HomeBeritaTeroris Tak Dilihat dari...

Teroris Tak Dilihat dari Penampilan Fisik

Aliansi Indonesia Damai- Pelaku terorisme maupun penganut ekstremisme kekerasan tak bisa dilihat dari penampilan fisik, cara berpakaian, dan hal-hal simbolis lainnya. Hal yang harus diperhatikan adalah pemahaman dan perilakunya, seperti mudah menuduh orang lain kafir, menganggap demokrasi sebagai kesyirikan, dan cenderung eksklusif dalam pergaulan.

Alumni Pelatihan Perdamaian AIDA, Ananda Arif Amelya mengatakan hal itu dalam acara Forum Mahasiswa “Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya,” pada Selasa 13 Juli 2020. Kegiatan tersebut digelar AIDA secara daring dengan melibatkan puluhan mahasiswa Universitas Negeri Malang.

Baca juga Dari Mahasiswa untuk Perdamaian Indonesia

Menurut Ananda, banyak orang salah kaprah memahami pelaku terorisme di Indonesia, bahkan terjebak pada streotip dan stigma. “Banyak orang mengira muslim yang bercadar, berjenggot, diidentikkan dengan teroris. Padahal teroris tidak bisa hanya dilihat dari bentuk fisiknya,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Ananda berbagi pengalamanan kepada rekan-rekannya tentang lika-liku kehidupan mantan pelaku terorisme yang penuh dengan pembelajaran. Dia merasa beruntung bisa memeroleh informasi yang valid dari sumbernya.

Baca juga Mahasiswa Rentan Terpapar Ekstremisme

Mahasiswi Fakultas Ekonomi UM ini mengaku banyak mendapatkan pembelajaran dari perjalanan hidup pelaku terorisme, terutama ketika mereka insaf dan memilih jalan perdamaian. Salah satu pelajaran penting yang diperolehnya adalah bahwa agama tidak pernah mengajarkan perbuatan kekerasan. Namun karena salah memahami agama, banyak orang tersesat pada ideologi kekerasan. “Dari situ saya melihat bahwa yang salah bukanlah agamanya, tetapi ideologi dan pelakunya,” ujarnya.

Baca juga Komitmen Mahasiswa Jember untuk Perdamaian

Selain terinspirasi dari pertobatan mantan pelaku, Ananda juga mengaku salut dengan ketabahan korban, terutama ketika mereka tidak ingin membalas kekerasan dengan kekerasan. Dari kisah korban ia mengajak mahasiswa untuk membayangkan betapa berat menjadi korban terorisme. Mereka harus menderita lantaran rasa sakit kehilangan anggota tubuh dan bahkan keluarganya.

“Para korban itu tidak mau membalas dendam, termasuk bagaimana bisa ikhlas menerima musibah itu. Ada yang kehilangan anggota tubuhnya, kehilangan orang yang dia kasihi, namun mereka tidak ada yang membalas dendam,” katanya. [AH]

Baca juga Aktivis Unesa Ajak Mahasiswa Peduli Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....