HomeBeritaSiswa SMAN 8 Surakarta...

Siswa SMAN 8 Surakarta Belajar dari Penyintas Bom Bali

Aliansi Indonesia Damai- “Apakah Ibu Ni Luh pernah memiliki perasaan benci dan dendam setelah kejadian Bom Bali? Dan bagaimana proses yang dijalani Ibu sehingga bisa ikhlas dengan musibah tersebut?” Pertanyaan tersebut terlontar dari siswi SMAN 8 Surakarta kepada Ni Luh Erniati, korban tak langsung peristiwa Bom Bali 2002, dalam Dialog  Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang digelar AIDA beberapa waktu lalu di SMAN 8 Surakarta Jawa Tengah.

Akibat bom yang meledak di kawasan Kuta, Bali, 19 tahun silam, Gede Badrawan, suami Erniati, meninggal dunia. Mau tak mau Erniati harus menjadi orang tua tunggal bagi kedua buah hatinya yang kala itu masih sangat belia. Rasa sakit atas kehilangan suami sekaligus ayah bagi kedua putranya tidak bisa ditutupi begitu saja.

Baca juga Hikmah dari Kehidupan Penyintas dan Pelaku Terorisme

Amarah dan rasa tidak terima dengan apa yang telah terjadi membuatnya semakin terpuruk. Ia mengaku sempat merasa benci dan dendam terhadap para pelaku. Namun kemudian ia menyadari bahwa perasaan itulah yang membuatnya semakin sakit.

“Suatu hari  pada waktu itu saya mencuci baju, tanpa sadar mata saya menangis. Kemudian saya sadar, loh kok saya nangis? Tangan saya mencuci, namun pikiran saya entah marah-marah dengan siapa. Kenapa saya seperti ini?” ungkap Ni Luh yang kemudian menyadari bahwa dirinya tengah  ‘sakit’.

Baca juga Pesan Perdamaian Pelajar Surakarta (Bag. 1)

Keluarga dan teman-temannya memberikan support kepada Ni Luh agar bisa mengendalikan emosi dan tidak terlalu terpuruk. Mengingat anak-anaknya sangat membutuhkan Ni Luh dalam tumbuh kembangnya. Selain support dari keluarga, ia juga berusaha untuk sembuh dengan jasa psikiater.

“Ni Luh, kamu tidak boleh mati sebelum benar-benar mati. Kata-kata itulah yang disampaikan seorang teman kepada saya. Dan selalu saya pegang hingga saat ini,” ucap Ni Luh mengingat kata-kata ampuh dari seorang teman yang menguatkannya.

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Surakarta dengan Penyintas Bom Kuningan

Ni Luh memutuskan untuk tidak lagi menyimpan amarah dan dendam. Sejak saat itu ia merasa sehat dan dapat melakukan apa pun dengan lebih baik.

“Apa motivasi Bu Ni Luh bisa tetap semangat menjalani hidup sampai detik ini?” ucap peserta yang lain.

Menanggapi pertanyaan tersebut dengan tegas Ni Luh mengungkapkan bahwa motivasi terbesar dalam hidupnya adalah anak-anak. “Saya punya tekad bagaimana saya harus mampu membesarkan dan memberikan pendidikan terbaik kepada anak-anak, lebih dari yang orang tuanya dapatkan. Karena itu adalah cita-cita saya dengan almarhum,” ucapnya.

Baca juga Ketangguhan Penyintas di Mata Siswa SMAN 2 Surakarta

Kepada kedua anaknya, Ni Luh terus menekankan agar tidak menyimpan dendam. ”Kita harus bisa menerima kenyataan, apa yang terjadi sudah jalan hidup yang harus dilalui. Sekalipun kita balas mereka, tidak akan mengubah  apa yang telah terjadi, dan Bapak tidak akan pernah bisa kembali pulang.”

Seorang siswi mengaku mendapatkan pembelajaran yang sangat berharga dari kisah Ni Luh. “Jika kita menerima cobaan hidup, maka jalani dan ikhlaskan saja. Jangan menebar kebencian yang bisa menghancurkan kedamaian,” ucapnya.

Baca juga Menyemai Bibit Perdamaian di SMAN 4 Surakarta

Sementara seorang peserta lainnya mengungkapkan terima kasih telah diberikan kesempatan untuk belajar karakter tangguh dalam acara tersebut melalui selarik pantun,

“Pergi ke Jakarta lewat jalan Sudirman
Habis jalan-jalan mampir ke rumah Rega
Terimakasih bapak/ ibu yang budiman
Sudah memberikan ilmu yang berharga.” [SWD]

Baca juga Dialog Siswa SMAN 4 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa...

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...

Penyesalan Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menyesal dahulu pernah bergabung dalam jaringan kelompok teroris. Andai waktu bisa diputar kembali, ia tak ingin menjadi bagian jaringan tersebut. “Saya kadang suka berpikir seandainya waktu bisa diputar...

Mendakwahkan Islam Rahmatan lil Alamin

Aliansi Indonesia Damai- Eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah, Iswanto mengaku dirinya sekarang menjadi duta perdamaian yang mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat termasuk anak didiknya di pesantren. Ia menyampaikan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. “Saya menyampaikan kepada rekan-rekan yang dulu bahwa Islam itu rahmatan lil...

Menjaga Relevansi Program Studi lewat Transformasi

Oleh Alim Setiawan Slamet, Rektor IPB University Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Mei 2026 Setiap tahun perguruan tinggi Indonesia meluluskan sekitar 1,9 juta sarjana. Namun, banyak di antaranya kesulitan mencari pekerjaan yang sesuai. Wacana penataan program studi yang dilontarkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek)...

Mengajak Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Iswanto, eks kombatan konflik Ambon, Maluku dan Poso, Sulawesi Tengah mengaku ia bersama rekan-rekannya di komunitas Yayasan Lingkar Perdamaian aktif merangkul dan mengajak mereka yang masih berpemikiran ekstrem untuk kembali ke jalan perdamaian. “Saya berusaha supaya mereka tidak melakukan aksi kekerasan lagi, bahkan yang masih...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...