HomeBeritaDialog Mahasiswa UHO Kendari...

Dialog Mahasiswa UHO Kendari dengan Ahli Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- AIDA bekerja sama dengan Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (Lakpesdam) PWNU Sulawesi Tenggara menggelar Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, Sabtu (02/10/2021). Salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Solahudin, ahli jaringan terorisme.

Solahudin memaparkan perkembangan mutakhir ekstremisme kekerasan di Indonesia. Merespons paparannya, salah seorang peserta dari Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari menanyakan tentang sejarah awal mula terorisme di Indonesia, serta bagaimana mengategorikan sebuah tindakan sebagai aksi terorisme.

Baca juga Terorisme bukan Ajaran Islam

Menurut Solahudin, terorisme di Indonesia bukan hal yang baru. Asal-usul kemunculannya bisa dilacak dari masa pergerakan Darul Islam/Negara Islam Indonesia (DI/NII) yang dipimpin oleh Kartosuwiryo. DI/NII menjadi cikal bakal kelompok teror di Indonesia. “Kelompok ini adalah kelompok pertama yang menggunakan kekerasan untuk mencapai tujuan mereka dengan motif ideologi,” ujarnya. 

Solahudin mengutip salah satu riset yang menyatakan bahwa korban kekerasan gerakan DI/NII mencapai lebih dari 200.000 warga sipil. DI/NII juga menjadi cikal bakal Jamaah Islamiyah (JI) yang telah ditetapkan pemerintah Indonesia sebagai korporasi terorisme.

Baca juga Wawasan Wasathiyah Tangkal Ekstremisme

Jika dirunut lebih jauh, akar terorisme bahkan telah muncul pada zaman Khilafah Rasyidah, di mana kaum Khawarij mengkafirkan para sahabat Rasulullah Saw serta melakukan aksi penumpahan darah mereka. “Semua itu dilakukan berbasis pemahaman agama,” ucap Solahudin.

Menjawab pertanyaan kedua, Solahudin mengutip definisi terorisme menurut UU No. 5 Tahun 2018 yang mengatakan bahwa terorisme adalah aksi kekerasan yang didasari oleh motif ideologi. “Aksi perampokan menjadi aksi kriminal biasa kalau tidak punya motif ideologi. Namun lain cerita kalau ada motif ideologi,” katanya.

Baca juga Imam Besar Istiqlal: Amalkan Al-Qur’an secara Objektif

Ia mencontohkan kasus perampokan Bank CIMB Niaga yang terjadi di Medan pada tahun 2010. Aksi tersebut awalnya dikira sebagai aksi perampokan biasa. Namun dari hasil penyidikan dan persidangan di pengadilan, para pelaku juga dilatari motif ideologi. Mereka memandang perbankan adalah institusi yang salah, bukan merupakan ajaran Islam. Karena itu mengambil harta dari institusi tersebut diperbolehkan untuk mendanai perjuangan mereka. Walhasil aksi tersebut dikategorikan sebagai terorisme.

Dalam hemat Solahudin, cara termudah untuk mengetahui ada atau tidaknya motif ideologi dari sebuah aksi adalah dengan mengikuti persidangan. Pasalnya di forum pengadilan tersebut, seluruh informasi dapat diverifikasi sehingga memudahkan untuk memahami motif dari tindakan yang dilakukan. [WTR]

Baca juga Dialog Ulama Sulsel dengan Penyintas Bom Thamrin

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...