HomeSuara Korban“Ujian yang Kita Hadapi...

“Ujian yang Kita Hadapi Tak Melebihi Kekuatan Kita”

Albert Christiono, penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004. [dok. AIDA]
Albert Christiono, penyintas aksi teror Bom Kuningan 2004. [dok. AIDA]

Albert Christiono Simatupang ialah salah satu korban ledakan bom yang terjadi di depan Kedutaan Besar Australia di Jakarta, 9 September 2004. Sebuah mobil bermuatan bom meledak tepat di depan gedung Kedutaan yang berlokasi di Jl. HR Rasuna Said kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Investigasi polisi menyebutkan bahwa kelompok teroris Jemaah Islamiyah yang berafiliasi dengan Al-Qaeda bertanggung jawab atas pemboman itu.

Aksi terorisme tersebut menimbulkan korban tewas dan luka-luka. Albert ialah salah satunya. Dia mengalami luka di bagian kepala setelah serpihan logam mengenainya.

Saat kejadian, pemuda bersuku Batak itu sedang berada di dalam bus kota. Dia merasakan bus yang ditumpanginya seperti terangkat ke atas akibat ledakan bom. Selepas ledakan besar itu baik bus yang dia naiki maupun kendaraan-kendaraan lain yang sedang melintas seketika berhenti. Asap putih pekat sempat menyelimuti area di sekitar Kedutaan. Setelah asap lenyap, Albert melihat banyak orang terkapar dengan luka yang mengenaskan.

Dia kemudian ditolong oleh seseorang, dilarikan ke rumah sakit terdekat. Setelah itu dia menjalani perawatan lanjutan di Rumah Sakit St. Carolus Jakarta Pusat. Masa perawatan dan penyembuhannya di rumah sakit secara keseluruhan selama 23 hari, termasuk menjalani operasi pengambilan serpihan logam di kepala.

Meskipun terluka dan mengalami trauma, Albert mengaku tidak menyimpan dendam dan rasa benci terhadap pelaku aksi teror. Alasannya, dalam ajaran agama yang diyakininya ditekankan agar setiap manusia memiliki sifat kasih.

Sehari sebelum peristiwa bom, dia bersama komunitasnya sesama umat Kristiani melakukan pendalaman Alkitab di rumah seorang anggota. Dari kajian agama malam itu dia mengingat pesan pendeta bahwa ujian yang dihadapi setiap individu tidak akan melebihi kekuatan individu tersebut untuk melaluinya.

Setelah tragedi bom belasan tahun berlalu, Albert dipertemukan dengan mantan pelaku aksi terorisme untuk pertama kalinya dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Bukittinggi, Sumatera Barat. Dia kalahkan rasa ingin balas dendam yang ada di hati dan memilih untuk memaafkan mantan pelaku.

“Ujian yang kita hadapi tidak akan melebihi dari kekuatan kita. Ketika diuji, Tuhan akan memberikan jalan keluar dari ujian yang diberikan,” kata dia dalam sebuah kegiatan AIDA di Surabaya Juli lalu.

Saat ini Albert aktif menggalang persatuan di antara rekan-rekannya sesama korban aksi teror bom di Kedutaan Besar Australia tahun 2004 dalam komunitas yang diberi nama Forum Kuningan. Di dalam komunitas itu para anggotanya saling menguatkan mental dan memberikan semangat untuk selalu berpikir positif menghadapi musibah serta menyongsong masa depan. Dia juga aktif menjadi anggota Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), perkumpulan korban aksi teror yang terjadi di Indonesia, di antaranya korban Bom Bali 2002 dan 2005, korban Bom JW Marriott 2003, korban Bom Kuningan 2004, dan korban Bom Thamrin 2016. Albert beberapa kali terlibat dalam kegiatan YPI yang bekerja sama dengan AIDA untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat.

Dalam kegiatan di Surabaya, dia mengutip pesan seorang pejuang hak asasi manusia Martin Luther King Jr. “Jika seseorang belum menemukan sesuatu untuk diperjuangkan hingga akhir hayatnya maka kehidupannya tidak berharga,” kata Albert mengutip King.

Albert mengaku sering merenungkan nasihat bijak itu dan ingin berjuang semampunya untuk mengampanyekan perdamaian agar tidak ada lagi tindak terorisme di Indonesia. “Karena sudah jelas bahwa tidak ada satu pun agama di muka bumi yang menganjurkan saling membunuh atau saling menyakiti antarsesama umat manusia,” kata dia. [HPD]

 

*Disarikan dari penuturan Albert Christiono dalam kegiatan Short Course Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme bagi Insan Media di Surabaya, 10-11 Juli 2018.

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...