HomeBeritaTiga Tahun Bom Kampung...

Tiga Tahun Bom Kampung Melayu: Penyintas Move On (Bag. 2-Terakhir)

Berbeda dengan Jihan dan Pipit yang memang berdiri di kompleks Terminal Kampung Melayu saat bom meledak, Tasdik Saputra sedang mengendarai sepeda motornya kala mendengar ledakan keras seperti ban bus pecah. Malam itu ia dalam perjalanan pulang dari kantornya. Jalanan padat karena tengah berlangsung pawai obor untuk menyambut bulan Ramadan.

Karena mendengar suara teriakan, Tasdik memutuskan turun dari kendaraannya dan berniat membantu korban yang terluka, kendati belum menyadari apa yang sebenarnya terjadi. Terlihat olehnya seorang polisi berlumuran darah tergeletak di bawah motor-motor yang roboh. Saat merundukkan badan untuk mengangkat tubuh polisi tersebut, ledakan kembali terjadi. “Jarak ledakan sekitar tiga meter dari posisi saya waktu itu,” ujarnya mengingat.

Baca juga Tiga Tahun Bom Kampung Melayu: Penyintas Move On (Bag. 1)

Sembari berlari menjauh dari titik ledakan, Tasdik merasakan darah mengucur deras dari tangannya. Saat merabanya, ia merasa kulit tangan kanannya robek panjang seperti seekor ikan yang dibelah. Telinganya juga terus berdengung.

Otot tangan kanan Tasdik ternyata putus. Ia harus menjalani rawat inap selama seminggu di rumah sakit, selebihnya perawatan jalan dan terapi rutin. Ia absen bekerja selama 1 bulan penuh untuk pemulihan.

Setelah tiga tahun peristiwa tragis itu berlalu, Tasdik mengaku ikhlas menerima apa yang terjadi. Tidak tebersit rasa dendam dan marah kepada para pelaku. “Semua berharap tidak ada yang ingin menjadi korban. Namun jika saya bertemu dengan pelaku tidak akan mendendam. Saya berfikir positif kepada Allah Swt,” ucapnya beberapa waktu lalu.

Baca juga Setelah 22 Tahun, Sudan Divonis Bayar Kompensasi Korban Terorisme

Mirip dengan Tasdik, Agung Nugroho Laksono yang berprofesi sebagai sopir angkutan kota juga terkena ledakan bom kedua saat hendak membantu mengevakuasi korban. Dampak serangan teror itu, Agung harus menjalani operasi pada bagian kakinya. Selama 6 bulan lamanya, ia berhenti bekerja karena harus rutin ke rumah sakit untuk menjalani rehabilitasi medis, serta menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.

Meski sempat marah kepada pelaku, Agung kini tidak lagi menaruh perasaan dendam. “Saya berpikir yang utama masih diberikan kesehatan. Kejadian ini sudah lama, saya sudah lepas semua hati dan pikiran. Saya tidak mendendam sama sekali,” tuturnya.

Baca juga Peristiwa Iman sebagai Pendewasaan

Melepaskan kemarahan dan dendam adalah pintu awal untuk membangun rekonsiliasi dan terciptanya kedamaian antarpihak. Athalia Amer dalam The Oxford Handbook of Religion, Conflict, and Peace Building (2015) memaknai rekonsiliasi sebagai persandingan dan bererat tangan dengan bersikap adil kepada kedua belah pihak.

Bagi korban bom, pilihan untuk memaafkan bisa jadi pilihan yang berat. Namun hal itu memberikan energi positif bagi mereka. Pipit, Jihan, dan Agung kini telah tergabung dalam Tim Perdamaian AIDA. Bersama mantan narapidana terorisme yang telah insaf, mereka bahu-membahu mengampanyekan perdamaian kepada khalayak luas. [FS]

Baca juga Mendengar Penuturan Pendamping Korban Bom Surabaya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...