggrek warna-warni yang indah dan unik. Keindahan dendrobium patut disyukuri dan dijadikan perekat perdamaian, bukan alasan permusuhan.
“Dendrobium itu seperti kita, Indonesia, yang warna-warni. Dendrobium banyak jenisnya, variasinya, dan ketika disandingkan akan menjadi rangkaian bunga yang indah di taman,” kata Farah.
Meningkatkan literasi
Wakil Sekretaris I PW IPNU DKI Jakarta Zainal Hafidz yang juga Ketua Panitia Bersama “Satu Juta Pelajar Menulis” mengatakan, kegiatan menulis cerpen itu akan dijadikan program rutin di IPNU DKI Jakarta mengingat antusiasme pelajar yang sangat tinggi. Kebiasaan menulis erat kaitannya dengan kebiasaan membaca sehingga kegemaran menulis akan banyak terkait dengan kenaikan minat baca.
“Tujuan kami adalah meningkatkan literasi pelajar. Dengan maraknya media sosial dan perkembangan teknologi, pelajar makin jarang membaca buku. Kemampuan mereka dalam menelaah dan memahami suatu persoalan bisa terkikis. Hal ini berbahaya, terutama di tengah gempuran informasi yang disajikan internet. Salah satu yang dikhawatirkan ialah pengaruh paham radikal dan berita-berita bohong atau hoaks,” kata Hafidz.
Tema perdamaian, cinta kasih, dan toleransi perlu terus dipupuk sehingga kesadaran akan hal itu terus tumbuh. Kesadaran itu tidak hanya mengemuka dalam jargon-jargon yang bertebaran di ruang publik, tetapi juga merasuki relung-relung imajinasi pelajar, melekat di benak generasi muda, sehingga akhirnya menjadi suatu kesadaran otentik. Ekspresi itulah yang berusaha dipicu dengan kegiatan literasi dan penulisan cerpen oleh PW IPNU DKI Jakarta. Kegiatan itu didukung Kementerian Pemuda dan Olahraga, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, dan Global Peace Foundation.
Dalam peluncuran buku kumpulan cerpen, Staf Khusus Pemuda Kementerian Pemuda dan Olahraga Zainul Munasichin mengungkapkan rasa bangganya kepada para pelajar yang berhasil memotret tema-tema perdamaian, cinta kasih, dan toleransi dalam kehidupan sehari-hari. Tema-tema tersebut kini terasa kian luntur di tengah kehidupan bermasyarakat. Lebih-lebih perhelatan Pilkada DKI Jakarta belum lama ini telah menimbulkan friksi amat tajam di tengah masyarakat.
“Perbedaan yang tajam akibat momen politik harus diredam dan dihentikan. Pelajar, pemuda, dan IPNU harus menjadi motor bagi peningkatan literasi, semangat toleransi, dan sikap inklusivitas,” kata Zainul.
(RINI KUSTIASIH)
Artikel ini pernah dimuat di harian Kompas edisi 24 Agustus 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...