HomeOpiniBersyukur Pantang Mengeluh

Bersyukur Pantang Mengeluh

Oleh Wiwit Tri Rahayu,
Alumni Ponpes Ar-Risalah Lirboyo Kediri

Pada era serbadigital, kita sangat jamak menemui orang yang gemar mengeluh. Media sosial banyak dipenuhi dengan curhat dan keluh kesah masalah-masalah pribadi yang kadang berlebihan. Nikmat Allah tampak seperti hilang. Tak ada lagi rasa syukur. 

Dalam Kitab Nashaihul Ibad diterangkan bahwa Nabi SAW pernah bersabda:

من أصبح وهو يشكو ضيق المعاش فكأنما يشكو ربه و من أصبح لأمور الدنيا حزينا فقد أصبح ساخطا على الله و من تواضع لغني لغناه فقد ذهب ثلثا دينه

“Barang siapa yang di pagi hari sudah mengadukan kesulitan hidupnya (kepada orang lain), maka seolah ia telah mengeluh kepada Tuhannya. Dan barang siapa yang di pagi hari sudah merasa susah dengan urusan duniawinya, maka berarti ia telah membenci Allah pada saat itu juga. Dan barang siapa yang merendahkan dirinya di hadapan orang kaya lantaran melihat hartanya, maka sesungguhnya telah hilang dua pertiga agamanya (dari dirinya).”

Baca juga Guru dan Pendidikan Karakter

Seberat apa pun cobaan yang dihadapi oleh manusia, manusia tidak diperkenankan untuk mengeluh kepada selain Allah SWT. Cobaan yang diberikan kepada manusia selama hidup di dunia merupakan ketetapan atas qadha dan qadar Allah SWT. 

Berkeluh kesah ataupun sedih terhadap ketetapan menunjukkan bahwa manusia tidak terima kepada takdir Tuhannya. Secara tidak langsung, sabda ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan hamba-Nya untuk terus bersikap tangguh, alih-alih mengeluh dan menyesali takdir.

Baca juga Fenomena Post-Truth dan Tantangan Perdamaian

Jika kita lihat pada realita saat ini, keluh kesah manusia umumnya terjadi karena lupa untuk menyadari nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT dan terlalu sibuk melihat serta membandingkan kehidupan orang lain. Begitu juga sebaliknya, banyak orang yang merendahkan orang lain yang dianggap berbeda, padahal perbedaan tersebut tidak pernah berarti di mata Allah SWT. 

Seharusnya manusia melihat perbedaan sebagai nikmat. Dalam kehidupan nyata, umumnya di kalangan remaja, banyak perundungan (bullying) terjadi karena adanya perbedaan yang kemudian dijadikan sebagai bahan olok-olok, misalnya terkait kondisi fisik (contoh, penyandang disabilitas) ataupun ras. Padahal sudah jelas Allah mengatakan QS At-Tiin ayat 4 bahwa manusia diciptakan dengan sebaik-baiknya bentuk. Sehingga, mengeluh apalagi menghina manusia sama saja menghina ciptaan Tuhannya, na’udzu billah.

Baca juga Mensyukuri Nikmat di Tengah Pandemi

Hadis Nabi di atas juga mengingatkan kita agar tidak merasa lebih rendah ketika berhadapan dengan orang yang lebih kaya. Sudah sepatutnya manusia merasa derajatnya sama dengan manusia lain dan tidak merendahkan diri sendiri. Pada dasarnya derajat manusia di mata Allah hanya dibedakan atas iman dan ketakwaan. 

Tidaklah seseorang merasa lebih tinggi dari orang lainnya dikarenakan harta ataupun status sosial yang dimiliki, begitu juga sebaliknya. Bahkan, Allah pun tidak menyukai orang yang sombong atas amal salehnya, dan atau sebaliknya merasa rendah diri karena status sosialnya. Kesombongan adalah hal yang menakutkan karena begitu dibenci oleh Allah SWT. “Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang menyombongkan diri” (Q.S. An Nahl: 23).

Baca juga Sumpah Pemuda: Menyongsong Indonesia Emas

Al-Qur’an dengan tegas menjelaskan bahwa derajat manusia di mata Allah adalah sama, sebagaimana dapat kita lihat melalui alasan turunnya (asbabun nuzul) Surat Al Hujarat ayat 13: 

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”

Baca juga Hijrah untuk Kemerdekaan

Menurut riwayat Ibnu Abbas, ketika peristiwa Fathu Makkah beberapa orang mengejek Bilal karena kulitnya yang hitam. Saat itu Bilal sedang di atas mimbar Ka’bah untuk mengumandangkan azan. Salah seorang sahabat bahkan mengatakan kalimat bernada nyinyir, “Apakah Muhammad SAW tidak menemukan orang selain ‘burung gagak hitam’ ini sebagai muazin?” Malaikat Jibril lantas turun mewahyukan ayat ini sebagai penegas bahwa Islam tidak mengedepankan identitas apa pun kecuali ketakwaan seorang hamba (Tafsir Al-Qurthubi, Vol. 19 hal. 411).

Sementara Abu Dawud meriwayatkan, Nabi SAW memerintahkan Bani Bayadhah agar menikahkan salah seorang putri mereka dengan Abu Hind, bekas budak mereka. Bani Bayadhah sempat “memprotes” perintah tersebut. Ayat ini lantas turun sebagai penjelas bahwa dalam Islam tidak ada perbedaan kasta antara bekas budak ataupun bukan (Ibid, hal. 410).

Baca juga Berkurban dalam Pengorbanan Corona

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meluruskan Pemahaman Jihad

Aliansi Indonesia Damai- Dewasa ini masih banyak kalangan yang memahami jihad...

Berdakwah di Era Digital

Aliansi Indonesia Damai – Banyak kita temui nasehat, “Janganlah belajar agama...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 2-Terakhir)

Aliansi Indonesia Damai- Dari hasil pemeriksaan, dokter memutuskan Budijono harus melakukan...

Membalas Kebencian dengan Kasih (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai – Ibadat Misa Pagi di Gereja St Lidwina...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...