HomeBeritaMenyemai Perdamaian dari Lapas

Menyemai Perdamaian dari Lapas

Para peserta berfoto bersama setelah mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan di Surakarta, Selasa (11/10/2016).
(Dok. AIDA) Para peserta berfoto bersama setelah mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan di Surakarta, Selasa (11/10/2016).

 

Masih lekat betul dalam ingatan Wartini suara mendiang suaminya, Syahromi, saat menahan sakit di bagian kepalanya. Syahromi meninggal dunia dua tahun setelah terkena ledakan Bom Kuningan 2004. Dari hasil pemeriksaan medis, gendang telinganya mengalami luka parah akibat peristiwa teror itu. Pelbagai upaya pengobatan telah ditempuh hingga akhirnya ia harus menghadap Tuhan pada usia 38 tahun.

“Kalau pas lagi sakit, dia teriak-teriak. Mungkin saking sakitnya. Nggak tega melihatnya,” ujar Wartini mengenang. Saat ditinggal suami, dia sedang mengandung anak ketiga. la lantas bekerja serabutan demi membesarkan ketiga buah hatinya. Perempuan berjilbab ini bersyukur, dengan bantuan beasiswa dari beberapa pihak, anak pertamanya telah lulus dari bangku perguruan tinggi, sedangkan anak kedua dan ketiganya masih bersekolah.

Kisah itu dituturkan Wartini di hadapan para peserta Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan Wilayah Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), di Surakarta, Jawa Tengah, pertengahan Oktober 2016. “Saat kejadian bom itu, suami saya bekerja sebagai petugas keamanan di kantor Kedubes Australia,” katanya menambahkan.

Selain Wartini, hadir pula Nagiyah Aprilia, janda mendiang Harna, korban Bom JW Marriott 2003. Saat ledakan terjadi, Harna yang bekerja sebagai pengendara taksi sedang menunggu penumpang di pelataran parkir hotel. Nagiyah mengaku sempat marah dan tidak bisa menerima kenyataan itu. “Kenapa kok suami saya? Dia kan tak bersalah. Dia tulang punggung keluarga,” ujarnya.

Seiring waktu, Nagiyah menyadari bahwa peristiwa tersebut adalah suratan takdir. la terus berikhtiar untuk membesarkan ketiga buah hatinya. “Saya berharap tak ada lagi aksi teror yang justru menimbulkan korban-korban tak bersalah,” ia berpesan.

Salah seorang peserta dari Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Pasirputih Nusakambangan mengaku salut terhadap Wartini dan Nagiyah. Meski kehilangan suami tercinta akibat peristiwa tragis dan lantasmenjadi orang tua tunggal, keduanya mampu mengantarkan anak-anak mengenyam pendidikan sampaiperguruan tinggi. “Ibu berdua perempuan hebat, karena nggaksemua orang bisa begitu, bisa menerima kenyataan pahit, bangkit dari penderitaan, dan bisa merawat anak-anak,” dia menuturkan.

Peserta lain dari Lapas Pekalongan berkomitmen untuk menyampaikan pesan moral keduanya kepada warga binaan pemasyarakatan (WBP) tindak pidana terorisme. “Meski kasus terornya beda, mereka (para WBP) juga punya anak-istri. Semoga kisah ibu berdua bisa mengubah atau setidaknya meminimalisasi pandangan mereka,” kata dia.

Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, dalam pelatihan mengungkapkan kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat perspektif korban di kalangan petugas Lapas. Para petugas setelah bertemu, menyaksikan dampak terorisme dalam diri korban,serta berdialog langsung dengan korban, dapat menyampaikan kisah korban saat berdialog dengan WBP terorisme. “Kisahkorban diharapkan dapat memancing empati dan pikiran kritis WBP terhadap ideologi kekerasan atas nama agama yang diyakininya sebagaikebenaran,” ujarnya.

Seminar Penanganan Terorisme di Lapas

Sebelum Pelatihan Petugas Pemasyarakatan berlangsung, diselenggarakan kegiatan seminar terbuka “Penanganan Terorisme di Lapas”sebagai bagian dari Program Aksi Nasional (Prognas) Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum danHak Asasi Manusia untuk Penanggulangan Terorisme. Bertindak sebagai narasumber seminar adalah Dirjen Pemasyarakatan, I Wayan Kus- miantha Dusak, dan pakar terorisme dari UniversitasIndonesia, Solahudin.

Dusak mengapresiasi salah satu program AIDA yang bekerja sama dengan Ditjen Pemasyarakatan,yaitu Dialog Korban dengan WBP Terorisme.

Dalam paparannya, dia mengungkapkan beberapa permasalahan yang dihadapi Ditjen Pemasyarakatan dalam program pembinaan WBP terorisme. Secara kuantitatif, jumlah WBP terorisme sangat kecil dibandingkan dengan WBP kasus tindak pidana lainnya. Namun, pembinaan WBP terorisme membutuhkan pendekatan khusus lantaran terkait dengan ideologi yang bersemayam dalam diri WBP. “Ideologi radikal tak bisa diubah. Yang bisa, bagaimana ideologi itu tak berkembang,” kata dia.

Dalam pandangannya, keberhasilan pembinaan WBP terorisme sangat bergantung komponen, yaitu petugas Lapas, pemerintah,masyarakat, dan swasta. Petugas Lapas sebagai pembina, pemerintah sebagai fasilitator, masyarakat sebagai pihak yang akan menerima kembali mantan WBP, dan swasta (badan usaha) juga berperan penting. “WBPterorisme sudah kita latih di Lapas tetapi begitu keluar tidak ada yang menampung, tidak ada modal, maka rawan kembali lagi ke habitatnya,” terangnya.

Dalam seminar, pakar terorisme, Solahudin, mengungkapkan bahwa ancaman penularan paham radikal antarWBP, khususnya yang berafiliasi dengan kelompok ISIS, di dalam Lapascukup tinggi. Hal ini menuntutsrategi penanganan yang tepat untuk membina WBP terorisme sekaligus meminimalisasi penyebaran paham radikal. [MSY]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...