HomeInspirasiSuara Mantan PelakuJalan Panjang Mantan Kombatan...

Jalan Panjang Mantan Kombatan Menuju Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Kisah pertobatan seseorang dari ideologi ekstrem tidak selalu bermula dari kesadaran akan pahamnya yang keliru. Pertobatan pelaku terorisme bisa datang dari kisah korban yang menderita seumur hidup akibat ledakan bom. Kisah korban dengan segala keterbatasannya, termasuk harus kehilangan sebagian anggota tubuh, bahkan nyawa sekalipun, telah menginspirasi sejumlah kombatan dan pelaku terorisme untuk bertobat dan meninggalkan kelompok ekstrem. Iswanto salah satunya.

Mantan kombatan yang pernah terlibat konflik kekerasan bersenjata di Maluku dan Sulawesi Tengah tersebut mengaku menyesal teramat mendalam setelah mengetahui kondisi korban aksi terorisme. Para korban tidak tahu-menahu persoalan yang disasar teroris, namun harus menderita terdampak aksi kekerasan. Tertembus serpihan bom, mengalami luka bakar, kehilangan anggota tubuh hingga menjadi cacat atau minimal tidak dapat beraktivitas normal seperti sedia kala, adalah di antara dampak aksi teror yang harus diderita korban. Meskipun demikian, bagi sebagian korban, kenyataan itu adalah takdir yang tak bisa dihindari, karena itu mereka bangkit dan menerima keadaan.

Melihat ketabahan korban sungguh tamparan bagi Iswanto yang pernah bergabung dengan kelompok teroris. ”Bagaimana jika itu terjadi pada keluarga saya?” ungkap Iswanto menyadari begitu mengerikannya dampak terorisme.

Baca juga Lika-liku dan Titik Balik Mantan Pelaku Terorisme Menuju Pertobatan

Bertemu korban dan mendengarkan kisah mereka membuat Iswanto benar-benar sadar bahwa kekerasan ekstrem sesungguhnya amat keji karena merampas kesempurnaan tubuh dan hidup setiap korbannya. Korban-korban yang pernah ia temui ada yang harus kehilangan kedua kakinya sehingga menggunakan kaki palsu. Sebelum benar-benar bisa menggunakan kaki besi tersebut, ia jatuh bangun berbulan-bulan untuk berlatih keseimbangan. Dari kisah korban, Iswanto semakin yakin bahwa tindakan terorisme adalah perbuatan salah dan melukai kemanusiaan. Korban lainnya harus kehilangan penglihatan, dan sebagian yang lain harus menyandang status janda atau duda karena pasangannya terenggut nyawanya akibat aksi teror.

Saat berbagi kisah hidupnya dalam sebuah kegiatan AIDA di Malang pada Maret lalu, Iswanto menceritakan bahwa semasa muda ia tergolong remaja desa yang giat dalam kajian keagamaan. Ia menimba ilmu agama cukup lama, tepatnya di sebuah pesantren di Kecamatan Solokuro, Lamongan dari 1992 hingga 1996. Di sana Iswanto muda mendapatkan doktrin-doktrin yang mengarah pada kekerasan, seperti pelajaran jihad yang terus-menerus diajarkan sebagai tindakan perang. Dalam pandangan Iswanto ketika itu, jihad adalah perang.

Karena itu, setelah lulus dari pesantren ini, Iswanto berbaiat kepada Jemaah Islamiyah (JI) pada tahun 1997. Organisasi ini dikenal berafiliasi dengan Al-Qaeda, kelompok teroris terbesar di Timur Tengah pada zaman itu. Pada tahun 1999, Iswanto menemukan momentum untuk terlibat dalam jihad karena pada saat itu, terjadi konflik komunal di wilayah Poso, Sulawesi Tengah. Beberapa bulan kemudian ia berpindah ke Ambon, Maluku untuk terlibat dalam konflik serupa.

Iswanto dalam sebuah kegiatan kampanye perdamaian AIDA di sebuah sekolah di Ambon pada 2016.

Setelah beberapa waktu bergelut di wilayah konflik, Iswanto mendapatkan panggilan dari pimpinannya untuk pulang ke Lamongan, dan menikah, tepatnya pada tanggal 16 Agustus 2002, dua bulan sebelum tragedi Bom Bali. Para pimpinannya memberikan sebuah kado pernikahan berupa sekotak amunisi. Iswanto menganggap hadiah itu adalah isyarat agar ia tidak lupa berjihad, yang ia maknai sebagai perang. Semangat jihad pun menggelora kembali di dalam jiwanya. Namun demikian, setelah tragedi Bom Bali meletup, terjadi pergolakan batin dalam dirinya. Ia menyaksikan satu persatu pimpinan dan anggota jaringannya ditangkap aparat keamanan dengan tuduhan pasal terorisme.

