HomeBeritaHeroisme Dapat Memicu Terorisme

Heroisme Dapat Memicu Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Salah satu faktor pendorong individu bergabung dalam jaringan ekstremisme kekerasan, hingga kemudian melakukan aksi teror, adalah sikap heroisme yang berlebihan.

Pernyataan ini diungkapkan oleh Hasibullah Satrawi, penulis buku La Tay’as: Jangan Menyerah, Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya (2018), dalam diskusi dan bedah buku karyanya yang diikuti oleh puluhan mahasiswa Universitas Brawijaya, Malang, akhir Juli silam. Kegiatan digelar oleh AIDA bekerja sama dengan Eksekutif Mahasiswa Unibraw secara daring.

Baca juga Mewaspadai Propaganda Daring Ekstremis

Menurut Hasib, sapaan akrab Hasibullah, dari pengalamannya bergaul dengan banyak mantan pelaku ekstremisme kekerasan, sikap heroisme memunculkan kebanggaan dalam diri mereka karena merasa sedang berjuang melawan ketidakadilan. Sikap tersebut dipicu oleh keprihatinan dan kepedulian melihat saudaranya yang seagama terzalimi.

“Kepedulian inilah sebagai salah satu contoh heroisme mereka. Mereka mengorbankan hidupnya bertahun-tahun untuk pelatihan militer, mereka lepas dari keluarga. Kalau ditanya itu untuk siapa? Mereka akan jawab itu bukan untuk saya tapi untuk umat, untuk masyarakat,” kata Hasib.

Baca juga Virus Ekstremisme Tak Kenal Sasaran

Sikap heroisme tersebut dibungkus dengan idiom jihad. Oleh sebab itu kelompok ekstremis sering melabeli diri mereka sebagai mujahidin (para pejuang). “Jadi ikhwan-ikhwan ini bukan orang yang kurang akal atau orang gila. Justru mereka  adalah orang yang sempurna, yang dalam keadaan tertentu ingin melakukan sesuatu  terhadap ketidakadilan itu,” tuturnya.

Ketidakadilan yang dimaksudkan terjadi di wilayah-wilayah konflik, baik itu di Timur Tengah maupun di dalam negeri. Realitas tersebut memunculkan kepedulian di kalangan ekstremis sehingga muncul keinginan untuk melakukan perlawanan. Namun karena mereka membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan yang serupa, maka yang terjadi adalah ketidakadilan dan kekerasan baru.

Baca juga Rentan Menjadi Ekstremis

Dalam hemat Hasib, ketidakadilan itu memang benar terjadi. Namun tidak ada penjelasan lebih lanjut apakah ketidakadilan tersebut ada unsur kepentingan politik di baliknya, atau murni unsur agama.

Melalui buku karyanya, Hasib mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bisa mengambil ibroh (pembelajaran) dari kisah-kisah perjalanan mantan pelaku dan korban terorisme. Tidak seharusnya ketidakadilan dibalas dengan ketidakadilan yang lain. “Ketika kekerasan terjadi, maka akan merusak fisik bahkan dunia. Niat baik jika tidak dikaji lebih lanjut, jangan-jangan makin jauh dari tujuan,” ucapnya memungkasi paparan. [LADW]

Baca juga Kekerasan Hanya Menumbuhkan Masalah Baru

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id,...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama,...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus...

Melawan Kemungkaran Tidak dengan Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Blimbingrejo Jepara Hery Huzaery mengajak para ustaz dan santrinya untuk tidak melakukan kekerasan maupun perusakan bila melihat kemungkaran, kedzaliman maupun ketidakadilan. Menurut dia, siapa pun tidak setuju dengan kemungkaran, kedzaliman dan ketidakadilan namun menyikapinya harus sesuai dengan kemampuan yang...

Indonesia: Bukan Negara Agama, Bukan Negara Sekuler

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik IndonesiaArtikel ini dimuat di Kompas.id, 21 Februari 2026Menarik untuk dikaji posisi NKRI. Apakah termasuk negara agama atau negara sekuler, atau mungkinkah disebut sebagai Negara Pancasila? Negara agama ialah suatu negara yang mencantumkan salah satu agama sebagai dasar konstitusi. Sedangkan negara sekuler...

