HomeBeritaImam Besar Istiqlal: Amalkan...

Imam Besar Istiqlal: Amalkan Al-Qur’an secara Objektif

Aliansi Indonesia Damai- “Sebagian orang Islam menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang sangat subjektif, oleh kepentingan subjektif, dan untuk tujuan-tujuan subjektif pula. Padahal Al-Qur’an adalah kitab objektif, dan secara objektif diterapkan dalam masyarakat.”

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Imam Besar Masjid Istiqlal, KH. Nasaruddin Umar, saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama, yang diselenggarakan AIDA, akhir Agustus lalu. Kegiatan diikuti puluhan tokoh agama dari berbagai organisasi Islam wilayah Sulawesi Selatan.

Baca juga Dialog Ulama Sulsel dengan Penyintas Bom Thamrin

Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta itu menjelaskan, subjektifitas memahami Al-Qur’an seringkali menimbulkan persoalan dan kontradiksi di masyarakat. Pola ini biasanya dilakukan oleh kelompok ekstrem, yaitu aliran yang berusaha melakukan perubahan dan pembaharuan dengan menempuh cara keras dan ekstrem.

Dalam hematnya, ada beberapa cara pandang mereka yang kurang tepat. “Melakukan interpretasi dalil agama sesuai dengan ideologinya, memotong-motong ayat atau hadis, tidak mencantumkan sebab turunnya ayat atau hadis sesuai dengan wurud hadis, dan menganggap penafsiran yang berbeda dengan mereka adalah salah,” ujarnya menjelaskan ciri-ciri kelompok ekstrem tersebut.

Baca juga Jubir Wapres Mendorong Berdakwah dengan Ibroh

Dari persoalan tersebut, Nasaruddin mengingatkan bahwa umat muslim harus kembali kepada ajaran Islam yang sesungguhnya. Islam adalah agama universal yang berisi norma-norma dan nilai-nilai. Dalam Al-Qur’an, Islam disebutkan secara universal bukan partikular. Islam adalah agama yang sempurna, namun tidak memaksakan umatnya untuk mengamalkan agama sesempurna mungkin, jika masih memiliki keterbatasan-keterbatasan sebagai manusia.

“Maka dari itu tidak boleh secara sepihak disalahkan atau dikafirkan karena keterbatasan tadi atau sebaliknya tidak boleh juga disepelekan. Tetap harus berusaha menjalankan agama sesuai dengan kemampuan masing-masing,” ujarnya.

Baca juga Penyintas Bom Ajak Ulama Sulsel Bangun Perdamaian

Menurut dia, secara bahasa Islam bermakna damai, tunduk, dan pasrah. Karenanya tidak mungkin Islam menjadi agama kekerasan. “Jika ada orang memerkenalkan Islam dengan cara-cara kekerasan maka itu bukan ajaran Islam,” ucapnya tegas.

Nasarudin mengutip hadis Nabi, bahwa dari 6666 ayat dalam Al-Qur’an, jika dipadatkan intinya adalah Al-Fatihah. Jika Al-fatihah dipadatkan lagi intinya pada ayat pertama, yaitu kata Ar Rahman dan Ar Rahim. “Jika Al-Qur’an dipadatkan menjadi satu kosa kata, maka kosa kata itu adalah Ar Rahman, yaitu cinta,” tuturnya.

Baca juga Direktur AIDA: Tokoh Agama Benteng Ekstremisme

Maka dalam hematnya, jika ada orang memerkenalkan Al-Qur’an dengan kebencian dan kemarahan, sejatinya ia tidak memahami hakikat Islam. Dicontohkannya, ketika ada salah satu sahabat Nabi baru masuk Islam tapi tidak mau shalat. Nabi tidak memarahi dan membenci, namun mendakwahinya dengan lemah lembut dan penuh kasih sayang, sehingga dia mau melaksanakan shalat dengan ikhlas dan penuh kesadaran. [FKR]

Baca juga Jubir Wapres Mendorong Berdakwah dengan Ibroh

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....