Suara Korban
Mulailah Berdamai Dengan Diri Sendiri
“Saya mengalami beberapa luka di bagian tubuh. Adapun luka yang paling besar adalah luka buta di mata sebelah kanan dan gendang telinga sebelah kiri rusak.” Aliansi Indonesia Damai- Pernyataan itu disampaikan Iswanto, salah seorang korban bom Kuningan tahun 2004 dalam salah satu acara bersama Aliansi Indonesia Damai (AIDA). Meskipun tragedi…
Read More »Luka Itu Tak Membuatnya Dendam pada Teroris
Aliansi Indonesia Damai – Terorisme akan terus menjadi momok menakutkan bagi seluruh manusia. Demikian pula bagi Zaidin Zaenal, ayah empat orang anak yang menjadi korban kejamnya teroris yang menyerang Kedutaan Australia pada 9 September 2004 silam. Bagi Zaidin, kejadian tersebut menyebabkan trauma mendalam baginya hingga kini. Seperti hari-hari biasanya, pagi…
Read More »Membahagiakan Saudara yang Berujung Malapetaka
Aliansi Indonesia Damai– Tidak satu pun orang menginginkan dirinya menjadi korban kekerasan, apalagi terorisme. Demikian pula dengan Agus Kurnia, penyintas Bom Thamrin 14 Januari 2016 silam. Meskipun mengaku telah memiliki firasat buruk sebelumnya, namun Agus sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa dia dan adik angkatnya akan mengalami tragedi tersebut. Masih…
Read More »“Bukan karena Teroris Kakakmu Nggak Ada”
Aliansi Indonesia Damai – “Rasanya sakit. Perih. Dampaknya terlalu besar bagi keluarga saya,” tutur Reni Agustina Sitania dalam sebuah kegiatan AIDA di Probolinggo pekan lalu. Mata perempuan itu berkaca-kaca dan suaranya terdengar parau. Reni kehilangan saudara kandungnya, Martinus Sitania, akibat ledakan bom di Kedutaan Besar Australia di kawasan Kuningan, Jakarta…
Read More »Berdamai dengan Kekhawatiran
Aliansi Indonesia Damai- Tak butuh waktu lama baginya untuk memberi maaf. Sepekan pascamusibah, Desmonda Paramartha justru memanjatkan doa kepada Tuhan, “Ampunilah mereka sebab mereka tak tahu apa yang mereka perbuat.” Obyek dalam doanya adalah para pelaku Bom Surabaya Mei 2018 yang telah mencederainya. Mentari pagi di langit Surabaya bersinar terang.…
Read More »Pesan Terakhir Ayah Kepada Sang Anak
Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan seseorang yang sangat kita cintai bukanlah perkara yang mudah. Terlebih bila seorang itu meninggal dunia dengan cara yang tidak lazim karena menjadi sasaran dalam sebuah serangan terorisme yang sangat tak “manusiawi”. Hal itulah yang pernah dirasakan oleh Yuni Arsih 15 tahun lalu. Ia harus rela menjadi…
Read More »Belajar dari Semangat Sudirman Mengejar Mimpi
Aliansi Indonesia Damai – Baru tiga bulan bekerja, kejadian nahas itu terjadi. Ledakan bom yang memporak-porandakan tempat kerjanya membuat Sudirman A. Talib tak hanya harus menjalani operasi berkali-kali. Ia juga kehilangan mata kiri akibat tertancap serpihan bom. Sungguh perjalanan hidup yang tak mungkin akan pernah terlupakan. Apalagi akibat ledakan bom…
Read More »“Saya Mengikhlaskan Semua Itu”
“Saya pikir tidak terjadi apa-apa, karena saya tidak pernah kontrol. Tetapi, kalau mengedip ada cahaya di mata saya. Lama-lama kok cahaya itu semakin terang. Akhirnya saya periksa, ternyata pembuluh darah retina pecah.” Demikian Ruli Anwari menceritakan sakit yang dideritanya akibat serangan teror Bom Kuningan yang terjadi pada 9 September 2004…
Read More »Ikhlas Atas Musibah Yang Terjadi
Memberikan maaf kepada orang yang pernah berbuat salah adalah sikap yang amat mulia karena hal itu sangat dianjurkan dalam ajaran agama. Namun demikian, memaafkan bukanlah perkara mudah, terutama bagi korban aksi terorisme. Luka dan duka pasti tak akan hilang begitu saja. Sebagaimana dirasakan wanita bernama Wartini, yang kehilangan suaminya, Syahromi…
Read More »Mewujudkan Harapan Mendiang Suami
Aliansi Indonesia Damai – ”Ming, Bapak tidak pulang, Bapak sudah tidak ada. Jangan dipikirkan ya, masih ada ibu, masih ada kakek,” kata Wayan Rasni Susanti kepada putra ketiganya yang masih balita. Anak berusia 3 tahun itu selalu menunggu kedatangan sang ayah, Made Sujano yang meninggal dunia dalam tragedi Bom Bali…
Read More »










