HomeBeritaBerita Terorisme dari Sudut...

Berita Terorisme dari Sudut Pandang Korban Dinilai Minim

Jakarta, NU Online
Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menyelenggarakan Short Course bertajuk “Penguatan Perspektif Korban Peliputan Isi Terorisme Bagi Insan Media”. Kegiatan dilaksanakan di Ibis Budget, Menteng, Jakarta pada 25-26 Mei 2016.

Perwakilan AIDA, Muhammad Maghfurrodhi, dalam sambutannya mengatakan, kegiatan ini bertujuan untuk menguatkan pemberitaan media massa dengan sudut pandang korban aksi terorisme. Disebutkan olehnya, korban adalah realitas dari tragedi yang terjadi.

Lebih lanjut, Maghfurrodhi menambahkan,  untuk membangun Indonesia yang lebih damai membutuhkan keterlibatan semua pihak, termasuk media massa. Menurutnya, selama ini AIDA, telah melakukan beberapa upaya di antaranya mengadvokasi pemenuhan hak-hak korban terorisme.

Merujuk UU Nomor 15 tahun 2003, sebagai pengesahan atas UU Nomor 1 2002 tentang Pemberantasan Terorisme pada Bab 6 pasal 36-42 disebutkan hak hak korban terorisme.

“Tetapi pada kenyataannya banyak korban terorisme belum diperhatikan. Misalnya dalam pemberian kompensasi, sampai hari ini ada korban yang telah dapatkan kompensi, tapi ada yang belum ada,” ujarnya.

Sementara itu, Laode Arham dalam sesi diskusi “Memahami Perspektif dan Realitas Korban”. Dengan kegiatan ini diharapkan selain memperkuat perspektif korban dalam peliputan media, juga mendorong para Jurnalis agar menyediakan ruang bagi suara korban dalam liputan atau pemberitaan isu terorisme.

Arham menyayangkan di Indonesia, pelaku terorisme lebih diperhatikan daripada korban. Perhatian yang lebih kepada korban, justru berasal dari pemerintah negara asing.

“Dalam pemberitaan terorisme di media massa harus berpespektif korban, agar bisa membuat para korban semakin dekat untuk mendapatkan seluruh hak-hak dan peran mereka,” imbuhnya.

Liputan tentang korban sejatinya sangat soft, jauh dari sensional apalagi kontroversial. Selain itu, persentase pemberitaan terkait terorisme khususnya tentang korban terorisme tidak lebih dari 25 persen.

Menurut Arham, temuan media monitoring AIDA bahwa pemberitahuan RUU Pemberantasan Tindak Pidana Terorisme hanya berfokus pada pencegahan dan penindakan. Akibatnya, terkesan abai terhadap hak-hak korban, misalnya pemberitaan kasus kematian Siyono lebih membahas tentang HAM bagi terduga teroris, sedangkan HAM bagi korban tetap masih diabaikan.[TS]

Sumber:http://www.nu.or.id/post/read/68483/berita-terorisme-dari-sudut-pandang-korban-dinilai-minimBerita ini ditulis oleh: Kendi Setiawan/Mahbib

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...