HomeBeritaCerita Korban "Dua Kali"...

Cerita Korban “Dua Kali” Bom JW Marriott

Hari Jumat tanggal 17 Juli delapan tahun lalu untuk kedua kalinya serangan teror terjadi di Hotel JW Marriott Jakarta. Dua aksi bom bunuh diri menewaskan 9 orang dan melukai lebih dari 50 lainnya baik warga negara Indonesia (WNI) maupun warga negara asing (WNA).

Salah satu yang menjadi korban kejahatan luar biasa tersebut adalah Bambang Triyanto, petugas satuan pengamanan Hotel JW Marriott. Dia tengah bertugas di lantai dua saat pelaku meledakkan diri di lobi hotel. Dari ledakan bom dia mengalami nyeri di dada dan kepala sebelum akhirnya pingsan.

Bambang mengalami trauma mendalam akibat aksi teror Jumat pagi itu. Pasalnya, enam tahun sebelumnya, 5 Agustus 2003, dia juga terluka akibat serangan teror bom. Saat terjadi teror Bom JW Marriott 2003, dia mengalami luka bakar serius hingga membuat badannya melepuh dan menyisakan bekas luka yang sangat terlihat. Dia harus menjalani perawatan selama sekitar satu tahun di Rumah Sakit Pusat Pertamina untuk menyembuhkan luka.

Ia tak habis pikir dua kali dalam hidupnya, di tempat yang sama, tempat dirinya bekerja mencari rizki, dia mengalami penderitaan luar biasa akibat terorisme. “Saya bekerja seperti biasa, dan tidak pernah berpikir mengalami hal ini untuk kali kedua,” ujarnya.

Setelah dua kali menjadi korban bom di Hotel JW Marriott memang sempat terlintas di pikiran Bambang untuk berpindah dari tempatnya bekerja. Pihak keluarga pun menyerahkan sepenuhnya kepada Bambang apakah akan tetap bekerja di hotel tersebut atau berhenti saja. Akan tetapi, dia justru menunjukkan dedikasi dan hingga kini masih bekerja di Hotel JW Marriott Jakarta.

Hari ini setelah delapan tahun berlalu meskipun tidak ada peringatan secara seremonial, memori duka dari tragedi teror itu terus terbayang dalam ingatan para korban. Selain orang-orang seperti Bambang yang terkena dampak langsung, di antara mereka juga ada yang kehilangan suami, istri, anak, atau saudara akibat tindak pidana itu.

Peristiwa Bom JW Marriott 2009 dikenal juga sebagai Bom Mega Kuningan. Dua hotel mewah di kawasan bisnis Mega Kuningan Jakarta Selatan, Hotel JW Marriott dan Hotel Ritz-Carlton diserang bom bunuh diri. Serangan terjadi dua hari sebelum kedatangan klub Liga Inggris Manchester United yang dijadwalkan melakukan pertandingan persahabatan melawan Indonesian All Stars. Para pemain dan official United sebelumnya akan menginap di Ritz-Carlton. Karena aksi teror tersebut klub top Eropa tersebut membatalkan lawatan ke Indonesia. (SWD)

Sumber: suara merdeka, kompas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...