HomeBeritaSuluh Perdamaian di Kota...

Suluh Perdamaian di Kota Pahlawan

Aliansi Indonesia Damai- Surabaya memiliki sejarah istimewa bagi bangsa Indonesia. Pada 10 November 1945 para pemuda tanpa kenal takut menggempur pasukan sekutu yang hendak kembali menancapkan cengkeraman kolonialisme di bumi pertiwi. Peristiwa herois itu lantas diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kendati demikian, musim gugur adakalanya datang. Dua tahun lalu, kota ini diguncang oleh serangan terorisme yang menyasar sejumlah lokasi. “Adakalanya matahari terang benderang, adakalanya musibah datang. Dan dua tahun lampau, Surabaya menorehkan sesuatu yang tidak harus terjadi,” demikian disampaikan pembina AIDA, Farha Ciciek Assegaf saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan diskusi buku “La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan korbannya” yang digelar AIDA bersama BEM FIB Universitas Airlangga Surabaya, awal Agustus silam.

Baca juga Saatnya Mayoritas Menyuarakan Perdamaian

Peristiwa pengeboman itu digambarkan oleh Ciciek sebagai memori kelam yang melukai nurani. Tidak seperti aksi-aksi terorisme pada umumnya yang dilakukan oleh kalangan laki-laki, rangkaian serangan di Surabaya melibatkan perempuan, bahkan bersama anak-anaknya; satu keluarga inti.

Belajar dari peristiwa, ia mengingatkan bahwa persoalan terorisme bukan hanya persoalan politik, ekonomi, dan sosial semata. Lebih dari itu, menurut Ciciek, persoalan terorisme bahkan bisa bermula dari lingkup terkecil, yaitu keluarga. “Persemaian terorisme bisa dilakukan di dalam rumah, oleh anggota keluarga, oleh orang yang sangat dianggap mustahil untuk menjerumuskan anak-anaknya ke dalam kubangan penderitaan, apalagi maut,” ungkap pendiri lembaga Tanoker Ledokombo Jember itu.

Baca juga Terorisme Bisa Bermula dari Lingkup Keluarga

Ciciek mengajak mahasiswa untuk terlibat dalam perdamaian, khususnya di Surabaya. Harapannya tidak ada lagi kekerasan yang dapat menimbulkan korban tak bersalah. Ia pun optimis, Surabaya akan belajar dari masa kelam untuk membangun masa depan yang lebih damai. “Saya berharap, mudah-mudahan ini yang terakhir kalinya, dan ke depan Surabaya lebih menjadi tegar, karena perdamaian dan hal-hal positif lain yang sangat kita perlukan,” katanya.

Ciciek berharap kegiatan ini dapat membangkitkan kesadaran bersama betapa kekerasan masih menjadi persoalan di Indonesia. Walaupun dengan skala yang kecil, kegiatan ini diharapkan dapat menyalakan suluh perdamaian di Kota Surabaya. “Walaupun kecil, untuk memberikan warna yang lebih baik, tidak terbenam dalam kegelapan dan peristiwa-peristiwa berdarah,” katanya. [AH]

Baca juga Jihad Tak Bisa Dihilangkan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...