HomeBeritaSaat Mahasiswa Berdialog dengan...

Saat Mahasiswa Berdialog dengan Penyintas Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Aksi kekerasan terorisme meninggalkan dampak luar biasa bagi korbannya. Sebagian korban mengalami luka-luka dan kehilangan sebagian anggota tubuhnya. Sementara sebagian yang lain meninggal dunia. Kebanyakan dari mereka juga mengalami trauma. Mereka membutuhkan waktu untuk bangkit karena sulit melepas bayang-bayang kekerasan yang dialami.

Karena itulah, pembelajaran tentang kisah hidup penyintas terorisme menjadi salah satu topik yang didiskusikan oleh ratusan mahasiswa Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Purwokerto secara virtual beberapa waktu lalu. Sebanyak 158 peserta hadir dalam acara bertajuk Diskusi dan Bedah buku la tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya. Dalam acara itu, turut hadir salah seorang penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati.

Baca juga Saat Mahasiswa Bicara Korban Terorisme

Saat mendapatkan kesempatan untuk berdialog dengan Erni, sapaan Ni Luh Erniati, beberapa mahasiswa bertanya langsung dan memanfaatkan fitur chat untuk bertanya tentang lika-liku kehidupan Erni. Khoerul Umam, mahasiswa jurusan Perbandingan Mazhab bertanya tentang dinamika kehidupan keluarga Erni pascakejadian itu.

Erni menjelaskan, dirinya mengalami trauma cukup lama. Ia tak kuasa ketika mendengar suara ledakan atau melihat kepulan asap sekalipun hanya berasal dari bakar-bakaran biasa. Penderitaan itu makin nyata ketika ia harus memikirkan masa depan kehidupan anak-anaknya yang masih kecil. Ketika itu kehidupan keluarganya sangat terpuruk, bahkan Erni harus melakukan terapi psikis. “Saya ikut konseling, saya minum obat penenang,” ujarnya.

Baca juga Dialog Mahasiswa ITT Purwokerto dengan Eks Napiter

Desi Purwanti, mahasiswi jurusan Bimbingan Konseling Islam, menanyakan apakah trauma itu masih ada sampai saat ini. Erni mengaku, trauma kadang-kadang masih ada, namun perlahan sudah sedikit teratasi.

Erni juga mendapatkan pertanyaan dari mahasiswa Fakultas Ilmu Tarbiyah, Chubbi Syauqi, mengenai pandangan dirinya terhadap agama Islam setelah menjadi korban. Pasalnya para pelaku aksi terorisme kerapkali melakukan perbuatannya atas dalih perjuangan agama Islam.

Baca juga Menyelesaikan Krisis Menghindari Ekstremisme

Menjawab hal itu, Erni mengaku tak percaya bila Islam mengajarkan kekerasan. Ia mengaku tak pernah menaruh benci terhadap umat Islam. “Saya meyakini tidak pernah ada agama yang mengajarkan kekerasan, itu hanya pemikiran beberapa orang yang salah,” ungkapnya.

Sementara Indazen Milati, mahasiswi jurusan Hukum Keluarga Islam, bertanya apakah Erni masih menyimpan dendam terhadap pelakunya. Erni menegaskan tak menaruh sedikit pun dendam. Malahan Erni mengaku sudah memaafkan pelakunya, karena dengan memaafkan Erni merasa beban psikis dan keterpurukan itu dapat diatasi. “Saya memaafkan mereka. Saya menitip harapan kepada mereka (pelaku) agar tidak ada lagi muncul korban-korban,” ujarnya.

Baca juga Meluruskan Nalar Konspiratif Terorisme

Erni yang juga pengurus Isana Dewata, komunitas penyintas bom Bali, menegaskan bahwa dendam tidak akan menyelesaikan masalah. Karena itu ia menganjurkan kepada anak-anak muda Indonesia agar tidak menjadi pendendam dan berusaha menjadi orang yang mencintai perdamaian. “Saya tahu persis ketika saya terpuruk dan sedih. Justru itu yang membuat saya semakin terpuruk. Saya mengajak kita semua hidup berdampingan untuk mewujudkan perdamaian,” tuturnya.

Dengan mengampanyekan perdamaian lewat kisah-kisahnya, Erni berharap tidak ada lagi aksi-aksi kekerasan sehingga tidak ada lagi korban-korban yang harus menderita seperti dirinya. Ia mendapatkan apresiasi dari para mahasiswa karena mampu menjadi pribadi yang inspiratif. “Jujur, saya sangat sedih mendengar cerita Ibu Erni. Terima kasih atas kisah-kisahnya. Selalu semangat Ibu Erni, strong woman,” ucap salah seorang mahasiswa. [AH]

Baca juga Dialog Mahasiswa ITT Purwokerto dengan Penyintas Bom Kuningan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...

Tidak Larut dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Agus Kurnia, penyintas bom Thamrin 14 Januari 2016, mengaku sejak menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Jakarta, dirinya memutuskan untuk tidak larut dalam kesedihan dan kemarahan. Menurutnya, apa yang sudah terjadi tidak mungkin kembali seperti semula. Pada 14 Januari 2016, Agus...

Santri Belajar Perdamaian dari Penyintas dan Mantan Pelaku

Aliansi Indonesia Damai- “Perasaan saya setelah mengikuti kegiatan ini bangga. Bangga kenapa? Bangga karena tidak ikut-ikutan jadi teroris.” Seorang santri Pondok Pesantren Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten menyampaikan kesan tersebut saat mengikuti Pengajian & Diskusi dengan tema ‘Menyerap Ibroh dari Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme’ beberapa waktu lalu. Dalam...