HomeBeritaAksesibilitas Data Kompensasi Korban...

Aksesibilitas Data Kompensasi Korban Terorisme

Aliansi Indonesia Damai – Pada akhir tahun 2020, Negara telah menyerahkan dana kompensasi kepada 215 orang korban terorisme masa lalu. Namun sebagian lainnya masih menunggu kejelasan status permohonannya. Ketua Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), Sucipto Hari Wibowo, menyoroti sulitnya mengakses data perkembangan pengajuan kompensasi.

Pihaknya mengaku sudah melayangkan surat resmi secara elektronik kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) sejak beberapa bulan silam. Surat berisi permohonan penjelasan terkait status korban terorisme masa lalu yang telah mengajukan hak kompensasi. Namun hingga kini belum ada respons sama sekali dari LPSK.

Baca juga Memastikan Kehadiran Negara bagi Korban

“Kami ingin mengetahui proses mana yang sekiranya harus diperbaiki bagi para korban yang belum mendapatkan hak-haknya. Korban perlu untuk tahu agar tidak merasa diperlakukan secara tidak adil oleh negara, lantaran beberapa korban lain telah mendapatkan kompensasi,” ujar Sucipto dalam “Diskusi Kelompok Terfokus secara Daring: Mengawal Implementasi Pemenuhan Hak-Hak Korban Terorisme” yang dihelat AIDA, Senin (28/06/2021).

Pada kesempatan itu, Rianto Wicaksono, Tenaga Ahli LPSK, memaparkan data mutakhir terkait pengajuan kompensasi. Tercatat hingga 20 Juni 2021, total ada 575 orang korban terorisme yang mengajukan kompensasi dan layanan, dengan perincian Gelombang 1 sebanyak 227 orang dan Gelombang 2 ada 348 orang.

Baca juga Tantangan Baru Perlindungan Korban Terorisme

Pada Gelombang 1, ada 220 orang yang diputuskan oleh rapat paripurna LPSK berhak mendapatkan haknya dari negara. 206 orang mendapatkan kompensasi, 11 orang mendapatkan kompensasi dan perlindungan lain seperti psikologis dan psikososial, dan 3 orang ditolak permohonan kompensasinya. “Kompensasi Gelombang 1 sudah diserahkan kepada 215 korban pada akhir tahun 2020 dengan total Rp.39.205.000.000. Untuk Gelombang 2 sedang dilakukan penelaahan,” ujar Rianto memaparkan.

Menanggapi keluhan Sucipto terkait sulitnya mengakses data perkembangan permohonan kompensasi korban terorisme, Rianto mengaku belum bisa memberikan jawaban. Dirinya harus mengecek status surat YPI ke bagian Sekretariat. “Disposisinya Ketua ke mana, nanti saya cek dulu,” katanya.

Baca juga Menyegerakan Kompensasi Korban Masa Lalu

Melalui fitur chat zoom, Meissy Sabardiah, korban Bom Thamrin 2016, berharap LPSK memberikan informasi secara berkala tentang penerimaan permohonan layanan dari korban terorisme dan jumlah yang sudah direalisasikan. Opsi lain, LPSK membuat semacam fitur di website yang hanya bisa diakses oleh korban yang mengajukan layanan, sehingga masing-masing dapat mengetahui status permohonannya. “Misalnya masuk via nomor KTP. Jadi LPSK nggak perlu menjawab case by case.  Masing-masing korban bisa akses sendiri, seperti melihat progress kasus di pengadilan via website,” katanya mengusulkan. [LADW]

Baca juga Mengawal Implementasi PP Hak Korban

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...