HomeBeritaRektor UIN Surabaya: Kekerasan...

Rektor UIN Surabaya: Kekerasan Selalu Melahirkan Korban

Aliansi Indonesia Damai- Setiap aksi kekerasan atas nama apa pun hampir selalu menimbulkan korban tak bersalah. Karena itulah kekerasan tidak bisa menjadi solusi bagi permasalahan sosial dan harus dihindari.

Pandangan tersebut dikemukakan oleh Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya Jawa Timur,  Masdar Hilmy, saat menjadi keynote speaker dalam kegiatan seminar perdamaian yang digelar AIDA di Malang beberapa waktu silam. Kegiatan tersebut dihadiri oleh perwakilan mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Jawa Timur.

Baca juga Saatnya Mahasiswa Menebar Damai

Dalam paparannya, Masdar mengajak mahasiswa untuk tidak melakukan kekerasan fisik dan terus menjaga perdamaian Indonesia. Ia mencontohkan derita fisik yang dialami para korban terorisme sebagai dampak nyata aksi-aksi kekerasan. “Begitu kekerasan terjadi, semua hancur berantakan, banyak korban bergelimpangan. Ada yang kehilangan kaki, tangan, dan anggota tubuh lainnya. Bagi yang meninggal, mereka harus kehilangan orang-orang tercinta,” ujarnya.

Pelbagai aksi terorisme yang kerap kali mengatasnamakan perjuangan agama, terbukti justru merusak Islam itu sendiri. Pasalnya, korban yang terkena dampak dari aksi-aksi terorisme lebih banyak adalah seorang muslim. “Anda bisa lihat kehancuran yang disebabkan oleh perang dan kekerasan di Timur Tengah. Delapan dari korban kekerasan, tujuh di antaranya adalah umat muslim sendiri,” terangnya.

Baca juga Menghindari Paham Ekstremisme di Media Sosial

Guru Besar Sosiologi ini mengingatkan bahwa kehancuran suatu peradaban diawali oleh aksi-aksi kekerasan. Hal itu sebagaimana terjadi dalam sejarah peradaban umat manusia di mana peradaban besar sekalipun akan hancur bilamana konflik tak dikendalikan secara baik dan berujung pada kekerasan peperangan. “Kita bisa lihat kehancuran dinasti-dinasti besar dalam sejarah Islam, seperti Bani Umayah, Bani Abbasiyah. Semua karena kekerasan,” tegasnya.

Karena itu perdamaian di Indonesia menjadi tanggung jawab seluruh elemen bangsa. Bila kekerasan terus dipelihara, tak dimungkiri, Indonesia juga bisa kehilangan kekayaan budayanya. “Andai kata di Indonesia terjadi kekerasan terus menerus, akan timbul kehancuran, maka tidak ada lagi warisan budaya leluhur kita. Tidak ada lagi candi-candi yang akan tersisa,” katanya.

Baca juga Membentengi Kampus dari Ekstremisme

Salah satu upaya untuk menjaga perdamaian menurut Masdar adalah dengan menghormati perbedaan yang ada. Selain itu, ia mengajak mahasiswa agar memaknai agama secara benar dalam bingkai perdamaian. “Jangan sampai kita tidak mau mengakui kelompok yang berbeda. Allah tidak mungkin memaksa orang menjadi seragam. Ayat Al-Qur’an jangan dijustifikasi untuk melakukan kekerasan,” katanya. [AH]

Baca juga Dari Mahasiswa untuk Perdamaian Indonesia

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id...

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...