HomeBeritaTiga Tahun Bom Kampung...

Tiga Tahun Bom Kampung Melayu: Penyintas Move On (Bag. 1)

Menjelang Ramadan tiga tahun silam, tepatnya 24 Mei 2017 malam, dua ledakan bom mengguncang kawasan Terminal Kampung Melayu Jakarta Timur. Peristiwa itu menyebabkan lima orang meninggal dunia (dua di antaranya adalah pelaku) dan puluhan lainnya mengalami cedera.

Salah seorang korban luka adalah Susi Afitriyani, mahasiswi salah satu kampus swasta di Jakarta. Saat menunggu angkutan umum yang akan mengantarkannya pulang ke indekos, bom meledak di dekat tempatnya berdiri. Pipit, demikian sapaan akrab Susi Afitriyani, mengalami cedera di beberapa bagian tubuhnya. Berdasarkan hasil pemeriksaan medis, tulang pangkal lengan kanannya patah, sehingga harus dipasang pen yang masih menancap hingga kini.

Baca juga Setelah 22 Tahun, Sudan Divonis Bayar Kompensasi Korban Terorisme

Secara psikis Pipit juga sempat mengalami trauma. Ia kerap merasa ketakutan saat mendengar suara petasan. “Kadang suka trauma. Namun, saya sadar rasa trauma ini harus dilawan untuk kebaikan diri saya ke depannya. Karena jika tidak, kita akan selalu ketakutan,” ujarnya dalam kegiatan AIDA beberapa waktu silam.

Perempuan asal Brebes ini nyaris patah arang untuk bisa merengkuh gelar sarjana, lantaran kondisi fisiknya yang tak lagi prima. Namun dorongan dan semangat dari orang-orang di sekelilingnya membuatnya bangkit.

Baca juga Peristiwa Iman sebagai Pendewasaan

Pipit mengaku telah mengikhlaskan semua yang terjadi. Memendam amarah tak akan mengembalikan semua seperti sedia kala. Sebaliknya Pipit bertekad menjemput masa depannya dengan melanjutkan pendidikan meskipun dengan kondisi tubuh yang tak lagi prima. Baginya, tiada kata menyerah dalam hidup.

Saat kejadian, Pipit sedang bersama Jihan Thalib, teman sekampusnya yang juga menjalani peran seperti Pipit, bekerja di siang hari dan menjalani kuliah malam. Jihan juga mengalami cedera di banyak bagian tubuhnya. Untuk memulihkan kondisinya, perempuan peranakan Arab ini harus menjalani operasi untuk mengeluarkan gotri yang bersarang di tubuhnya.

Baca juga Mendengar Penuturan Pendamping Korban Bom Surabaya

Tangannya pun terluka. Total ada 7 jahitan di punggung dan 5 jahitan di tangan. Gendang telinga Jihan pecah akibat kerasnya suara ledakan. Bukan hanya itu, secara psikis, Jihan juga mengalami trauma selama sekitar 4 bulan. “Saya takut ketika mendengar suara ledakan petasan karena rasanya seperti dikembalikan ke masa itu. Saya juga takut melewati daerah tersebut,” katanya.

Ia meyakinkan dirinya bisa melewati rasa takut dan nyatanya berhasil. Masa-masa sulit bisa cepat dilaluinya karena berdamai dengan diri sendiri dan menerima keadaan. Dukungan dan motivasi dari keluarga juga sangat membantu Jihan melalui hal tersebut.

Baca juga Peristiwa Iman untuk Pemaafan

“Saya mencoba berusaha bersyukur dan ikhlas dengan keadaan. Kita tentu pernah mengalami ketidakpuasan dalam hidup ini. Namun ketika ada banyak orang yang keadaannya lebih terpuruk, saya merasa tidak seharusnya merasa demikian. Dengan begitu saya merasa lega,” ujarnya.

Peristiwa-peristiwa menyakitkan seperti kecelakaan atau kekekerasan memang kerap memicu munculnya gangguan psikis. Kombinasi keikhlasan menerima apa yang menimpa, kepasrahan pada Allah, dan optimisme menjemput masa depan memercepat pemulihan fisik dan psikis dua perempuan muda itu. (bersambung) [FS]

Baca juga Dua Tahun Bom Surabaya: Ikhlas Obat dari Segala Obat

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Menjadi Bangsa Juara

Oleh Hasibullah Satrawi, Penulis adalah pecinta Timnas Indonesia. Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara,...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...