HomeBeritaPenyintas Aksi Teror di...

Penyintas Aksi Teror di Surakarta Dapat Pendampingan LPSK

ALIANSI INDONESIA DAMAI– Dua penyintas aksi teror di Gereja Bethel Injil Sepenuh (GBIS) Surakarta mendapat pendampingan dan bantuan dari Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Hal ini disampaikan wakil ketua LPSK, Maneger Nasution saat melakukan kunjungan ke Kantor Walikota Surakarta, Kamis (28/2/2019), dilansir laman lpsk.go.id.

LPSK memberikan program pendampingan rehabilitasi psikososial bagi korban terdampak dari aksi tindak pidana terorisme itu dengan menggandeng Pemerintah Kota Surakarta. “Pertemuan ini merupakan kelanjutan dari pertemuan sebelumnya pada November 2018,” ujar Manager Nasution.

Petugas rumah sakit membawa korban luka usai terjadinya ledakan bom bunuh diri di gereja di Solo, Jawa Tengah, (25/09/2011). Photo: Reuters
Petugas rumah sakit membawa korban luka usai terjadinya ledakan bom bunuh diri di gereja di Solo, Jawa Tengah, (25/09/2011). Photo: Reuters

Ia menjelaskan, jumlah korban yang mendapatkan layanan rehabilitasi psikososial sebanyak dua orang dengan dua kebutuhan, yakni jaminan kesehatan dan bantuan modal usaha. “Tak menutup kemungkinan kita merehabilitasi korban-korban terorisme lainnya,” terangnya.

Secara terpisah, Wakil Walikota Surakarta, Achmad Purnomo menyatakan kesiapan pihaknya dalam melindungi dan menjaga warganya dari bahaya terorisme. Selain itu, Pemkot juga melindungi korban yang berstatus sebagai warga Solo.

“Pada prinsipnya kami sangat peduli terhadap warga dan mendukung untuk membantu mereka yang menjadi korban tindak pidana, khususnya terorisme. Pemerintah Kota Surakarta menyiapkan dukungan terhadap korban berupa jaminan kesehatan dan modal usaha,” jelasnya.

Terkait kebutuhan tersebut, para korban yang membutuhkan modal dapat mempersiapkan proposal pengajuan modal usaha untuk diajukan ke Pemkot Surakarta. Nantinya mereka akan diberi pendampingan sesuai dengan jenis usaha yang digeluti.

Sementara itu, Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, secara terpisah menyebutkan bahwa masih banyak korban aksi teror yang tidak tersentuh oleh pemerintah. Pada acara Peringatan Tiga Tahun Aksi Teror Bom Thamrin di Jakarta awal Januari lalu, Hasibullah menyatakan bahwa masih banyak korban terorisme yang belum mendapatkan hak-haknya. Terkait kompensasi, para korban terorisme di masa lalu seperti Bom Bali 2002 dan 2005, Bom JW Marriott 2003, dan Bom Kuningan 2004, sama sekali belum menerimanya.

“Kompensasi bagi korban lama itu menjadi kebutuhan yang sangat besar karena melihat dari jumlah korban. Kebanyakan yang belum mendapatkan kompensasi justru dari korban lama. Sampai hari ini kan kurang lebih dari korban Thamrin 13 orang yang mendapatkan kompensasi, dari korban bom Kampung Melayu 3 orang, Medan 1 orang, Samarinda juga demikian, mungkin hanya 20-an orang yang dapat kompensasi. Sementara ratusan korban lainnya itu belum dapat kompensasi,” katanya.

Ia menambahkan, salah satu kendala dari pemberian kompensasi kepada korban lama karena belum adanya Peraturan Pemerintah (PP) sebagai aturan turunan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018. Padahal, kebutuhan akan PP cukup mendesak karena mencakup implementasi dari hak-hak para korban. “PP ini yang memberikan rincian syarat apa saja yang harus dipenuhi oleh para korban, dan PP itu yang saat ini ditunggu-tunggu oleh korban,” pungkas Hasibullah. [KAN]

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...