HomeBeritaKampanye Perdamaian di SMA...

Kampanye Perdamaian di SMA Muhammadiyah 6 Paciran

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangkaian safari kampanye perdamaian di sekolah di Kabupaten Lamongan, Aliansi Indonesia Damai (AIDA) mengunjungi Pondok Pesantren Karangasem Paciran, Senin (18/2/2019). Dalam kunjungan itu AIDA menyelenggarakan Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Hadir sebanyak lima puluh siswa-siswi yang terdiri dari perwakilan SMA Muhammadiyah 6, SMK Muhammadiyah, dan Madrasah Aliyah (MA) Muhammadiyah Paciran dalam kegiatan pagi itu.

AIDA menghadirkan korban dan mantan pelaku yang telah menjalin rekonsiliasi untuk berbagi semangat ketangguhan kepada para siswa peserta Dialog Interaktif. Pada kesempatan di Ponpes Karangasem Paciran pagi itu, hadir Agus Kurnia -penyintas aksi teror Bom Thamrin 2016- mewakili korban, dan Choirul Ihwan -seorang mantan narapidana kasus terorisme yang telah bertobat- sebagai mantan pelaku.

Di hadapan para santri Muhammadiyah di Paciran, Agus Kurnia berbagi pengalaman hidupnya ketika harus melawan sakit akibat terkena bom. Pada saat serangan teror bom di Jl. MH Thamrin Jakarta Pusat terjadi, Agus sedang berjalan kaki. Tanpa peringatan tiba-tiba bom meledak. Ia mengingat harus berjuang sendiri menahan sakit serta menyelamatkan diri, menjauh dari lokasi ledakan. Posisinya ketika itu tepat berada di samping pelaku bom. “Saya menyelamatkan diri berjuang mati-matian agar saya bisa berdiri lagi. Kalau saya tetap terkapar, saya bisa terinjak-injak orang karena semuanya berhamburan dan tidak mempedulikan orang lain,” paparnya.

Agus Kurnia di SMA Muhamadiyah 6 Paciran
Agus Kurnia, penyintas Bom Thamrin 2016, dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Muhamadiyah 6 Paciran, Senin (18/2/2019).

Meskipun demikian, Agus Kurnia mengaku ikhlas atas semua yang telah terjadi kepadanya. Ia memilih menjadi duta damai dan memberi pesan kepada generasi muda untuk menjaga keragaman di Indonesia karena perbedaan adalah keniscayaan. Agus juga mengajak untuk bersama-sama menjaga Negara ini. “Mari menghargai perbedaan karena dalam hidup selalu akan ada perbedaan. Kita harus bersama-sama menjaga persatuan Indonesia. Kita harus memaafkan masa lalu, termasuk memaafkan mereka yang pernah berbuat salah kepada kita,” ujarnya.

Narasumber lainnya, Choirul Ihwan, berbagi pengalaman sebagai pihak yang pernah menjadi bagian dari kelompok kekerasan. Choirul mengaku masuk ke dalam jaringan terorisme berawal dari pertemanannya dengan salah seorang aktivis kelompok kekerasan yang mengajaknya masuk ke dalam jaringan itu. “Saya masuk jaringan terorisme berawal ketika berkenalan dengan seseorang yang jauh di atas saya. Kita mendiskusikan berbagai isu, termasuk pendirian Negara Islam,” katanya.

Sejak bergabung dengan kelompok teroris, pria asal Madiun, Jawa Timur itu mengaku bahwa pemahaman keagamaannya menjadi amat ekstrem. Ia menganggap keberadaan Indonesia sebagai sebuah negara adalah sebuah kebatilan. Menurut kelompoknya, Negara ini tidak berlandaskan hukum agama sehingga pantas disebut thaghut, musuh Tuhan. Pada titik paling ekstrem, ia bahkan mengafirkan orang-orang yang memiliki KTP. Baginya, orang yang mengurus KTP dan mendapatkan kemanfaatan dari KTP berarti sejalan dengan thaghut. “Saya bergabung dengan organisasi keagamaan bernama MMI (Majelis Mujahidin Indonesia). Saya merasa di organisasi ini lebih mengenal Islam daripada di dalam keluarga. Saya juga bergabung dengan Jamaah Taliban Melayu. Puncaknya, saya mengafirkan keluarga dan orang-orang yang menggunakan KTP,” jelasnya.

Setelah sekian lama menjadi bagian dari kelompok teroris, Choirul tiba-tiba merasakan kerinduan akan kasih sayang ibu. Selama tiga hari berturut-turut ia mengaku sosok ibundanya hadir dalam mimpinya. Dari momen itulah secara setahap demi setahap ia mampu meninggalkan dunia kekerasan dan kembali ke jalan yang benar. “Di dalam hati, ada kerinduan yang luar biasa kepada ibu saya. Jika tidak meninggalkan kelompok ini, saya merasa berdosa kepada ibu,” tuturnya terbata-bata.

Para siswa peserta Dialog Interaktif di Pesantren Muhammadiyah Paciran mengaku beruntung bisa mengikuti kegiatan ini sebagai bekal untuk memperkuat pemahamannya akan pentingnya menjaga perdamaian. Mereka menilai kegiatan ini adalah pembelajaran berharga karena bisa belajar langsung dari orang yang pernah mencoba merusak perdamaian, serta dari orang yang menjadi korban akibat kejahatan itu. Menurut salah seorang siswa, para korban terorisme yang telah memaafkan pelaku adalah cerminan seorang hamba yang mengamalkan ajaran Alquran. Sebab, mereka termasuk orang-orang luar biasa yang memiliki ketabahan dan keikhlasan menerima semua yang terjadi.

“Para korban terorisme sesungguhnya telah mengamalkan ajaran al-Quran untuk memaafkan kesalahan orang lain. Insyaallah mereka adalah orang-orang luar biasa. Dengan ketabahannya mereka rela memaafkan. Padahal kalau secara logika, itu semua amat sulit. Mungkin seandainya saya yang mengalami itu, mungkin akan sangat berat sekali kita bisa memaafkan pelaku teroris itu. Mudah-mudahan Allah menyediakan surga bagi mereka,” kata dia. [AH]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...