HomeOpiniKeistimewaan Musibah

Keistimewaan Musibah

Oleh Wiwit Tri Rahayu,
Alumni Ponpes Ar-Risalah Lirboyo Kediri

Dalam menjalani kehidupan dunia, manusia berpapasan dengan musibah dan kebahagiaan yang datang silih berganti. Saat sukacita hadir, banyak orang dengan bangga mengatakan bahwa hal tersebut murni dari hasil jerih payahnya. Sebaliknya ketika kepedihan yang menimpa, manusia dengan entengnya menyalahkan takdir.

Padahal sejatinya, keduanya adalah takdir Allah SWT. Hal ini menunjukkan bahwa manusia masih bingung untuk menyikapi kesulitan dan kesedihan yang sering dianggap sebagai musibah.

Baca juga Mengimunisasi Remaja

Sebagai makhluk sosial, seringkali manusia menunjukkan empati kepada orang yang sedang tertimpa musibah. Hal paling umum yang biasa diutarakan adalah nasihat untuk bersabar. Apakah hal tersebut dikatakan begitu saja secara turun-temurun? Tentu tidak. Pada dasarnya hal tersebut sudah tertulis dengan jelas di Al-Qurán maupun hadis.

Nasihat sabar sebenarnya menunjukkan bahwa manusia tidak bisa mengubah apa pun kecuali mengajak untuk kembali kepada Sang Pencipta. Pada akhirnya konsep sabar memiliki hubungan yang erat antara hati hamba dengan Tuhannya. Sementara Allah menurunkan musibah untuk menguji keimanan seorang hamba.

Baca juga Bersyukur Pantang Mengeluh

Perintah untuk bersabar dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qurán. Salah satunya:

قُلْ يَٰعِبَادِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ رَبَّكُمْ ۚ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا۟ فِى هَٰذِهِ ٱلدُّنْيَا حَسَنَةٌ ۗ وَأَرْضُ ٱللَّهِ وَٰسِعَةٌ ۗ إِنَّمَا يُوَفَّى ٱلصَّٰبِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang beriman, bertakwalah kepada Tuhanmu.” Orang-orang yang berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah luas. Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (Q.S. Az-Zumar Ayat 10).

Baca juga Guru dan Pendidikan Karakter

Orang yang tertimpa musibah adalah golongan orang-orang yang beruntung di akhirat kelak, apabila mau bersabar. Hal ini dijelaskan dalam hadis Nabi SAW sebagaimana tertulis dalam kitab Nashaihul Ibad.

إذا كان يوم القيامة يوضع الميزان فيؤتى بأهل الصلاة فيفّون أجورهم بالميزان ثمّ يؤتى بأهل الصّوم فيوفّون أجورهم بالميزان ثمّ يؤتى بأهل البلاء لا ينصب ميزان و لا ينشر لهم ديوان فيفّون أجورهم بغير حسابا حتّى يتمنّى أهل العافية لو كانوا بمنزلتهم من كثرة ثواب الله تعالى

“Apabila kiamat telah tiba, maka timbangan diletakkan. Lalu ahli salat didatangkan, maka dipenuhi pahala-pahala mereka sesuai perhitungan mizan. Lalu didatangkan orang-orang yang berpuasa dan diterimakan pahala mereka sesuai dengan perhitungan mizan. Dan akhirnya didatangkan orang-orang yang sewaktu hidup di dunia ditimpa musibah. Untuk mereka tidak diperhitungkan dengan mizan dan tidak pula dibentangkan kepada mereka catatan amalnya, lalu diberi pahala sepenuhnya tanpa hitungan. Sehingga orang-orang yang selamat mengharapkan dapat meraih kedudukan seperti mereka karena banyaknya pahala dari Allah SWT.”

Baca juga Fenomena Post-Truth dan Tantangan Perdamaian

Sementara dalam Riyadhus Sholihin Bab Sabar, Abu Said dan Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda, seorang muslim tidak akan ditimpa musibah, baik dari kelelahan, kesakitan, kesedihan ataupun sesuatu yang tidak sesuai dengan kehendak hatinya, baik di masa yang akan datang ataupun yang lampau, melainkan Allah menutupi kesalahan-kesalahannya dengan sebab apa-apa yang mengenainya.

Dalam hadis qudsi dikatakan bahwa mengharapkan ridha Allah ketika mendapatkan musibah merupakan sikap seorang ahli surga.

وَعَنْ أبي هَرَيرَةَ رَضي اللَّه عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّه صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم قالَ : « يَقولُ اللَّهُ تَعَالَى: مَا لِعَبْدِي المُؤْمِنِ عِنْدِي جَزَاءٌ إِذَا قَبضْتُ صَفِيَّهُ مِنْ أَهْلِ الدُّنْيَا ثُمَّ احْتَسَبهُ إِلاَّ الجَنَّة » رواه البخاري

“Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Allah Ta’ala berfirman: “Tidak ada balasan bagi seseorang hamba-Ku yang beriman di sisi-Ku, di waktu Aku mengambil (mematikan) kekasihnya dari ahli dunia, kemudian ia mengharapkan keridhaan Allah, melainkan orang itu akan mendapatkan surga.” (HR Bukhari).

Baca juga Mensyukuri Nikmat di Tengah Pandemi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....