Negara Hadir Mendukung Pesantren

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag menyatakan negara telah hadir untuk mendukung pondok pesantren. “Kita melihat bukti-bukti negara telah hadir di pondok pesantren,” ujar Basnang saat berbincang dengan redaksi di kantornya Jakarta dua pekan lalu.Basnang menjelaskan bukti...

Orientasi Pesantren Terwujudnya Indonesia Harmoni

Aliansi Indonesia Damai- Ke depan setiap pesantren siapa pun pendirinya harus selalu berorientasi pada terwujudnya Indonesia yang harmoni, Indonesia yang damai, Indonesia yang toleran.Pernyataan tersebut ditegaskan Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren (PD Pontren) Kementerian Agama, Dr. H. Basnang Said, M.Ag saat berbincang dengan redaksi di kantornya...

Mungil-mungil Tangguh

Oleh Susi Afitriyani Mungil-mungil tangguh,Kau begitu kuat saat cobaan harus menghantam hidupmu,Kau yang masih begitu mungil, tapi kau mengajariku cara untuk tetap semangat dan tersenyum,Meski tubuhmu terlihat lemah akan tetapi jiwamu begitu tangguh,Haii,,, kau si mungil tangguh yang kelak akan menjadi penggantiku,Aku percaya jiwamu lebih kuat dari diriku,Dan...

Puasa dan Kedermawanan Otentik

Oleh Asyari, Guru Besar Ekonomi, Ketua Pusat Kajian Pengembangan Ekonomi Umat, FEBI UIN BukittinggiArtikel ini sudah terbit di Kompas.id, 17 Februari 2026Kasus bunuh diri YBS (10), siswa kelas IV SD di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, pada 29 Januari 2026 dan sebelumnya, AA (44), seorang...

Arsitektur Pendidikan Tinggi Indonesia

Oleh Badri Munir Sukoco, Guru Besar Manajemen Strategi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis; Founder, Center for Dynamic Capabilities Universitas AirlanggaArtikel ini terbit di Kompas.id, 13 Februari 2026Atensi Presiden Prabowo Subianto pada pembangunan sumber daya manusia Indonesia sangatlah besar, terutama pendidikan tinggi. Belum setahun, Presiden telah melakukan tiga kali...

Tetap Tangguh di Era Bencana

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia dilanda musibah. Banjir, cuaca ekstrem (hujan disertai badai), tanah longsor, kebakaran hutan, abrasi laut, gempa bumi dan pergeseran tanah menimpa masyarakat di sejumlah daerah.Bencana datang silih berganti menghantam beberapa wilayah, menelan korban jiwa, menghancurkan rumah dan infrastruktur yang menimbulkan kerugian materil yang...

Belajar Berkesadaran

Oleh Doni Koesoema A, Pemerhati Pendidikan, Mahasiswa Doktoral Universitas Negeri JakartaArtikel ini terbit di Kompas.id, 06 Februari 2026 Belajar berkesadaran adalah kunci keberhasilan pendidikan berkualitas. Bila belajar diibaratkan sebuah perjalanan, ini adalah langkah pertamanya. Sayangnya, langkah pertama ini sering kali terlewatkan.Transformasi belajar yang lebih fundamental inilah yang dilakukan...

Santri Diingatkan untuk Mempertahankan NKRI

Aliansi Indonesia Damai - Ketua Yayasan Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah KH Saefudin Zuhri mengingatkan santri-santriwatinya untuk tidak menjadi pemberontak maupun teroris. Menurut dia, akidah ahli sunnah wal jamaah melarang menjadi pemberontak dan teroris kepada pemerintah yang sah.“Haram ya jangankan menjadi teroris, memberontak kepada pemerintah yang sah...

Membangun Semangat Perdamaian di Kalangan Santri

Aliansi Indonesia Damai - Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustazah menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Al-Muttaqien Pancasila Sakti Klaten, Jawa Tengah pada Sabtu (31/01/2026). Sebanyak 60 santri...

Menebar Benih Perdamaian di Jepara

Aliansi Indonesia Damai- Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama ustaz Hery Huzaery menyelenggarakan Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh Kehidupan Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Pondok Pesantren Modern Asy-Syifa Muhammadiyah Blimbingrejo Jepara, Jawa Tengah pada Sabtu (17/01/2026). Sebanyak 56 asatidz/asatidzah...