Iswanto makin gelisah karena dua tahun setelahnya ia menerima surat dari salah satu pelaku Bom Bali 2002, Ali Imron, untuk tidak melanjutkan tindakan kekerasan. Meskipun demikian, ia bimbang karena di saat yang sama ia juga mendapatkan perintah dari Amrozi, salah seorang terpidana mati Bom Bali 2002, untuk tidak kendor melakukan jihad. Iswanto gundah dan bingung harus memilih perintah yang mana, sebab kedua guru itu begitu dipatuhinya. Namun pada akhirnya, di tengah kegalauan itu, ia memilih melanjutkan perjalanan intelektual dengan bersekolah.

Di usianya yang sudah kepala tiga pada waktu itu, ia mengikuti Kejar Paket C, ujian kesetaraan untuk mendapatkan ijazah setara sekolah menengah atas (SMA). Meskipun terbilang tua, ia tidak malu demi pendidikan. Setelah lulus, Iswanto melanjutkan kuliah di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Budi Utomo Malang, dengan mengambil jurusan Sastra Indonesia. Ia juga mendapatkan beasiswa S2 di salah satu perguruan tinggi swasta di Surabaya, dengan mengambil jurusan Pendidikan Agama Islam.

Baca juga Dulu Kombatan, Kini Pendidik

Selaras dengan aktivitasnya melanjutkan pendidikannya yang sempat terbengkalai lantaran terlibat di dunia kekerasan, Iswanto mempelajari kembali ajaran-ajaran agama. Ia sampai pada kesimpulan bahwa jihad memiliki pengertian yang amat luas, tidak hanya perang. Bahkan, ia kemudian memahami bahwa menimba ilmu juga bagian dari jihad.

Seiring berjalannya waktu, Iswanto yang awalnya sangat membenci orang-orang non-muslim, perlahan-lahan mulai membuka diri. Ditambah lagi, pergaulannya yang makin luas, terutama bertemu dengan orang-orang yang beragama lain, membuat pemikirannya lebih terbuka. “Ternyata mereka juga memiliki sifat yang mulia, etika yang baik, dan mereka tidak mengganggu kita,” katanya.

Di masa-masa berikutnya kemudian, Iswanto dipertemukan dengan sejumlah korban terorisme dalam kegiatan AIDA. Ia merasa terenyuh ketika menyaksikan ketangguhan para korban yang ikhlas atas musibah yang dihadapi. Kisah ketangguhan korban membuatnya sadar bahwa jalan yang pernah ia lalui adalah salah dan melenceng dari ajaran agama yang sesungguhnya.

“Dulu saya ke sini untuk berperang, namun sekarang saya ke sini untuk menebar perdamaian,”

Jalan yang ditempuh Iswanto kini tak lagi dunia kekerasan. Bersama para korban dan AIDA, Iswanto memilih untuk mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat. Ia berharap, pengalamannya bisa menjadi inspirasi publik agar lebih peduli terhadap perdamaian. Saat berkesempatan mengikuti kegiatan kampanye damai bersama AIDA di Ambon, ia berujar, “Dulu saya ke sini untuk berperang, namun sekarang saya ke sini untuk menebar perdamaian,” katanya.

Selain menjadi aktivis perdamaian, sehari-hari Iswanto juga menjadi guru dan pembimbing umroh. Bila di masa lalu ia membimbing orang untuk melakukan kekerasan, saat ini ia membimbing umat untuk beribadah dan menebar rahmat. Selain itu, ia juga membuka usaha toko dan perlengkapan rumah tangga. Katanya dengan nada bergurau, “Dulu saya jualan amunisi, sekarang saya jualan sandal, diapers, yang sifatnya lebih lentur namun lebih banyak manfaatnya dan tidak menyakiti orang lain.”

Dalam setiap kesempatan bersama AIDA, secara pribadi ia selalu memohon maaf kepada para korban terorisme karena pernah sejalan dengan kelompok yang mendukung kekerasan. [SWD]

Baca juga Kisah Pertobatan Eks-Kombatan, Iswanto

Most Popular

2 COMMENTS

Leave a Reply to Tiga Pesan Damai Mantan Ekstremis untuk Generasi Muda | ALIANSI INDONESIA DAMAI - AIDA Cancel reply

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...