HomeBeritaDirektur Pemasyarakatan: Pembinaan...

Direktur Pemasyarakatan:
Pembinaan Napiter untuk Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Dalam beberapa tahun ke depan akan banyak narapidana kasus terorisme (napiter) yang akan bebas dan kembali ke masyarakat. Maka sangat penting mengupayakan agar napiter tidak kembali terjerat ajaran kekerasan. Dalam konteks ini peran petugas Lapas sangat penting dalam membina mereka demi terciptanya perdamaian di Indonesia.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Thurman S. M Hutapea, Direktur Binapi Latkerpro Ditjen Pemasyarakatan Kemenkumham, saat membuka kegiatan Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan, akhir Maret lalu di Depok Jawa Barat. Kegiatan digelar oleh AIDA bekerja sama dengan Ditjen Pas Kemenkumham. Partisipan kegiatan berjumlah 22 orang petugas dari 13 Lapas di Indonesia.

Baca juga Petugas Lapas Garda Terdepan Pembinaan Napiter

Menurut Thurman, petugas Lapas harus mempunyai strategi yang tepat agar mampu berkomunikasi secara baik dengan setiap warga binaan pemasyarakatan (WBP), khususnya napiter. Ia membagikan pengalamannya saat bertugas sebagai kepala salah satu Lapas. Ia mencari dan mempelajari informasi awal tentang napiter yang dibinanya. Hal ini penting guna menerapkan pola pembinaan yang tepat sehingga napiter bersedia menaati aturan-aturan Lapas. “Jika informasi awal yang diperoleh salah, maka para petugas akan kesulitan dalam membina WBP,” ujarnya.

Thurman mendorong para petugas Lapas rajin mengikuti segala pelatihan dalam rangka menambah pengetahuan dan keterampilan. “Saya sendiri setiap ada kegiatan pelatihan dari mana pun, termasuk oleh AIDA selalu ikut. Hal ini penting karena mereka (mitra Ditjen Pas: red) sudah membantu dan meringankan tugas kami,” katanya.

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Petugas Lapas

Lebih lanjut ia mengapresiasi para petugas Lapas yang mampu bekerja dengan baik meskipun banyak tantangan yang harus dihadapi. “Saya akui masih banyak kekurangan sana-sini, dari mulai fasilitas sarana dan prasarana, namun para petugas tetap bisa melaksanakan tugasnya dengan baik, terbukti dari tercapainya target pembinaan,” ujarnya.

Mengutip data Ditjen PAS, pada awal tahun 2022 ini para petugas berhasil mendorong 26 orang napiter menyatakan ikrar setia kepada NKRI. “Persentase keberhasilan 52 persen dalam tahun 2022 ini. Pencapaian tersebut tidak lepas dari perjuangan para petugas pemasyarakatan, termasuk AIDA dan mitra-mitra lain,” ujar Thurman memungkasi sambutannya. [FKR]

Baca juga Dialog Mantan Napiter dengan Petugas Lapas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...