HomePilihan RedaksiMenyembuhkan Luka Batin Anak...

Menyembuhkan Luka Batin Anak Korban Bom

Aliansi Indonesia Damai- Dalam salah satu kegiatan virtual AIDA pada Rabu (18/8/2020), salah seorang korban Bom Bali 2002, Ni Luh Erniati, mengisahkan perjuangan kebangkitannya. Peristiwa 18 tahun silam itu selain merenggut nyawa suaminya, juga menyisakan luka batin pada dirinya dan kedua anaknya yang masih sangat belia. Hal paling berat adalah menjelaskan kepada anak-anaknya apa yang sesungguhnya terjadi. 

Erni, demikian perempuan asli Bali ini akrab disapa, harus rutin menjalani konseling psikis. Selain harus menyembuhkan problem psikisnya sendiri, Erni juga bingung bagaimana menjelaskan apa yang terjadi pada dua buah hatinya, terutama si bungsu. Ketika sang anak bertanya mengenai keberadaan sang ayah, Erni kembali dirundung kesedihan.

Baca juga Penyintas Bom Bali Menjadi Ibu Sekaligus Bapak

Pernah suatu ketika, anak bungsunya menangis terus menerus sepanjang malam. Musababnya, ia mendapatkan pelajaran di sekolah tentang silsilah keluarga. Pelajaran tersebut mengingatkannya pada sang ayah. Didorong oleh rasa rindu yang memuncak, sang anak merengek meminta Erni agar membawa ayahnya pulang. Bertahun-tahun Erni memang tak pernah jujur. Ia selalu mengatakan bahwa sang ayah sedang mencari uang dan pada saatnya akan kembali membawakan oleh-oleh.

Hari pertama sang anak merengek, Erni masih bisa mengalihkan pembicaraan. Namun, pada hari-hari berikutnya, tangis anaknya tak kunjung mereda. Saat itulah Erni memutuskan bahwa anaknya mesti tahu yang sebenarnya. Terlebih anaknya sudah berumur sembilan tahun.

Baca juga Penyintas Bom Bali Menjadi Bapak Sekaligus Ibu

Ketika Erni menceritakan hal yang sebenarnya, tangis sang anak kian menjadi-jadi. Ia tidak percaya ayahnya telah tiada. “Gak. Papa gak meninggal. Papa masih ada. Papa harus pulang,” ucap Erni mengenang teriakan anaknya. Tak ayal saat itu mereka berdua menangis bersama.

Anak bungsunya lantas bertanya mengapa Erni menangis. Ternyata ia tak tega melihat ibunya bersedih. “Pas saya menangis, dia bilang, mama kenapa mama kenapa? Mama gak boleh nangis,” kenangnya. Erni menimpali, “Kalau memang adek sayang sama mama, adek cukup, jangan tanya papa lagi! Karena papa sudah di surga. Adek sekarang sama mama dan kakak,” tutur Erni.

Baca juga Penyintas Bom Bali: Lawan Kekerasan dengan Menebar Kebaikan

Erni lantas menyingkirkan barang-barang yang dapat membangkitkan kembali kenangan tentang sang ayah. Erni melepas foto suaminya dari dinding dan menyimpannya di lemari. Butuh waktu tiga tahun bagi si bungsu untuk mengikhlaskan kepergian ayahnya.

Pada usia 12 tahun, ia sudah sanggup menulis surat untuk mendiang ayahnya. “Waktu itu ada peringatan Bom Bali. Ia sudah mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Dalam surat itu ia bilang, Papa tidak akan kembali lagi. Saya berjanji akan menjaga Mama untuk Papa,” ungkap Erni.

Baca juga Nyoman Rencini, Mewujudkan Mimpi Mendiang Suami

Saat ini, Erni rutin berkegiatan dengan mantan pelaku sebagai bagian dari tim perdamaian. Dia sering menceritakan aktivitasnya bersama mantan pelaku kepada anak-anaknya. Dengan menceritakan hal tersebut, Erni ingin menyampaikan pesan kepada anak-anaknya agar tidak menyimpan dendam. Erni selalu mengajak anak-anaknya untuk bangkit dan melupakan masa lalu.

“Akhirnya sampai sekarang anak-anak santai saja (soal kedekatan dengan mantan pelaku). Bahkan kemarin mereka ingin sekali ikut saya berkegiatan. Karena saya selalu menanamkan pentingnya memaafkan dan tidak mengingat masa lalu yang menyedihkan,” ujar Erni.

Baca juga Tarikan Ajaib Bocah Kecil

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...